PELAKITA.ID – Sejarah selalu punya cara untuk mengadili manusia. Waktu memang kadang terasa lambat, tetapi pasti. Kejahatan, betapapun kuatnya, hanyalah bayangan yang congkak di bawah sinar matahari: panjang, besar, dan menakutkan. Namun, ketika senja tiba, bayangan itu perlahan menyusut, memudar, lalu hilang ditelan malam.
Begitulah hukum sejarah: kejahatan hanya singgah sementara, sementara kebenaran adalah cahaya abadi yang menolak padam.
Sejarah menulis dengan tinta kebenaran: setiap pengkhianat bangsa akan jatuh dalam aib. Kekuasaan yang dipakai untuk menindas, harta yang digenggam dengan culas, dan nama yang diagungkan dengan dusta, pada akhirnya akan runtuh. Seperti benteng pasir dihantam ombak, apa pun yang dibangun di atas kebohongan pasti hancur tanpa sisa.
Al-Qur’an telah menegaskan: “Dan katakanlah, kebenaran telah datang dan yang batil telah lenyap. Sesungguhnya yang batil itu pasti lenyap.” (QS. Al-Isra: 81). Ayat ini bukan sekadar janji, melainkan hukum kehidupan. Betapapun liciknya tipu daya, kebenaran akan selalu menemukan jalannya.
Para nabi memberi teladan. Musa berhadapan dengan Fir’aun yang pongah, tetapi akhirnya ia tenggelam di Laut Merah. Ibrahim menghadapi Namrud yang congkak, tetapi api yang membara justru menjadi dingin.
Muhammad SAW ditindas Quraisy, namun akhirnya cahaya Islam menyingkirkan berhala dan menegakkan tauhid. Jejak sejarah itu jelas: kejahatan selalu runtuh, kebenaran selalu tegak.
Rasulullah SAW bersabda: “Kejahatan akan runtuh, dan kebaikan akan terus menerus muncul hingga hari kiamat.” (HR. Ahmad). Sebuah pesan sederhana namun dalam: jangan pernah ragu, kejahatan hanya sementara, kebenaranlah yang abadi.
Namun sering kali kita gelisah. Kita melihat kejahatan berjalan angkuh, kezaliman berulang, keadilan seolah tidur. Kita bertanya: mengapa kebenaran begitu lama datang?
Mengapa pelaku keburukan tampak bebas bersandiwara? Di sinilah kesabaran diuji. Kebenaran tidak tergesa-gesa; ia hadir tepat pada waktunya, sebagaimana fajar selalu menepati janji setelah malam yang gelap.
Mahatma Gandhi pernah berkata: “Saat kebenaran menghadapi kejahatan, kebenaran mungkin dikalahkan untuk sementara, tetapi pada akhirnya ia menang.” Kata-kata ini adalah doa yang meneguhkan hati: segala kezaliman hanyalah lakon sementara di panggung dunia.
Bangsa Indonesia pun menyaksikan hal itu. Orde Lama runtuh oleh bobroknya sistem dan gejolak rakyat. Orde Baru yang tampak kokoh akhirnya roboh dihantam gelombang Reformasi 1998. Presiden yang begitu kuat terguling oleh suara rakyat yang menuntut keadilan. Sejarah mencatat: kekuasaan yang dibangun di atas penindasan dan korupsi tidak pernah kekal.
Kasus-kasus korupsi juga menjadi pelajaran. Nama-nama yang dulu diagungkan karena jabatan, kini tercatat dengan tinta hitam. Dari BLBI, Century, hingga e-KTP, kita menyaksikan bagaimana pelaku akhirnya terseret. Hukum kadang terasa lambat dan timpang, namun tetap saja kebenaran menemukan jalannya.
Tugas kita bukan hanya menunggu tumbangnya kejahatan, melainkan menjaga bara kebenaran agar tetap menyala. Menanam kejujuran di ladang pendidikan, mengalirkan moralitas di rumah tangga, memupuk etika di ruang publik, hingga tumbuh pohon besar bernama kebenaran yang menaungi bangsa.
Sejarah dunia membuktikan: Uni Soviet runtuh oleh keserakahan elitnya.
Rezim tirani tumbang karena menindas rakyat. Bahkan di negeri ini, kekuasaan yang dibangun di atas kezaliman selalu tak bertahan lama. Ini bukan kebetulan, melainkan hukum alam: ad-dhulmu laa yaduum—kezaliman tak akan pernah kekal.
Kejahatan memang tampak gagah, tetapi sejatinya rapuh. Seperti pohon kering yang berdiri tinggi, cukup angin badai untuk merobohkannya. Kebenaran mungkin tampak kecil, tetapi ia adalah benih yang bila dirawat akan tumbuh menjadi hutan kehidupan.
Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah menangguhkan (siksaan) bagi orang zalim, hingga apabila Allah menyiksanya, Dia tidak akan melepaskannya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadis ini mengingatkan: jangan terpesona dengan keperkasaan sementara para pelaku kejahatan, sebab Allah telah menyiapkan waktunya.
Bangsa ini pun, cepat atau lambat, akan bangkit kembali. Dari luka yang ditorehkan para pengkhianat, dari keletihan rakyat yang ditindas, dari panjangnya kesumat sejarah. Ia akan berdiri, membersihkan dirinya dari kotoran kejahatan, lalu melanjutkan perjalanan menuju kejayaan yang tertunda.
Bayangan bisa menutupi cahaya, tetapi matahari tidak pernah kalah. Demikian pula, kebenaran bisa terhijab oleh dusta, tetapi ia tak akan mati. Karena sejarah adalah pena Tuhan, yang menulis dengan tinta kebenaran: bahwa kejahatan pasti tumbang, dan kebenaran akan selalu menang.
***
