“Riolo denamaressa jama-jamang’e ndi, apana engka ompi ambo anakku. De’na pada makukue, sipongenna na mate ambo anakku, maressa ni jama-jamang’e ndi, dena gaga bantingki mappatuju.”
PELAKITA.ID – Ada banyak inspirasi jika kita bersua atau mengobservasi kawasan pesisir di Sulawesi Selatan, bisa bersua pelaku usaha perikanan hingga membaca daya tahan mereka.
Salah satunya seperti ketika penulis bersua Ibu Mahira sekitar tiga tahun lalu, dalam sebuah diskusi kegiatan Study Climate Change VRA & KAP Among Small-Scale Shrimp Producers In Pinrang oleh Oxfam di Pinrang, Sulawesi Selatan.
Ucapan itu menggambarkan betapa hidupnya berubah setelah sang suami meninggal. Dulu, pekerjaan di tambak terasa lebih ringan karena ada yang membantu.
Kini, sebagai orang tua tunggal, ia memikul seluruh beban ekonomi keluarga.
Hasil tambak yang tak menentu membuatnya membuka warung kecil di bawah rumah. Sejak pukul empat pagi, rutinitasnya dimulai: memasak, mencuci, menyiapkan anak sekolah, lalu bergegas ke tambak. Warungnya tetap terbuka tanpa penjaga, mengandalkan kejujuran pembeli.
Di tambak, ia melakukan panen parsial—memanen sebagian udang secara berkala—untuk menghindari kematian massal dan menjaga pertumbuhan udang. Setelah panen, ia mengantar hasilnya ke pengepul, sekaligus bertukar informasi dengan sesama petambak.
Siang hari, ia kembali ke warung, lalu berbelanja kebutuhan jualan. Barang dagangan yang berat dan jalanan rusak tak menyurutkan semangatnya, meski penuh risiko.
Dengan pendidikan hanya sampai SD, kemampuan mengelola tambak ia peroleh sejak kecil dari ayahnya.
Tantangan terbesar datang saat bencana melanda. Pada Desember 2021, banjir besar merusak tambaknya dan membuat banyak udang terlepas.
Meski pondok tambaknya hancur, ia belum mampu memperbaikinya karena keterbatasan dana. “Cuaca sekarang sudah tidak jelas,” keluhnya. “Biasanya hujan deras itu di awal Januari, tapi tahun ini datang lebih cepat.”
Ketika banjir mencapai pemukiman warga, ia bergegas mengamankan barang dagangan seadanya.
Ibu Mahira tidak memiliki dana cadangan untuk menghadapi risiko iklim. Minimnya literasi keuangan dan kesiapsiagaan bencana membuatnya semakin rentan.
Ia hanyalah satu dari banyak perempuan petambak—seperti Syahruni di Mattombong, Sartika di Waetuo, dan istri Pak Rustam di Salipolo—yang terus berjuang menghadapi cuaca ekstrem dan ketidakpastian penghidupan.
Kisahnya mencerminkan ketangguhan, tetapi sekaligus menunjukkan perlunya dukungan yang lebih besar bagi perempuan petambak kecil di tengah krisis iklim.
Mereka tidak hanya menghidupi keluarga, tetapi juga menjadi garda terdepan dalam menjaga keberlanjutan pangan dan ekosistem pesisir.
Apa yang dialamai Ibu Mahira bisa disebut gejala umum di pesisir Indonesia.
Ada banyak bukti bahwa ada perubahan iklim dan dampaknya semakin masif. Di Sulawesi Selatan, di Sulawesi Tenggara, di Pulau Kalimantan hingga Pulau Jawa, gejala Rob atau atau limpasan air laut pasang menjadi fenomena yang semakin sering dan parah di berbagai wilayah pesisir Indonesia.
Tren ini dipicu oleh kombinasi perubahan iklim global yang meningkatkan permukaan laut dan penurunan muka tanah akibat aktivitas manusia.
Penyebab Utama
Pelakita.ID mencatat bahwa ada rilis data menunjukkan bahwa permukaan laut di Indonesia meningkat rata-rata 3,9–4,25 milimeter per tahun sejak 1992.
Kenaikan ini disebabkan oleh pemanasan global yang mempercepat mencairnya es kutub serta pemuaian air laut. Selain itu, di beberapa kota besar seperti Jakarta, penurunan muka tanah mencapai 4–10 sentimeter per tahun akibat ekstraksi air tanah yang berlebihan. Kombinasi keduanya membuat wilayah pesisir semakin rentan terhadap banjir rob.
Di Pulau Pari, Kepulauan Seribu, frekuensi banjir rob meningkat menjadi belasan kali per tahun, jauh lebih sering dibandingkan dekade sebelumnya.
Periode risiko tinggi sering terjadi pada fase bulan purnama atau super new moon, yang memicu pasang laut ekstrem. Kondisi serupa juga dirasakan di Semarang, Pekalongan, dan kawasan Pantura Jawa lainnya.
Kerugian ekonomi akibat banjir rob diperkirakan bisa mencapai hingga Rp10 triliun dalam satu dekade mendatang, khususnya di wilayah Pantura. Infrastruktur penting seperti jalan, tanggul, permukiman, dan fasilitas umum lainnya sangat rentan rusak akibat tingginya muka air laut yang disertai penurunan tanah.
Banjir rob bukan lagi sekadar fenomena musiman, melainkan ancaman jangka panjang yang berdampak pada jutaan penduduk pesisir Indonesia. Tanpa upaya mitigasi yang komprehensif dan berkelanjutan, risiko kerugian sosial, ekonomi, dan lingkungan akan semakin besar.
Pembangunan infrastruktur perlu dibarengi dengan edukasi masyarakat seperti Ibu Mahira tersebut, penguatan ekonomi pesisir seperti Ibu Mahira, serta inovasi teknologi yang membantu adaptasi terhadap perubahan iklim.
Perlindungan wilayah pesisir menjadi langkah krusial untuk memastikan keberlanjutan kehidupan masyarakat yang bergantung pada sumber daya laut.
___
Penulis Ramlan Jamal
Editor Kamaruddin Azis
