Sekolah Itu, Mencari Apa? | Refleksi Akhir Tahun Faperta Untad Palu

  • Whatsapp
Ilustrasi Mohd Nur Sangadji dan anak-anak pulau yang hendak ke sekolah (dok: Istimewa)

Oleh: Muhd Nur Sangadji
Kepala Pusat Penelitian Lingkungan Hidup Universitas Tadulako


PELAKITA.ID – Saya pernah berkelakar dengan sahabat bermain tenis yang sangat peduli pada pendidikan, Bapak Cola Gauk, mantan Wakil Ketua PGRI Sulawesi Tengah.

Dalam obrolan itu, ia menyebut istilah populer lokal masyarakat Palu di tanah Kaili yang mirip dengan diksi dalam bahasa Jepang: nadoko. Mungkin, istilah ini bisa menjadi simpulan kecil dari refleksi yang saya tulis.

Saya memiliki pengalaman berharga setelah lulus S1 pada tahun 1989. Saat itu saya terjun ke perkebunan kelapa sawit.

Pada hari pertama bekerja, saya diminta menghitung kebutuhan pupuk untuk kebun yang baru seluas sekitar 1.000 hektare dari rencana total 17.000 hektare.

Perhitungan dilakukan secara manual dengan bantuan kalkulator—belum ada Excel atau perangkat lunak serupa. Hasil perhitungan itu kemudian dikirim ke Jakarta, dan ternyata salah. Saya dihina sebagai seorang insinyur pertanian yang tidak bisa menghitung kebutuhan pupuk, padahal saya merasa sudah benar.

Penghinaan itu membangkitkan semangat saya untuk membuktikan diri melalui kerja keras dan etos kerja yang pantang menyerah. Hanya dalam waktu tiga bulan, saya mendapat penghargaan berupa promosi menjadi asisten manajer.

Beberapa saat kemudian, saya memutuskan untuk pamit berhenti dan kembali ke kampus sebagai dosen.

Keputusan ini mengecewakan banyak sahabat dan manajer saya. Mereka berulang kali membujuk, bahkan membandingkan secara finansial.

Gaji dosen waktu itu hanya sekitar Rp65.000 per bulan, sementara gaji asisten manajer sudah Rp500.000 dengan tunjangan Rp90.000, fasilitas kendaraan, rumah dinas, bahkan juru masak dan tukang kebun.

Kini, saya mendengar bahwa sahabat-sahabat seangkatan saya sudah pensiun sebagai general manager dengan gaji di atas Rp100 juta per bulan. Namun, sejak dulu saya selalu berkata kepada mereka, “Hidup adalah pilihan. Biarlah saya memilih menjadi guru.”

***

Belakangan, Menteri Pendidikan kita mengingatkan setelah berbincang dengan CEO perusahaan bahwa lulusan perguruan tinggi di Indonesia kerap menghadapi empat masalah utama: kemampuan membaca, menulis, berkomunikasi, dan etos kerja.

Inilah esensi pembelajaran tentang literasi, sikap, dan perilaku (attitude dan behavior).

Saya pun merenung: apa yang salah? Apa yang harus kita lakukan?

Hasil refleksi ini semakin menunjukkan keprihatinan yang mendalam. Untuk mencapai tujuan besar pendidikan, guru memegang peranan utama. Para ahli mengelompokkan guru ke dalam empat tipe:

  1. Mediocre teacher, guru yang sekadar memberi tahu (telling).

  2. Good teacher, guru yang memberi penjelasan (explanation).

  3. Best teacher, guru yang menunjukkan (demonstrate).

  4. Excellence teacher, guru yang mengilhami (inspiration).

Saya semakin menyadari bahwa kita, para dosen, sering terlalu berambisi ingin memberikan semua hal. Kita jarang melakukan need assessment yang tepat. Akibatnya, mahasiswa justru tidak benar-benar memahami apa yang kita ajarkan.

Ada pepatah dalam bahasa Arab yang berbunyi: “Barang siapa ingin meraih segalanya, ia justru tidak akan mendapatkan segalanya.” Ungkapan ingin semua ini, oleh orang Palu di tanah Kaili, disebut dengan istilah lokal yang mirip dengan diksi bahasa Jepang: nadoko.

Maka, janganlah kita menjadi seperti itu. Mari ajarkan sesuai kebutuhan, bukan sekadar memenuhi ambisi kita sendiri.

Editor Denun