Manusia sebagai Meaning-Making Being: Menafsir Kembali Makna Khalifah

  • Whatsapp
Muliadi Saleh, Esais Reflektif, Direktur Eksekutif Lembaga SPASIAL

Untuk apa aku hadir? Ke mana aku akan kembali? Sementara agama telah lama memberi arah bagi pertanyaan-pertanyaan itu: kita berasal dari ciptaan terbaik, dihadirkan sebagai penjaga bumi, dan akan kembali mempertanggungjawabkan setiap langkah.

Muliadi Saleh
Esais Reflektif, Direktur Eksekutif Lembaga SPASIAL

PELAKITA.ID – Manusia selalu berdiri di antara dua kesadaran yang tak terbantahkan: bahwa hidup hanyalah titipan, dan bahwa kematian adalah kepastian.

Di sanalah getaran eksistensi bermula. Kita lahir tanpa meminta, dan kita kembali tanpa memilih. Segalanya tunduk pada satu ketetapan: milik-Nya kita hidup dan kepada-Nya kita pulang.

Namun justru dalam keterbatasan itulah keluhuran manusia berakar. Kitab suci menamakan manusia khalifah, sebuah mandat agung yang bukan sekadar gelar spiritual, tetapi juga posisi kosmologis dalam jagad raya. Ilmu pengetahuan modern pun kerap bertemu pada titik ini: manusia tak mungkin hidup sendirian, tak boleh merasa paling berkuasa, dan tidak bisa berjalan tanpa moral sebagai kompas.

Antropologi menyebut manusia sebagai meaning-making being: makhluk pencari makna yang selalu bertanya, dari mana aku berasal?

Untuk apa aku hadir? Ke mana aku akan kembali? Sementara agama telah lama memberi arah bagi pertanyaan-pertanyaan itu: kita berasal dari ciptaan terbaik, dihadirkan sebagai penjaga bumi, dan akan kembali mempertanggungjawabkan setiap langkah. Di sini ilmu dan iman saling merangkul—keduanya menegaskan batas sekaligus tujuan hidup.

Sebagai khalifah, manusia memikul tiga hubungan mendasar yang menentukan keseimbangan hidup.

1. Hubungan dengan Allah

Inilah pusat gravitasi spiritual, tempat jiwa kembali menata arah ketika dunia terasa sempit. Psikologi modern menyebutnya inner locus of meaning—pusat kekuatan batin yang bersandar pada sesuatu yang melampaui diri. Wahyu menamainya ibadah: penyerahan hati, kesadaran, dan ketundukan kepada Yang Maha Mengatur.

2. Hubungan dengan Sesama Manusia

Sejak awal peradaban, manusia bertahan karena kemampuan bekerja sama. Bahasa, hukum, seni, teknologi—semuanya lahir dari kebersamaan. Nilai adab, empati, keadilan, dan kejujuran yang diajarkan kitab suci ternyata sejalan dengan temuan ilmu sosial tentang kohesi sosial. Tanpa akhlak, tak ada peradaban yang bertahan.

3. Hubungan dengan Alam Semesta

Inilah relasi yang kini paling rapuh. Hutan ditebang tanpa bijaksana, laut dijejali sampah, udara dipenuhi jejak keserakahan. Padahal alam adalah ayat kauniyyah—tanda-tanda kebesaran Tuhan yang ditulis dalam tanah, daun, angin, dan peredaran bintang. Ekologi modern menegaskan pesan itu: bumi bukan warisan leluhur, tetapi pinjaman bagi generasi mendatang. Seorang khalifah sejati menjaga, bukan merusak.

Jika tiga relasi ini seimbang, manusia menemukan makna hidupnya. Tetapi ketika salah satunya diabaikan, kehidupan menjadi pincang. Teknologi tanpa spiritualitas melahirkan kehampaan. Kemajuan ekonomi tanpa etika menghadirkan ketimpangan. Eksploitasi alam tanpa rasa syukur mengundang bencana.

Di sinilah mandat kekhalifahan diuji—bukan pada seberapa besar kekuasaan, tetapi seberapa bijak seseorang memperlakukan kehidupan.

Pada akhirnya, kesadaran akan kematian bukanlah ancaman, melainkan penunjuk arah. Semua ilmu yang dikumpulkan manusia pada puncaknya bermuara pada kalimat sederhana: bahwa kita adalah makhluk yang akan kembali. Kematian bukan akhir, tetapi pintu menuju pertemuan yang telah dijanjikan.

Ketika manusia menjaga hubungan dengan Tuhan, dengan sesama, dan dengan alam, perjalanan hidup yang singkat ini menjadi terang. Hidup tidak lagi sekadar deretan pencapaian kosong, tetapi ladang amal yang menyambut kita di akhirat.

Begitulah hidup: perjalanan sementara menuju kekekalan. Kita melangkah bukan untuk mengabadikan diri di bumi, tetapi untuk memperhalus diri agar layak kembali kepada-Nya.

Sebab ujung segala langkah adalah pertemuan—dan setiap jiwa, cepat atau lambat, akan berdiri di hadapan Sang Pemilik Kehidupan yang pertama kali menitipkannya.

Editor: Denun