Kampung dan desa perlu pendampingan oleh berbagai pihak: perguruan tinggi melalui pengabdian masyarakat, sektor swasta lewat program tanggung jawab sosial (CSR), lembaga swadaya masyarakat dan organisasi masyarakat sipil yang memiliki keahlian pemberdayaan, serta kelompok profesional dengan beragam organisasi profesinya.
PELAKITA.ID – Indonesia adalah bangsa yang besar dan luas. Untuk membangunnya dibutuhkan energi luar biasa serta pembiayaan pembangunan nasional yang mampu menopang mimpi besar Indonesia Emas 2045.
Program prioritas nasional, program kementerian/lembaga, hingga program pemerintah daerah di tingkat provinsi maupun kota/kabupaten, semuanya memerlukan dukungan pendanaan yang memadai.
Semoga segala usaha para pemimpin kita, Presiden dan Wakil Presiden Prabowo–Gibran, dimudahkan oleh-Nya sehingga harapan untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045 dapat terwujud di era kepemimpinan mereka.
Langkah besar bangsa ini memerlukan topangan dari lapisan masyarakat terbawah dan wilayah terkecil. Dukungan dari rakyat akan memudahkan tersambungnya program pembangunan nasional dan daerah.
Tanpa topangan yang kuat dari rakyat dan desa/kelurahan, dikhawatirkan rembesan manfaat pembangunan hanya akan sampai pada wilayah tertentu dan lebih banyak dinikmati oleh kelompok menengah ke atas.
Topangan dari wilayah terkecil lahir dari masyarakat yang peduli dan bertanggung jawab terhadap masa depan kampung atau desanya.
Mereka bekerja sama membangun masa depan yang lebih baik dengan menata modal sosial-budaya, sumber daya alam, sumber daya ekonomi, dan sumber daya manusia yang ada.
Membangun dari tingkat desa/kampung harus dilakukan dengan serius. Seperti halnya rumah, setiap kampung atau desa berhak bermimpi menjadi tempat tinggal yang indah, nyaman, tertata, terpadu, serta dipenuhi rasa kekeluargaan dan kegotongroyongan.
Desa atau kelurahan yang tumbuh dengan potensi, kearifan lokal, dan keunikan karakter masyarakat maupun topografinya adalah wujud nyata dari konsep “Small is Beautiful.” Konsep ini diperkenalkan oleh E.F. Schumacher dalam bukunya Small is Beautiful: Economics as If People Mattered.
Jika pembangunan partisipatif mampu melahirkan ribuan kampung dengan konsep “Small is Beautiful” yang saling tersambung di seluruh negeri, maka cita-cita Indonesia Emas 2045 dapat terwujud, bahkan melahirkan kebanggaan kolektif dengan tagline “My Country is Beautiful.”
Harapan ini sejalan dengan berbagai program pemerintah seperti Koperasi Merah Putih, Makan Bergizi Gratis, dan inisiatif lainnya yang diharapkan mampu memperkuat modal sosial masyarakat lokal dalam membangun desa berbasis kemandirian dan kebersamaan.
Namun, mewujudkan hal ini tidak mudah. Kampung dan desa perlu pendampingan oleh berbagai pihak: perguruan tinggi melalui pengabdian masyarakat, sektor swasta lewat program tanggung jawab sosial (CSR), lembaga swadaya masyarakat dan organisasi masyarakat sipil yang memiliki keahlian pemberdayaan, serta kelompok profesional dengan beragam organisasi profesinya.
Media, baik cetak maupun digital, juga memiliki peran penting sebagai penyampai aspirasi dan sarana berbagi pembelajaran.
Dukungan pemerintah pusat, pemerintah daerah, hingga pemerintahan di tingkat kecamatan (supradesa) juga diperlukan melalui kebijakan, program, dan anggaran yang memadai.
Semoga gerakan membangun lingkungan terkecil kita—RT, RW, kampung, dusun, desa, atau kelurahan—dapat melahirkan lingkungan yang indah, yang mampu mencetak generasi dengan jiwa dan raga yang sehat serta menjadi penopang terwujudnya Indonesia Emas 2045.
Jakarta, 31 Juli 2025
Andi Muhammad Jufri, alumni Ilmu dan Teknologi Kelautan Unhas dan Sosiologi UI.
Aktif sebagai praktisi pembangunan masyatakat desa dan urban, tinggal di Jakarta.
