PELAKITA.ID – Menulis bukan semata keterampilan teknis. Ia adalah jalan perenungan, laku batin, bahkan spiritualitas. Kata-kata yang lahir di atas kertas sesungguhnya adalah cermin dari apa yang bersemayam dalam diri penulisnya.
Bila jiwa gaduh, tulisan pun riuh tanpa arah; bila pikiran kusut, gagasan datang setengah matang. Namun bila hati teduh dan pikiran jernih, setiap kata menjelma aliran bening yang mampu menyegarkan siapa pun yang membacanya.
Seorang sufi besar, Jalaluddin Rumi, pernah berujar: “Di dalam keheningan, jiwa menemukan cahaya; dan dari cahaya itu lahir kata-kata.”
Rumi mengingatkan kita bahwa ketenangan adalah pintu bagi kelahiran ide. Tanpa sunyi, kita hanya menjadi gema kebisingan sekitar, bukan pencipta makna.
Menulis juga menuntut kita untuk menstrukturkan pikiran. Ibarat seorang arsitek, penulis harus membangun pondasi sebelum mendirikan bangunan.
Kata-kata adalah bata, kalimat adalah dinding, sementara logika adalah kerangka. Tanpa kerangka yang rapi, bangunan kata akan runtuh sebelum sempat dihuni.
Dalam filsafat Timur ada pepatah: “Air yang keruh tak bisa memantulkan wajah.” Begitu pula pikiran yang keruh tak akan mampu memantulkan gagasan jernih.
Maka, menulis sejatinya adalah latihan membersihkan pikiran, menata hati, dan menghadirkan keteduhan. Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menegaskan bahwa ilmu tak mungkin tertangkap oleh hati yang sibuk dengan urusan duniawi. Hati yang resah adalah cermin retak: ia menerima cahaya, tapi tak mampu memantulkannya utuh.
Penulis sejati adalah mereka yang menata hatinya sebagaimana ia menata kalimat. Ide sebenarnya tidak pernah langka.
Ia hadir dalam percakapan sehari-hari, dalam debur ombak, bahkan dalam desir angin yang menyentuh wajah. Yang sering kali langka adalah kemampuan untuk menangkapnya. Inilah yang tak biasa itu. Tidak semua orang bisa melakukannya.
Seperti hujan deras yang sia-sia bila tanah kering tak menyerap, begitu pula gagasan besar akan berlalu jika pikiran tak siap menampungnya.
Karena itu, menulis adalah ibadah dalam bentuk lain: ia mengajarkan kita sabar, hening, dan tertata. Kita belajar bahwa kekacauan hanya bisa diatasi dengan keteraturan. Kita mengerti bahwa kegelapan bisa diusir dengan cahaya. Dan kita menyadari bahwa kata-kata yang berdaya tidak lahir dari riuh rendah, melainkan dari kesunyian yang sarat makna.
Seorang filsuf Yunani, Marcus Aurelius, pernah berpesan: “Ketenangan batin adalah benteng yang tak bisa ditembus.” Dari benteng itulah lahir keberanian untuk menulis dengan jujur, bening, dan menyentuh.
Maka sebelum menulis, belajarlah berdiam. Tenangkan pikiran, jernihkan hati, lalu biarkan kata-kata lahir dari kedalaman sunyi.
Sebab hanya dari pikiran yang tertata lahir tulisan yang penuh makna. Dan hanya dari hati yang tenang mengalir gagasan yang sanggup mengubah dunia.
