Hasilnya, 85% peserta mampu mengidentifikasi serta menjelaskan situasi yang termasuk atau tidak termasuk pelecehan seksual, dan berpartisipasi aktif dalam sosialisasi.
PELAKITA.ID – Untuk memperkuat pemahaman dan meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap isu perlindungan diri serta pencegahan pelecehan seksual pada penyandang disabilitas netra, mahasiswa PKM Universitas Hasanuddin melaksanakan kegiatan tahap VI Inclusive Awareness Campaign.
Kegiatan berlangsung pada Minggu, 21 September 2025, pukul 07.00–11.00 WITA di area Car Free Day (CFD) Universitas Hasanuddin, Makassar.
Tim PKM bidang Pengabdian kepada Masyarakat ini terdiri atas Dosen Pendamping, Dr. Indra Fajarwati Ibnu, SKM., MA., serta lima mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat.
Mereka adalah Andi Magfirah Ramadhani Asfar (Epidemiologi) selaku Ketua Tim, bersama empat anggota: Nasywa Salsabila Nasaruddin (Keselamatan dan Kesehatan Kerja), Desinta Rahmawati (Epidemiologi), SQA Dinda Chairunnisa (Epidemiologi), dan Indri Sri Handayani (Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku).
Program ini mendukung upaya pencegahan kekerasan seksual bagi siswa tunanetra.
Peserta kegiatan adalah siswa SLB-A Yapti Makassar sebagai mitra program, didampingi tim PKM dan para relawan.
Tujuan kegiatan adalah melatih keberanian siswa untuk terlibat aktif dalam sosialisasi langsung kepada masyarakat sekaligus meningkatkan kesadaran publik mengenai tanda-tanda dan pencegahan pelecehan seksual.
Bentuk kegiatan meliputi pembagian leaflet dan stiker edukatif, diskusi singkat antara siswa tunanetra dan masyarakat, serta penyampaian pesan kampanye dengan komunikasi verbal yang sederhana namun tegas.
Untuk memastikan kenyamanan, setiap siswa didampingi seorang relawan yang membantu mobilitas selama kegiatan. Tim PKM mengarahkan siswa ke titik-titik interaksi dengan masyarakat, di mana mereka melakukan sosialisasi langsung. Antusiasme terlihat baik dari siswa maupun masyarakat yang menyambut kehadiran mereka.
Indikator keberhasilan kegiatan ini adalah keberanian siswa tunanetra menyampaikan pesan kampanye minimal kepada dua kelompok masyarakat, keberhasilan berinteraksi secara langsung, serta adanya penerimaan positif dari masyarakat. Evaluasi dilakukan melalui observasi fasilitator, dokumentasi, dan catatan keterlibatan siswa.
Hasilnya, 85% peserta mampu mengidentifikasi serta menjelaskan situasi yang termasuk atau tidak termasuk pelecehan seksual, dan berpartisipasi aktif dalam sosialisasi.
Temuan ini menunjukkan adanya peningkatan keberanian, keterampilan komunikasi asertif, dan kepedulian siswa tunanetra terhadap isu perlindungan diri, sekaligus memberi dampak positif bagi masyarakat umum.
Dengan demikian, tahap VI dinilai berhasil mencapai indikator yang ditetapkan, yakni meningkatkan pemahaman publik sekaligus menumbuhkan keberanian siswa tunanetra menyuarakan isu pencegahan pelecehan seksual melalui kampanye inklusif di ruang publik.
Penulis: Andi Magfirah Ramadhani Asfar
