Kabupaten Wajo menorehkan prestasi dengan juara III Paritrana Award 2024 di tingkat provinsi Sulawesi Selatan. Paritrana Award diberikan untuk pengakuan atas kepedulian pemerintah terhadap perlindungan jaminan sosial ketenagakerjaan, terutama pada pekerja rentan dan sektor informal yang sering “luput” dari jaminan negara.
PELAKITA.ID – Sejak dilantik, Bupati Andi Rosman dan Wakil Bupati dr. Baso Rahmanuddin (DBR) telah membawa visi pembangunan berkelanjutan bagi Kabupaten Wajo.
Salah satu tolok ukur nyata dari keberhasilan kepemimpinan mereka adalah sejumlah penghargaan penting yang diraih oleh Pemda Wajo sepanjang tahun 2025.
Penghargaan-penghargaan tersebut tidak hanya menjadi simbol prestise, tetapi juga cerminan kerja keras, komitmen, dan sinergi antara pemerintah daerah dan masyarakat. Artikel ini akan membahas jenis penghargaan yang diterima, maknanya bagi Pemerintah Kabupaten Wajo, serta dampaknya bagi warga daerah.
Penghargaan Utama Sepanjang 2025
Beberapa penghargaan signifikan yang diterima oleh Pemkab Wajo hingga November 2025 antara lain:
Penghargaan Kota / Kabupaten Sehat dari WHO
Salah satu penghargaan paling prestisius datang dari World Health Organization (WHO), melalui program Jaringan Kota Sehat Kawasan Asia Tenggara (SEAR-HCN).
Wajo berhasil meraih akreditasi kabupaten sehat, mengakui upaya pemerintah daerah dalam membangun lingkungan hidup yang kondusif bagi kesehatan masyarakat.
Penghargaan dari Kementerian Agama (Kemenag RI)
Sebagai tuan rumah Musabaqah Qiraatil Kutub (MQK) Nasional dan Internasional tahun 2025, Pemerintah Kabupaten Wajo mendapat apresiasi dari Kemenag. Penghargaan ini menegaskan bahwa Wajo mampu menggelar acara keagamaan berskala besar dengan profesionalisme, sekaligus menjaga nilai-nilai keilmuan pesantren yang menjadi ciri khas lokal.
Penghargaan dari BKKBN / Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga
Wajo mendapatkan penghargaan dari Kementerian Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN) atas komitmen mereka melaksanakan program Bangga Kencana (Pembangunan Keluarga, Kependudukan, dan Keluarga Berencana).
Bupati Andi Rosman dan Wabup Baso Rahmanuddin secara khusus diapresiasi karena dukungan aktif mereka dalam program-program KKBPK di tingkat lokal.
Paritrana Award
Kabupaten Wajo menorehkan prestasi dengan juara III Paritrana Award 2024 di tingkat provinsi Sulawesi Selatan. Paritrana Award diberikan untuk pengakuan atas kepedulian pemerintah terhadap perlindungan jaminan sosial ketenagakerjaan, terutama pada pekerja rentan dan sektor informal yang sering “luput” dari jaminan negara.
Makna Penghargaan bagi Pemerintah Daerah
Penghargaan-penghargaan tersebut membawa makna strategis dan simbolis yang sangat penting bagi Pemkab Wajo di era kepemimpinan Rosman–DBR.
1. Legitimasi untuk Visi Pembangunan Berbasis Nilai dan Kesejahteraan
Penghargaan dari WHO (Kabupaten Sehat) dan Paritrana mencerminkan bahwa pembangunan Wajo bukan hanya soal infrastruktur fisik atau pertumbuhan ekonomi, tetapi juga tentang kualitas hidup masyarakat. Pemerintah daerah mendapat legitimasi yang kuat bahwa kebijakan kesehatan, perlindungan sosial, dan kesejahteraan pekerja benar-benar berjalan sesuai rencana, dan diakui secara nasional / internasional.
2. Penguatan Citra Keagamaan dan Pendidikan Lokal
Penghargaan dari Kementerian Agama saat MQK 2025 mempertegas posisi Wajo sebagai pusat keilmuan pesantren dan Islam tradisional. Ini bukan sekadar kegiatan religius, melainkan strategi diplomasi soft power lokal: melalui kegiatan keagamaan, Wajo menguatkan branding sebagai daerah dengan nilai pendidikan Islam yang tinggi, sekaligus membuka jaringan nasional dan internasional.
