Palopo, Peringkat 2 IPM se-Sulsel dan Kontribusi Pendidikan Tinggi

  • Whatsapp
Istana Datu Luwu di Kota Palopo (dok: Kompas.Com)
  • Orang dengan pendidikan yang baik cenderung memiliki pekerjaan yang lebih stabil, lebih produktif, dan berpenghasilan lebih tinggi.
  • Menurut BPS Kota Palopo, IPM Palopo tahun 2023 berada di angka IPM 2023: 80,77 (kategori tinggi). Tren IPM dari tahun ke tahun menunjukkan peningkatan stabil. Ini menandakan adanya kemajuan di tiga pilar penting pendidikan, kesehatan, dan standar hidup.
  • Investasi pada kesehatan, perlindungan sosial, dan lingkungan hidup sama pentingnya dengan kampus dan universitas yang modern.

PELAKITA.ID – Kota Palopo di Sulawesi Selatan sering dipersepsikan sebagai kota kecil dengan jumlah penduduk yang tidak besar dan wilayah administrasi yang sederhana namun selalu masuk 5 besar daerah otonom dengan kinerja indeks pembangunan manusia terbaik di Sulawesi Selatan.

Data BPS terbaru menempatkan Kota Palopo masuk lima besar atau kedua setelah Kota Makassar terkait Indeks Pembangunan Manusianya, 81,74 atau beda 4 poin di bawah Makassar dan selisih 0.24 dengan Parepare di peringkat 3.

Ada klaim bahwa itu berkorelasi dengan dinamika pendidikan yang unik: beredar klaim bahwa di kota ini berdiri 17 perguruan tinggi, termasuk 7 universitas.

Bagi sebuah kota kecil, angka ini tentu mencuri perhatian. Tetapi pertanyaan pentingnya: benarkah jumlahnya sebanyak itu, dan apakah keberadaan banyak kampus berpengaruh nyata terhadap kualitas sumber daya manusia (SDM) dan IPM Palopo?

Artikel ini mencoba menelusuri fakta, menghubungkan data, dan menggali inspirasi tentang bagaimana pendidikan tinggi dapat (atau belum dapat) menjadi motor pembangunan manusia di sebuah kota kecil yang sedang bergerak maju.

Ilustrasi IPM di Sulsel

Apakah Palopo Memang “Gudang Kampus”? Menelusuri Fakta di Lapangan

Data dari berbagai sumber memang menunjukkan bahwa Palopo memang mempunyai banyak lembaga pendidikan tinggi. Di dokumen Kota Palopo Dalam Angka 2015, tercatat sejumlah universitas, sekolah tinggi, dan akademi — di antaranya Universitas Andi Djemma, Universitas Cokroaminoto Palopo, IAIN/UIN Palopo hingga akademi kesehatan dan sekolah tinggi vokasi

UniRank, portal pemeringkatan universitas internasional, mencatat tiga universitas yang terverifikasi Universitas Cokroaminoto Palopo, Universitas Muhammadiyah Palopo dan Universitas Andi Djemma

Sementara repositori akademik IAIN Palopo menyebut beberapa kampus aktif lainnya seperti Universitas Mega Buana, UNCP Palopo, dan sejumlah sekolah tinggi kesehatan dan ilmu sosial.

Ada pula sumber komersial yang mengklaim terdapat 30 universitas di Palopo, tetapi data ini diragukan karena berasal dari basis “lead generation” dan bukan data resmi akademik.

Apa kesimpulannya?

Benar bahwa Palopo memiliki banyak lembaga pendidikan tinggi — lebih banyak dari rata-rata kota seukurannya. Namun angka “17 perguruan tinggi” dan “7 universitas” belum dapat dibuktikan secara solid dari sumber resmi. Jumlah perguruan tinggi bisa mendekati itu jika memasukkan sekolah tinggi, akademi, dan institusi kejuruan, tetapi jumlah universitas tampaknya jauh lebih sedikit.

IPM Palopo: Tinggi, Tapi Masih Menyisakan Tantangan SDM

Menurut BPS Kota Palopo, IPM Palopo tahun 2023 berada di angka IPM 2023: 80,77 (kategori tinggi). Tren IPM dari tahun ke tahun menunjukkan peningkatan stabil. Ini menandakan adanya kemajuan di tiga pilar penting pendidikan, kesehatan, dan standar hidup.

Namun, dokumen RPJPD Kota Palopo mengingatkan bahwa meskipun IPM tinggi, daya saing SDM Palopo masih dianggap “relatif lemah” jika disandingkan dengan wilayah yang memiliki infrastruktur ekonomi dan industri lebih kuat.

Di sisi lain, laporan Bappeda Palopo menyebut Pengangguran masih sekitar 11%, kemiskinan absolut sekitar 12,14% dan daya beli masyarakat masih rendah. Artinya, pendidikan meningkat, tetapi kesempatan ekonomi belum tumbuh seimbang untuk menampung lulusan-lulusan baru.

Apakah Banyak Kampus Berarti SDM Lebih Berkualitas?

Jawabannya: tidak otomatis. Tetapi berpotensi.

