PELAKITA.ID – Ilmu ekonomi sering dipahami sebagai disiplin yang penuh angka, data, grafik, dan model matematis.
Di balik seluruh perangkat teknis tersebut, terdapat fondasi yang jauh lebih dalam: sistem nilai, asumsi, pandangan dunia, serta kerangka metodologis yang membentuk cara kita memahami perilaku manusia, pasar, dan pembangunan.
Untuk memahami ekonomi secara komprehensif, penting untuk mengenali empat fondasi besar ilmu ekonomi: filsafat ekonomi, mazhab ekonomi, pendekatan ekonomi, dan paradigma pembangunan ekonomi.
Keempatnya berinteraksi membentuk bagaimana negara merumuskan kebijakan dan bagaimana para ekonom memandang realitas sosial-ekonomi.
1. Filsafat Ekonomi: Fondasi Nilai dan Asumsi dalam Ilmu Ekonomi
Filsafat ekonomi mempelajari dasar konseptual, etis, dan metodologis yang melandasi teori ekonomi. Pertanyaan yang dibahas tidak sekadar teknis, tetapi fundamental:
-
Apa tujuan kegiatan ekonomi?
-
Bagaimana manusia membuat keputusan?
-
Apakah pasar mampu menciptakan kesejahteraan?
-
Bagaimana etika memengaruhi pilihan ekonomi?
-
Haruskah negara campur tangan?
Tiga Cabang Utama Filsafat Ekonomi
-
Ontologi Ekonomi
Mempelajari hakikat realitas ekonomi. Misalnya, apakah “pasar bebas” benar-benar ada dalam kenyataan atau hanya konstruksi teoretis. -
Epistemologi Ekonomi
Mengkaji bagaimana pengetahuan ekonomi diperoleh. Perdebatan klasik muncul terkait apakah ekonomi harus mengikuti metode positivistik seperti ilmu alam (neoklasik) atau pendekatan interpretatif seperti sosiologi dan antropologi (institusionalis). -
Etika Ekonomi
Mengkaji dimensi moral dalam keputusan ekonomi. Amartya Sen, misalnya, mengkritik asumsi ekonomi neoklasik karena mengabaikan moralitas dan kemampuan manusia (capability).
Tokoh-Tokoh Penting
-
Adam Smith – selain ekonom, ia adalah filsuf moral yang menekankan empati.
-
John Stuart Mill – menyatukan utilitarianisme dengan misi sosial.
-
Karl Marx – melihat ekonomi sebagai struktur kekuasaan dan hubungan produksi.
-
Amartya Sen – mempopulerkan pendekatan capability dalam pembangunan.
-
2. Mazhab Ekonomi: Aliran Pemikiran yang Membentuk Teori dan Kebijakan
Mazhab ekonomi adalah kerangka pemikiran yang berisi asumsi, metode analisis, dan tujuan tertentu. Setiap mazhab memberi cara pandang berbeda tentang bagaimana ekonomi bekerja—mulai dari perilaku manusia, fungsi pasar, hingga peran negara. Perbedaan ini lah yang kemudian memengaruhi bentuk kebijakan ekonomi di berbagai negara.
a. Mazhab Klasik (Adam Smith, David Ricardo)
Prinsip:
-
Pasar bergerak mengikuti mekanisme alamiah yang disebut invisible hand, sehingga dapat mencapai efisiensi tanpa banyak campur tangan.
-
Peran negara idealnya minimal, sebatas hukum, keamanan, dan infrastruktur dasar.
Fokus Teori:
-
Keunggulan komparatif (Ricardo).
-
Kebebasan berdagang.
Dampak Kebijakan:
-
Deregulasi dan liberalisasi perdagangan.
-
Penghapusan tarif atau hambatan impor.
-
Privatisasi sektor publik.
Mazhab klasik menjadi fondasi kapitalisme modern dan sangat berpengaruh pada ekonomi abad ke-19.
b. Mazhab Neoklasik
Prinsip:
-
Manusia dianggap rasional dan selalu memilih keputusan terbaik.
-
Pasar efisien, informasi sempurna, dan akan bergerak menuju keseimbangan.
-
Harga menjadi sinyal utama dalam alokasi sumber daya.
Kritik:
-
Terlalu menyederhanakan perilaku manusia.
-
Mengabaikan ketimpangan akses informasi, kekuasaan, institusi, dan faktor sosial.
-
Tidak mampu menjelaskan krisis ekonomi secara memadai.
