PELAKITA.ID – Pulau Kabetan, sebuah pulau kecil di Kabupaten Tolitoli, Sulawesi Tengah, menjadi saksi perjalanan Rustan Rewa yang penuh makna.
Dalam persiapannya mendirikan Rumah Quran di pulau ini, Rustan merasakan langsung tantangan hidup masyarakat pesisir yang bergantung sepenuhnya pada sumber daya laut.
Menurutnya, keindahan Pulau Kabetan sungguh memikat, terutama saat matahari terbenam yang menebarkan cahaya keemasan di ufuk barat.
“Namun di balik keindahan itu, ada ketangguhan warga yang sehari-hari harus menghadapi kerasnya ombak, angin musim timur, dan keterbatasan akses,” katanya kepada Pelakita.ID, Ahad, 27 Juli 2025.
Dia bercerita tentang pengalamannya ke Pulau Kabetan. “Kami mengalami pengalaman mendebarkan ketika perahu yang ditumpangi terapung dan terombang-ambing selama dua jam akibat ombak musim timur,” akunya.
Pengalaman itu membuatnya semakin memahami bagaimana daya tahan dan kesabaran menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat pulau.

Kedatangannya ke Kabetan bukan hanya untuk menyaksikan realitas kehidupan warga, tetapi juga untuk membawa semangat pembangunan berbasis nilai-nilai keagamaan.
Di pulau ini, Rustan bertemu dengan Yusuf, seorang nelayan mualaf asal Kepulauan Sangihe, yang kini turut serta membangun Rumah Quran.
“Bersama warga setempat, kami bergotong royong mempersiapkan rumah yang akan menjadi pusat pembelajaran dan pembinaan spiritual bagi anak-anak pulau,” ucapnya.
Pembangunan Rumah Quran di Pulau Kabetan merupakan bagian dari Program “Berani” yang digagas oleh Gubernur Sulawesi Tengah.
Kata Rustan, program ini mendorong pemberdayaan masyarakat sekaligus penguatan nilai-nilai moral dan keagamaan di daerah terpencil. Rustan menyampaikan harapannya.
“Makanya program Pak Gubernur Berani, mudah-mudahan doa kita semua lancar, diijabah, dan kita langgeng dalam suasana penuh kedamaian di pesisir,” sebutnya.

Keberadaan Rustan Rewa di Pulau Kabetan menghadirkan inspirasi bagi banyak orang, terutama masyarakat yang berasal dari wilayah selatan Sulawesi seperti Makassar, Takalar, dan Jeneponto yang banyak bermukim di pulau-pulau sekitar Tolitoli.
“Kami juga bertemu perantau asal Sulawesi Selatan yang memang terkenal karena karakter pesisirnya. Mereka adalah perantau yang membawa serta budaya kerja keras, kearifan lokal, pelaut pemberani, dan penuh semangat kebersamaan dalam membangun daerah baru,” tambahnya.
Pembaca sekalian, kisah perjalanan Rustan Rewa bukan sekadar cerita tentang pendirian sebuah Rumah Quran, tetapi juga tentang ketangguhan manusia, ketergantungan pada laut sebagai sumber kehidupan, dan semangat membangun masa depan yang lebih baik.
Pulau Kabetan, dengan segala keindahan dan tantangannya, menjadi simbol harapan bahwa perubahan besar bisa dimulai dari pulau kecil, dari orang-orang yang mau berbuat dan berbagi inspirasi.
Redaksi