Akses Pendidikan Lebih Baik = Modal SDM Lebih Kuat. Banyaknya kampus di Palopo membuka pintu bagi lebih banyak warga untuk mengenyam pendidikan tinggi tanpa harus merantau. Ini peluang besar bagi kota kecil: akses pendidikan lebih dekat, lebih murah, dan lebih inklusif. Namun Kualitas SDM Tidak Ditentukan Jumlah Kampus Saja

Ada faktor yang lebih menentukan kualitas kurikulum, akreditasi kampus, rasio dosen–mahasiswa, relevansi ke pasar kerja, dan kemampuan lembaga pendidikan menghasilkan riset atau inovasi.
Jika kualitas pendidikan stagnan, banyaknya kampus hanya akan mencetak lulusan, bukan talenta unggul.

Dampaknya ke IPM: Ada, Tapi Tidak Menyeluruh

IPM Palopo yang tinggi menunjukkan bahwa pendidikan dan kesehatan berada pada jalur yang benar. Namun lemahnya ekonomi lokal—pengangguran, produktivitas rendah, daya beli terbatas—membuat efek positif pendidikan tinggi belum sepenuhnya terasa dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Dengan kata lain, Banyak kampus meningkatkan angka pendidikan, tetapi belum otomatis meningkatkan kapasitas ekonomi.

Apa Pelajaran Penting dari Palopo?

Kisah Palopo memberi kita wawasan menarik tentang pembangunan manusia di kota-kota kecil.

Akses ke Perguruan Tinggi itu sangat penting tetapi bukan jaminan utama. Yang pasti, pendidikan tinggi harus berkualitas dan relevan. Kota kecil seperti Palopo dapat tumbuh pesat bila kampusnya menjadi pusat pembelajaran yang modern, terhubung dengan industri, dan menghasilkan talenta yang mampu bersaing di tingkat nasional.

Ekosistem pendidikan hanya akan kuat jika kampus melahirkan keterampilan yang dibutuhkan industri, Pemda membuka peluang ekonomi, dan dunia usaha menciptakan pasar kerja bagi talenta lokal. Tanpa kolaborasi, lulusan hanya menambah angka pengangguran terdidik.

Pendidikan Perlu Didampingi Penguatan Ekonomi Lokal

Dengan mendorong wirausaha muda, industri kreatif, UMKM digital, dan ekonomi maritim, Palopo dapat memanfaatkan potensi SDMnya agar tidak “tersandera” oleh ketiadaan lapangan kerja.

Kesehatan dan Kesejahteraan Tetap Pilar Penting. IPM bukan hanya soal sekolah. Kota dengan manusia terdidik tapi tidak sehat atau tidak sejahtera tetap akan tertinggal.

Investasi pada kesehatan, perlindungan sosial, dan lingkungan hidup sama pentingnya dengan kampus dan universitas yang modern.

Klaim tentang banyaknya perguruan tinggi di Palopo memang perlu dilihat dengan kacamata kritis. Jumlah kampus banyak, tetapi tidak sebanyak yang diklaim. Namun yang jelas pendidikan tinggi menjadi modal besar untuk kemajuan Palopo.

IPM Palopo tinggi, tetapi belum merata dampaknya pada kesejahteraan, SDM Palopo punya potensi besar, tetapi membutuhkan ekosistem ekonomi yang kuat untuk berkembang.

Tapi apapun itu, Palopo telah menunjukkan bahwa kota kecil bisa bermimpi besar. Banyaknya lembaga pendidikan tinggi adalah awal yang baik.

Tantangannya kini adalah memastikan bahwa pendidikan itu benar-benar menjadi mesin pembangunan manusia — bukan hanya angka dalam daftar kampus, tetapi pendorong perubahan nyata bagi masyarakat.

Pembaca sekalian, jelas sekali bahwa pendidikn dapat memperluas kapabilitas manusia. Menurut Amrtya Sen, penerima Noel, HDI secara langsung mengukur angka harapan lama sekolah dan rata-rata lama sekolah. Semakin baik kualitas pendidikan, semakin tinggi capaian belajar masyarakat.

Hal ini meningkatkan skor HDI karena pengetahuan dianggap sebagai fondasi utama pembangunan manusia—membuat orang mampu mengambil keputusan, berpartisipasi dalam masyarakat, dan meraih peluang hidup yang lebih baik.

Yang kedua,  Orang dengan pendidikan yang baik cenderung memiliki pekerjaan yang lebih stabil, lebih produktif, dan berpenghasilan lebih tinggi.

Pendapatan yang meningkat memperkuat komponen Gross National Income (GNI) per kapita dalam HDI. Pendidikan adalah salah satu pendorong terbesar produktivitas tenaga kerja, kewirausahaan, dan inovasi.

Ketiga, pendidikan berkualitas meningkatkan kesadaran kesehatan, perilaku hidup bersih, kemampuan mengakses layanan kesehatan, dan pengetahuan dalam merawat anak. Semua ini berkontribusi pada peningkatan angka harapan hidup—komponen utama HDI. Masyarakat yang berpendidikan biasanya memiliki angka kematian lebih rendah dan kualitas hidup yang lebih baik.

Jadi, Palopo bisa sebaik itu di IPM karena ada dampak kualitas pendidikannya yang memang lebih baik dari 22 kabupaten-kota lain di Sulawesi Selatan. Setuju?

__
Sorowako, 16 November 2025