Mazhab ini sangat dominan dalam ekonomi modern, terutama dalam analisis mikroekonomi dan kebijakan pasar bebas.
c. Mazhab Keynesian (John Maynard Keynes)
Prinsip:
-
Krisis terjadi ketika permintaan agregat turun, sehingga produksi dan tenaga kerja ikut menurun.
-
Pasar tidak selalu mampu memulihkan diri; karena itu negara wajib hadir.
Kebijakan:
-
Stimulus fiskal (belanja pemerintah ditingkatkan).
-
Subsidi UMKM, proyek infrastruktur, dan bantuan sosial.
-
Intervensi moneter untuk menstabilkan suku bunga dan investasi.
Mazhab Keynesian sangat berpengaruh selama Depresi Besar dan kembali menguat setelah krisis global 2008.
d. Mazhab Institusionalis (Veblen, Douglass North)
Prinsip:
-
Ekonomi tidak berdiri sendiri; ia dipengaruhi budaya, nilai, norma, dan institusi.
-
Perilaku manusia tidak selalu rasional, melainkan dipengaruhi kebiasaan, tradisi, dan struktur kekuasaan.
Aplikasi Modern:
-
Reformasi birokrasi dan tata kelola.
-
Studi ekonomi politik dan pembangunan.
-
Analisis peran kelembagaan dalam pertumbuhan ekonomi.
Mazhab ini menekankan bahwa kemajuan ekonomi sangat bergantung pada kualitas institusi, bukan sekadar modal atau pasar.
e. Mazhab Marxis
Prinsip:
-
Kapitalisme menciptakan ketimpangan, eksploitasi tenaga kerja, dan konsentrasi kekayaan.
-
Perubahan sistem ekonomi terjadi melalui konflik kelas.
Kontribusi Penting:
-
Analisis kritis terhadap kapitalisme.
-
Teori nilai kerja.
-
Kajian tentang relasi produksi dan kekuasaan.
Walau tidak dominan sebagai kebijakan negara modern, pendekatan Marxis tetap berpengaruh dalam studi ketimpangan, politik ekonomi, dan kritik sistem pasar.
f. Behavioral Economics (Kahneman, Thaler)
Prinsip:
-
Manusia tidak rasional secara sistematis.
-
Keputusan ekonomi dipengaruhi emosi, framing, bias, dan heuristik.
Implikasi Kebijakan:
-
Nudge policy untuk meningkatkan layanan publik, seperti:
-
mendorong masyarakat menabung,
-
meningkatkan kepatuhan pajak,
-
memilih makanan sehat,
-
meningkatkan literasi keuangan.
-
Behavioral economics menjembatani ekonomi dengan psikologi dan sangat relevan dalam desain kebijakan modern.
3. Pendekatan Ekonomi: Metode Analisis Fenomena Ekonomi
Untuk memahami gejala ekonomi yang kompleks, para ekonom menggunakan beragam pendekatan analitis. Keempat pendekatan berikut sering dipakai dalam penelitian akademik maupun kebijakan publik:
1) Metode Empiris
Pendekatan ini menggunakan data, statistik, dan ekonometrika untuk menguji hubungan sebab-akibat.
Kegunaan:
-
Mengukur dampak kebijakan.
-
Menguji hipotesis ekonomi dalam dunia nyata.
-
Membuat model prediksi.
Contoh:
-
Efek kenaikan suku bunga terhadap inflasi.
-
Evaluasi BPNT terhadap pengurangan kemiskinan.
-
Analisis pendapatan nelayan sebelum dan sesudah intervensi program.
Tokoh: Tinbergen, Granger, Heckman.
2) Metode Teoretis
Mengembangkan model matematis untuk memahami perilaku ekonomi secara konseptual.
Kegunaan:
-
Menjelaskan hubungan antarvariabel.
-
Membangun dasar teori untuk kebijakan.
Contoh:
-
Hukum permintaan-penawaran.
-
Model pertumbuhan Solow.
-
Game theory untuk strategi bisnis dan negosiasi.
Tokoh: Smith, Keynes, Samuelson, Solow.
3) Metode Historis
Analisis ekonomi melalui perjalanan sejarah, evolusi institusi, dan perubahan sosial jangka panjang.
Kegunaan:
-
Memahami akar persoalan.
-
Menjelaskan perubahan struktural ekonomi.
-
Memberikan konteks kebijakan masa kini.
Contoh:
-
Evolusi koperasi di Indonesia.
-
Dampak krisis 1998 bagi UMKM dan struktur ekonomi nasional.
