Lumbung Padi Sebagai Sistem Keamanan Pangan Kolektif

  • Whatsapp
Gambar lumbung padi di area terbuka (dok: Ramlan Jamal)

PELAKITA.ID – Bangunan kecil yang menyerupai rumah panggung ini oleh masyarakat Panggalo, Majene, Sulawesi Barat disebut lumbung.

Fungsinya adalah sebagai tempat penyimpanan gabah padi sebelum digiling menjadi beras.

Di berbagai wilayah Sulawesi, bangunan serupa dapat dijumpai dengan nama berbeda namun fungsi yang sama: alang di Toraja, sappa di Bugis dan Makassar (Sulawesi Selatan), tambi di Kaili (Sulawesi Tengah), lepa-lepa padi di Tolaki dan Moronene (Sulawesi Tenggara), serta lumbung bawah kolong di Bolaang Mongondow (Gorontalo).

Lumbung bukan hanya tempat penyimpanan hasil panen, tetapi juga simbol kesejahteraan, keberlanjutan hidup, dan ketahanan pangan—isu yang kini menjadi perhatian nasional maupun global.

Proses penyimpanan padi di lumbung kadang disertai ritual adat sebagai bentuk penghormatan pada tradisi leluhur.

“Sejak nenek moyang, kami sudah pakai lumbung. Biasanya dibuat di sekitar ladang, di pinggir jalan, atau dekat rumah,” ungkap Pak Nurdin, salah satu warga Panggalo.

Ia menjelaskan bahwa warga setempat tidak khawatir kehilangan padi di lumbung mereka. Bahkan pemilik lumbung kerap menawarkan padi kepada tetangga yang kehabisan beras.

Lumbung-lumbung yang tidak dilengkapi sistem keamanan ini tetap aman berkat dasar kepercayaan yang kuat di antara warga.

Kepercayaan kolektif masyarakat mencerminkan sistem nilai yang kokoh. Solidaritas komunal menjadi “sistem keamanan” yang efektif.

Dalam banyak masyarakat tradisional, perilaku yang dianggap tercela bukan hanya melanggar norma sosial, tetapi juga menodai kepercayaan bersama, yang konsekuensinya bisa berupa sanksi sosial seperti pengucilan, rasa malu, atau hilangnya kepercayaan warga terhadap pelaku.

Nilai yang melekat pada hasil panen menciptakan hubungan antarindividu yang bersifat kekeluargaan.

Di banyak kasus, padi di lumbung bahkan dianggap sebagai cadangan komunitas—bukan hanya milik pribadi—yang dapat membantu sesama di saat sulit.

Penulis Ramlan Jamal