Sekolah Itu untuk Apa? | Masih Pentingkah Orang Bersekolah?

  • Whatsapp
Ilustrasi Mohd Nur Sangadji dan anak-anak pulau yang hendak ke sekolah (dok: Istimewa)

Ivan Illich, seorang filsuf Austria, pernah berkata, “Sekolah itu tidak penting. Tapi, untuk bisa berkata bahwa sekolah itu tidak penting, Anda harus sekolah lebih dahulu.”

PELAKITA.ID – Saya sering memberi analogi sederhana: ajarilah murid teori tentang berenang, tapi bawalah mereka ke laut atau danau untuk mempraktikkannya.

Tanpa itu, sampai kapan pun mereka tidak akan pernah bisa benar-benar berenang.

Sekitar tahun 1998, dalam sebuah diskusi di Palu, saya bertanya kepada Jack Craig dari University of Waterloo—mitra Pusat Studi Lingkungan Universitas Tadulako yang saat itu masih bernama PSL—tentang hakikat pendidikan.

Saya bertanya, “Untuk apa orang bersekolah? Semua jabatan sudah ada orangnya: presiden, gubernur, bupati, dan lainnya. Jadi, untuk apa sekolah?”

Jack Craig menjawab singkat namun mendalam: “Sekolah itu bukan untuk mengejar jabatan, tapi agar setiap orang siap menghadapi kehidupan.

Kehidupan itu kompleks, sehingga bekal ilmu yang diberikan kepada peserta didik harus komprehensif: pengetahuan, keterampilan, dan sikap. Sikap bukanlah bagian yang terpisah, melainkan menyatu dalam keduanya.

UNESCO merumuskan empat pilar pendidikan: learning to know, learning to do, learning to be, dan learning to live together. Jepang menjadikan pilar terakhir, learning to live together, sebagai identitas nasionalnya.

Itulah sebabnya kita kagum melihat perilaku mulia orang Jepang di tanah suci Mekah maupun tribun sepak bola dunia—mereka bergotong royong memungut sampah, sesuatu yang sejatinya menjadi semboyan bangsa Indonesia.

Tradisi mulia itu dibangun sejak dini. Hingga kini, murid-murid TK di Jepang memiliki jadwal rutin membersihkan kelas setiap hari. Ini sebenarnya juga pernah menjadi tradisi di SD Indonesia tempo dulu, namun kini mulai menghilang.

Mungkin kita perlu merumuskan kembali kompetensi dasar yang wajib dimiliki lulusan perguruan tinggi:

  1. Pengetahuan dasar yang harus mereka pahami.

  2. Keterampilan dasar yang harus mereka kuasai.

  3. Sikap yang harus menjadi identitas mereka.

Dulu, hal ini dirumuskan dalam TIU (Tujuan Instruksional Umum) dan TIK (Tujuan Instruksional Khusus)—apa yang harus diketahui (kognitif), apa yang harus bisa dilakukan (psikomotorik), dan bagaimana sikap yang harus ditunjukkan (afektif).

Kini muncul pendekatan baru seperti case method dan best project. Saya teringat, suatu ketika saya menelepon anak saya yang sedang kuliah di Birmingham University.

Ia menjawab, “Sedang berada di terminal.”

Ternyata dosennya memberi tugas menganalisis mengapa terminal yang begitu mewah tidak berfungsi dengan baik. Tugas ini melatih mahasiswa berpikir kritis untuk memecahkan persoalan nyata.

Kembali ke tujuan bersekolah. Analogi sederhananya: jika tujuan pendidikan adalah memberi kemampuan mengemudi, maka pada saat wisuda disediakan mobil di parkiran.

Lulusan yang baik harus langsung mampu mempraktikkannya—punya pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang tepat. Ijazah yang diterima ibarat SIM yang membuktikan kelayakan seseorang.

Pertanyaan yang sama berlaku bagi lulusan jurusan Agroteknologi dan Agribisnis, atau fakultas dan jurusan mana pun: Apa yang harus mereka tahu dan bisa saat lulus?

Saya sendiri mencoba menjawab kegelisahan ini dengan meminta mahasiswa mengulang hasil belajarnya. Semua mahasiswa bimbingan yang pulang magang wajib mempraktikkan apa yang telah mereka pelajari.

Syukurlah, rata-rata berhasil—mulai dari pencangkokan tanaman hingga keterampilan teknis lainnya.

Maka, sekolah tetaplah penting. Namun, kita harus terus berinovasi agar sekolah menjadi lebih bermakna—bukan hanya memberi pengetahuan, tapi juga membekali keterampilan nyata dan membentuk sikap yang benar.

Editor Denun