Penyadaran dan Community Empowerment dalam Urban Farming

  • Whatsapp
Ilustrasii Pelakita.ID

Oleh Muliadi Saleh

PELAKITA.ID – Di tengah deru mesin kota dan bangunan yang terus menjulang, masih ada sepetak tanah, sebaris pot, atau sekadar peti kayu di teras rumah yang berisi tunas hijau.

Dari sanalah bermula kisah penyadaran dan pemberdayaan komunitas—sebuah gerakan kecil yang pelan-pelan menyalakan api harapan: urban farming.

Urban farming bukan sekadar menanam sayuran di sudut kota. Ia adalah gerakan mengembalikan manusia pada fitrahnya: menyentuh tanah, menunggu pertumbuhan, merayakan panen.

Lebih dari itu, urban farming adalah wahana community empowerment—pemberdayaan masyarakat kota agar sadar akan potensi ruang, potensi diri, dan potensi ekonomi yang dapat mereka ciptakan sendiri.

Penyadaran: Dari Diam ke Bergerak

Pemberdayaan selalu berawal dari kesadaran. Paulo Freire menyebutnya conscientization—sebuah proses reflektif yang membuat manusia memahami realitasnya, lalu bergerak untuk mengubahnya. Dalam urban farming, proses penyadaran ini berlangsung melalui tahapan-tahapan sederhana namun mendalam.

Tahap pertama adalah pengenalan masalah: betapa mahalnya harga sayur organik di pasar, betapa sempitnya ruang hijau kota, dan betapa banyak sampah organik yang terbuang. Di titik ini, masyarakat diajak melihat kenyataan apa adanya—menatap kota yang kian gersang tanpa ilusi.

Tahap kedua adalah pemantik inspirasi. Di sinilah cerita-cerita sukses mulai bergaung: ibu-ibu di kampung kumuh yang kini memanen sawi sendiri; remaja gang sempit yang menjual microgreens ke kafe-kafe; komunitas RW yang menukar sayur dengan beras lewat koperasi kecil. Cerita-cerita ini menumbuhkan keyakinan bahwa mereka pun bisa.

Tahap ketiga adalah latihan dan aksi kecil. Mulai dari mengenal media tanam dan teknik hidroponik sederhana, hingga menyemai benih di lahan seadanya. Setiap tangan yang kotor oleh tanah adalah doa yang membumi; setiap bibit yang tumbuh adalah puisi kehidupan.

Tahap keempat adalah refleksi bersama. Apa yang berhasil? Apa yang gagal? Bagaimana hasil panen pertama digunakan atau dijual? Dari sinilah muncul inovasi dan kesadaran bahwa mereka bukan sekadar mencoba, melainkan sedang berproses.

Community Empowerment: Dari Diri ke Jejaring

Urban farming menjelma ruang belajar bersama. Ibu rumah tangga, mahasiswa, pekerja lepas, hingga pensiunan bertemu dalam satu lingkaran tanah. Di sinilah community empowerment menemukan bentuknya.

Mereka belajar berbagi bibit, menukar pupuk organik, saling membantu memindahkan pot, atau sekadar berbagi tips mengusir hama tanpa pestisida.

Lambat laun, lahirlah jejaring: kelompok tani kota, koperasi sayur, hingga pasar lokal yang mempertemukan produsen dan konsumen secara langsung.

Pemberdayaan tidak berhenti di kebun. Dari aktivitas menanam tumbuh kesadaran ekonomi—bahwa sayuran organik bisa dijual; tumbuh kesadaran ekologis—bahwa menanam berarti membantu bumi bernapas; dan tumbuh kesadaran sosial—bahwa komunitas yang solid dapat menjadi benteng di tengah individualisme kota.

Menanam Harapan di Kota

Bayangkan sebuah gang sempit yang dahulu hanya dipenuhi sampah plastik, kini dihiasi polibag kangkung dan tomat ceri. Bayangkan anak-anak yang dulu hanya mengenal permainan daring, kini belajar fotosintesis dari pohon cabai di depan rumah.

Bayangkan ibu-ibu yang dulu lelah menunggu kiriman sayur, kini memetiknya sendiri sambil tersenyum.

Urban farming adalah syair yang ditulis dengan tangan-tangan warga kota.

Ia menumbuhkan kebanggaan baru: bahwa di tengah keterbatasan, manusia bisa kembali menyatu dengan tanah—kembali berdaulat atas pangannya sendiri.

Community empowerment dan tahapan penyadaran adalah pupuknya. Dengan keduanya, tanah kota yang keras bisa kembali lunak, dan hati yang lelah bisa kembali berbunga. Inilah saatnya kita tidak sekadar tinggal di kota, tetapi ikut menanam dan menuai harapan di dalamnya.

Dan setiap tunas yang tumbuh di sudut kota adalah bisikan halus dari bumi: bahwa hidup—meski di tengah beton—tetap bisa hijau.


Muliadi Saleh

Penulis, Pemikir, dan Penggerak Literasi dan Kebudayaan