-
Transformasi dari ekonomi agraris ke industri.
Tokoh: Polanyi, Weber, North.
4) Metode Interdisipliner
Menggabungkan ekonomi dengan ilmu lain seperti psikologi, sosiologi, antropologi, politik, dan ekologi.
Kegunaan:
-
Memahami ekonomi sebagai fenomena sosial dan ekologis.
-
Mengatasi keterbatasan ekonomi murni.
Contoh:
-
Ekonomi perilaku.
-
Ekonomi politik global.
-
Ekonomi lingkungan dan perubahan iklim.
-
Studi modal sosial, gotong royong, dan pemberdayaan masyarakat.
Tokoh: Kahneman, Ostrom, Stiglitz, Sen.
4. Paradigma Pembangunan Ekonomi: Cara Pandang terhadap Kemajuan Suatu Negara
Paradigma pembangunan merupakan kerangka besar yang menentukan arah kebijakan, prioritas sektor, dan ukuran keberhasilan ekonomi. Setiap periode sejarah memiliki paradigma dominan yang berbeda.
a. Paradigma Pertumbuhan Ekonomi (1950–1970)
Fokus:
-
Industrialisasi besar-besaran.
-
Akumulasi modal fisik: pabrik, infrastruktur, teknologi.
-
PDB sebagai ukuran pembangunan.
Tokoh: Rostow (tahap-tahap pembangunan), Harrod-Domar.
Kritik:
-
Tidak memperhatikan pemerataan.
-
Mengabaikan kualitas hidup.
-
Cenderung menempatkan masyarakat sebagai objek, bukan subjek.
b. Paradigma Redistribusi dan Kesejahteraan (1970–1990)
Berkembang saat dunia menyadari bahwa pertumbuhan tidak otomatis menciptakan pemerataan.
Fokus:
-
Pengentasan kemiskinan.
-
Pendidikan dan kesehatan.
-
Pemerataan pendapatan.
-
Perlindungan sosial.
Paradigma ini melahirkan berbagai program bantuan sosial modern.
c. Paradigma Pembangunan Berkelanjutan (1990–sekarang)
Menempatkan manusia, ekonomi, dan lingkungan sebagai satu kesatuan.
Prinsip:
-
People, Planet, Prosperity.
-
Pertumbuhan ekonomi harus menjaga kelestarian lingkungan.
-
Energi bersih, konservasi, dan ekonomi rendah karbon.
Tokoh: Laporan Brundtland, SDGs (PBB).
d. Paradigma Human Development (Amartya Sen)
Paradigma ini melihat pembangunan bukan sekadar ekonomi, tetapi perluasan pilihan dan kemampuan manusia.
Fokus:
-
Kebebasan manusia.
-
Kapabilitas: pendidikan, kesehatan, partisipasi.
-
Mengukur pembangunan melalui Human Development Index (HDI).
Paradigma ini sangat berpengaruh dalam kebijakan sosial dan pembangunan berbasis manusia.
e. Paradigma Ekonomi Hijau dan Sirkular (Abad 21)
Paradigma terbaru yang menjawab tantangan perubahan iklim dan degradasi lingkungan.
Fokus:
-
Energi bersih dan transisi energi.
-
Pengurangan limbah melalui recycle, reuse, reduce.
-
Ekonomi rendah karbon.
-
Model produksi-sirkulasi yang efisien dan minim polusi.
Paradigma ini menjadi dasar ekonomi masa depan, terutama di negara-negara yang menargetkan net zero emission.
-
Penutup
Memahami ekonomi berarti memahami manusia, nilai, dan perubahan sosial. Ekonomi bukan sekadar angka atau model, tetapi refleksi dari cara kita memandang dunia.
Dari Adam Smith hingga Amartya Sen, dari mazhab klasik hingga ekonomi perilaku, dan dari paradigma pertumbuhan hingga pembangunan berkelanjutan—semua memberikan lensa untuk membaca realitas ekonomi modern.
Dengan memahami filsafat ekonomi, mazhab pemikiran, pendekatan analitis, serta paradigma pembangunan, kita dapat melihat bahwa kebijakan ekonomi sesungguhnya adalah cerminan dari nilai, visi, dan arah masa depan yang kita inginkan.
Pemahaman komprehensif ini sangat penting, terutama dalam konteks pembangunan Indonesia yang tengah menghadapi tantangan kemiskinan, transformasi ekonomi, pembangunan pesisir, hingga krisis lingkungan.
