Lebih dari sekadar pemikir, Daly adalah pribadi yang berani—menyuarakan etika pembangunan yang berkeadilan antargenerasi. Ia percaya bahwa generasi mendatang berhak mewarisi planet yang layak huni. Di tengah narasi pembangunan besar-besaran, pemikiran seperti inilah yang layak menjadi panduan arah baru.
PELAKITA.ID – Di tengah krisis iklim global dan kerusakan lingkungan yang kian parah, nama Herman Daly muncul sebagai sosok penting yang mengingatkan dunia akan batas-batas Bumi.
Sebagai ekonom ekologis asal Amerika Serikat, Daly tidak hanya mengkritisi model pertumbuhan ekonomi tanpa batas, tetapi juga menawarkan gagasan alternatif yang kini semakin relevan—khususnya bagi negara seperti Indonesia: ekonomi keadaan mantap (steady-state economy).
Siapa Herman Daly?
Herman Daly (1938–2022) merupakan tokoh perintis dalam bidang ekonomi ekologis, sebuah disiplin ilmu yang memadukan ekonomi, ekologi, dan etika.
Ia meraih gelar doktor di bidang ekonomi dari Vanderbilt University, mengajar di Louisiana State University, dan menjabat sebagai ekonom senior di Bank Dunia pada 1988–1994.
Selama kariernya, ia konsisten menyuarakan pentingnya pembangunan berkelanjutan yang benar-benar memperhitungkan kapasitas alam.
Gagasan Penting: Ekonomi dalam Batas Alam
Bagi Daly, ekonomi tidak bisa berdiri sendiri dan harus dipahami sebagai bagian dari sistem ekologi yang lebih besar. Ia menolak gagasan bahwa pertumbuhan ekonomi tak terbatas adalah tujuan utama pembangunan.
Planet kita punya batas fisik, dan aktivitas ekonomi harus menyesuaikan diri dengan kemampuan Bumi untuk menyuplai sumber daya dan menyerap limbah.
Konsep ekonomi keadaan mantap yang ia usulkan adalah sistem ekonomi di mana konsumsi sumber daya dan limbah dijaga agar tetap dalam batas daya dukung alam.
Pertumbuhan tidak selalu berarti kemajuan—yang lebih penting adalah pembangunan yang meningkatkan kualitas hidup, bukan sekadar menambah angka konsumsi atau produksi.
Lebih dari Sekadar PDB
Daly juga mengkritisi penggunaan Produk Domestik Bruto (PDB) sebagai satu-satunya indikator kemajuan. Menurutnya, PDB tidak mencerminkan kerusakan lingkungan, ketimpangan sosial, atau penurunan kualitas hidup. Ia mendorong penggunaan indikator alternatif seperti Genuine Progress Indicator (GPI) yang menilai kesejahteraan masyarakat secara lebih utuh.
Pembangunan tanpa Pertumbuhan?
Herman Daly tidak menentang pembangunan, tetapi ia mengajak kita membedakan antara pertumbuhan (growth) dan pembangunan (development). Pertumbuhan adalah bertambahnya ukuran secara kuantitatif, sementara pembangunan adalah peningkatan kualitas. Di negara-negara dengan konsumsi tinggi, menurutnya, yang dibutuhkan adalah pembangunan tanpa pertumbuhan berlebihan.
Di Bank Dunia, Daly mendorong sejumlah kebijakan progresif, antara lain:
-
Sistem cap-auction-trade untuk membatasi pemanfaatan sumber daya alam.
-
Reformasi pajak ekologis untuk memberi insentif pada praktik ramah lingkungan.
-
Pengaturan perdagangan internasional agar tidak merugikan lingkungan negara berkembang.
Mengapa Relevan untuk Indonesia?
Indonesia adalah contoh nyata dari situasi yang menjadi perhatian Daly. Kaya akan sumber daya alam dan keanekaragaman hayati, namun juga menghadapi tekanan besar akibat eksploitasi yang berlebihan. Perluasan perkebunan, pertambangan, dan pembangunan infrastruktur besar sering kali terjadi tanpa memperhitungkan daya dukung lingkungan dan dampak sosial.
Gagasan Herman Daly bisa menjadi panduan penting bagi Indonesia, terutama dalam:
-
Menata ulang makna pembangunan. Apakah peningkatan PDB layak dirayakan jika disertai deforestasi, polusi, dan konflik lahan?
-
Menyusun kebijakan ekonomi berkeadilan ekologis. Seperti penerapan pajak karbon, perlindungan terhadap sumber daya lokal, dan insentif bagi ekonomi sirkular.
-
Menempatkan kualitas hidup di atas kuantitas konsumsi. Terutama dalam konteks urbanisasi, krisis iklim, dan ketimpangan.
Mewarisi Keberanian Moral
Lebih dari sekadar pemikir, Daly adalah pribadi yang berani—menyuarakan etika pembangunan yang berkeadilan antargenerasi. Ia percaya bahwa generasi mendatang berhak mewarisi planet yang layak huni. Di tengah narasi pembangunan besar-besaran, pemikiran seperti inilah yang layak menjadi panduan arah baru.
Membangun dalam Batas, Hidup dalam Harmoni
Herman Daly mengingatkan bahwa ekonomi hanyalah subsistem dari ekosistem. Manusia tidak bisa terus-menerus menguras bumi tanpa konsekuensi.
Gagasan-gagasannya memberikan arah baru: bahwa pembangunan sejati bukanlah yang paling cepat atau paling besar, tetapi yang paling bijak dan berkelanjutan.
Untuk Indonesia, yang kini berada di persimpangan antara ambisi ekonomi dan kelestarian lingkungan, warisan pemikiran Daly dapat menjadi kompas moral dan ilmiah untuk masa depan yang adil, lestari, dan manusiawi.