3. Buktikan Komitmen Sosial dan Partisipasi Pemerintah
Penghargaan BKKBN adalah tanda bahwa Rosman–DBR sungguh serius dalam menyelenggarakan program kependudukan, keluarga, dan pemberdayaan perempuan. Ini menunjukkan bahwa pemerintah kabupaten mendukung pembangunan sosial yang inklusif, dan tidak hanya fokus pada pembangunan fisik.
4. Efek Motivasi dan Legitimasi untuk Stakeholder
Pencapaian penghargaan memberikan semangat kepada birokrasi, ASN, dan masyarakat bahwa kerja keras mereka diakui. Bagi pemerintah daerah, ini juga meningkatkan kredibilitas ketika bermitra dengan pemerintah pusat, donor internasional, LSM, atau lembaga pendidikan, karena Wajo diakui sebagai daerah yang berkinerja baik dalam aspek sosial.
Dampak Positif untuk Masyarakat Wajo
Penghargaan bukan hanya simbol bagi pemerintah, tetapi memiliki implikasi nyata dalam kehidupan warga.
-
Peningkatan Layanan Publik
Akreditasi Kabupaten Sehat mendorong peningkatan layanan kesehatan, sanitasi, dan perencanaan lingkungan sehat di tingkat desa / kecamatan. Kesehatan masyarakat meningkat, risiko penyakit menular menurun, dan warga mendapatkan akses lebih baik ke fasilitas kesehatan. -
Peluang Ekonomi Lokal
Reputasi sebagai daerah sehat dan progresif menarik minat investor, LSM, dan mitra pembangunan lain. Kolaborasi lokal bisa tumbuh (misalnya program UKM berbasis kesehatan atau pariwisata sehat), membuka peluang usaha baru bagi warga. -
Pemberdayaan Keluarga dan Pekerja Rentan
Penghargaan BKKBN dan Paritrana meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap program-program jaminan sosial dan keluarga. Perempuan, pekerja informal, dan kelompok rentan bisa lebih mendapatkan akses pelatihan, bantuan keluarga, dan perlindungan jaminan kerja. -
Penguatan Identitas Budaya dan Keagamaan
Melalui MQK nasional dan internasional, serta penghargaan dari Kemenag, warga Wajo merasa nasional dan global identitas keagamaan dan budaya mereka dihargai. Ini menumbuhkan rasa bangga lokal dan memperkuat kohesi sosial dalam masyarakat.
Tantangan dan Catatan untuk Berkelanjutan
Meski pengakuan melalui penghargaan adalah prestasi besar, pemerintah daerah harus menjaga momentum tersebut agar dampaknya berkelanjutan:
-
Implementasi program: Penghargaan bukan akhir, tetapi awal. Pemda perlu memastikan program kesehatan, jaminan sosial, dan pemberdayaan keluarga dijalankan berkelanjutan dan menyentuh warga terdampak.
-
Monitoring dan evaluasi: Jangan hanya fokus meraih penghargaan; harus ada mekanisme evaluasi dampak nyata di berbagai kecamatan, terutama di daerah terpencil.
-
Kolaborasi multi-pihak: Untuk terus meningkatkan kualitas hidup, Wajo harus memperkuat kemitraan dengan pemerintah provinsi, pusat, LSM, dan sektor swasta.
-
Pemberdayaan masyarakat: Perlu meningkatkan kapasitas warga lokal agar tidak hanya menjadi penerima program, tetapi juga pelaku aktif inovasi sosial dan ekonomi.
Pembaca sekalian, penghargaan yang diraih Kabupaten Wajo di bawah kepemimpinan Bupati Andi Rosman dan Wakil Bupati dr. Baso Rahmanuddin adalah bukti intelektual dan moral dari arah pembangunan yang holistik: menggabungkan kesehatan masyarakat, keagamaan, pemberdayaan keluarga, dan perlindungan sosial.
Penghargaan tersebut memperkuat legitimasi visi Rosman–DBR, memberikan motivasi bagi ASN dan masyarakat, serta membuka pintu bagi investasi sosial-ekonomi
Namun yang lebih penting, dampak penghargaan harus dirasakan nyata oleh warga Wajo — dalam bentuk akses kesehatan yang lebih baik, pemberdayaan keluarga yang maksimal, dan peningkatan kesejahteraan jangka panjang.
Dengan kerja berkelanjutan dan kolaborasi lintas sektor, penghargaan akan menjadi pijakan bukan hanya untuk kebanggaan simbolis, tetapi untuk transformasi sosial nyata yang memperkuat Wajo sebagai kabupaten yang sehat, sejahtera, dan berdaya saing.
