PELAKITA.ID – Walt Whitman Rostow adalah salah satu pemikir paling berpengaruh dalam teori pembangunan modern pada era pasca-Perang Dunia II. Melalui karyanya The Stages of Economic Growth: A Non-Communist Manifesto (1960), Rostow mengusulkan kerangka pembangunan ekonomi yang berbasis pada pendekatan linear dan bertahap.
Ia percaya bahwa semua negara bisa mengikuti jalur yang sama seperti negara-negara industri Barat, selama mereka memenuhi prasyarat dan berkomitmen terhadap modernisasi.
Lantas, bagaimana teori ini dapat dibaca dalam konteks Indonesia? Sejauh mana negara ini mengikuti lintasan lima tahap pertumbuhan yang digariskan Rostow?
Teori Lima Tahap Pertumbuhan Ekonomi
Rostow membagi proses pembangunan ke dalam lima tahap yang bersifat linier dan universal:
-
Masyarakat Tradisional
Masyarakat dengan dominasi pertanian, teknologi rendah, dan struktur sosial yang statis. -
Prasyarat untuk Lepas Landas (Preconditions for Take-Off)
Munculnya elite modern, peningkatan produktivitas pertanian, investasi infrastruktur, dan perubahan nilai-nilai sosial. -
Lepas Landas (Take-Off)
Industrialisasi mulai terjadi, investasi meningkat tajam, dan pertumbuhan ekonomi menjadi mandiri. -
Menuju Kedewasaan (Drive to Maturity)
Teknologi menyebar luas ke seluruh sektor ekonomi, produksi semakin beragam, dan institusi mulai stabil. -
Konsumsi Massa Tinggi (Age of High Mass Consumption)
Fokus berpindah ke sektor jasa, kesejahteraan sosial, dan konsumsi barang-barang mewah.
Model ini mengasumsikan bahwa pembangunan adalah proses universal yang dapat diterapkan di negara manapun—termasuk Indonesia.
Penerapan Teori Rostow dalam Konteks Indonesia
1. Masyarakat Tradisional (Pra-1945)
Sebelum kemerdekaan, Indonesia berada dalam pola ekonomi agraris dan feodal yang dikendalikan kolonial. Produksi dominan berada di sektor primer, seperti perkebunan dan pertanian, dengan akses teknologi dan pendidikan yang terbatas.
2. Prasyarat Lepas Landas (1950-an–1960-an)
Setelah kemerdekaan, Indonesia mulai membangun fondasi pembangunan melalui nasionalisasi aset kolonial, pembangunan institusi negara, dan perencanaan ekonomi awal. Namun, ketidakstabilan politik dan inflasi tinggi menghambat kemajuan signifikan dalam fase ini.
3. Lepas Landas (Orde Baru 1966–1980-an)
Era Suharto merupakan cerminan paling jelas dari tahap “take-off” ala Rostow:
-
Pelaksanaan Repelita (Rencana Pembangunan Lima Tahun)
-
Peningkatan besar dalam infrastruktur, pertanian (Swasembada Pangan), dan industri
-
Investasi asing dan pertumbuhan ekonomi yang signifikan
Stabilitas politik menjadi prioritas, dan pembangunan sangat bersifat teknokratik. Ini konsisten dengan syarat “lepas landas” dalam kerangka Rostow.
4. Drive to Maturity (1990-an hingga awal 2000-an)
Indonesia mulai menunjukkan diversifikasi ekonomi: sektor manufaktur tumbuh, pendidikan meluas, dan teknologi mulai masuk. Namun, krisis ekonomi 1997–1998 menjadi titik balik penting yang menunjukkan bahwa pembangunan tidak selalu bersifat linear dan bebas dari guncangan.
5. Konsumsi Massa Tinggi (2000-an hingga Kini?)
Beberapa wilayah Indonesia, khususnya kawasan perkotaan seperti Jakarta, Bandung, atau Surabaya, menunjukkan karakteristik konsumsi massa:
-
Meningkatnya kelas menengah
-
Pertumbuhan e-commerce dan ekonomi digital
-
Konsumsi barang mewah dan gaya hidup urban
Namun, kesenjangan regional dan struktural menunjukkan bahwa tahapan ini belum sepenuhnya tercapai secara nasional.
Kritik terhadap Relevansi Teori Rostow
Meskipun teorinya memberi kerangka yang mudah dicerna dan digunakan oleh perencana pembangunan, banyak kritik dilontarkan terhadap model Rostow, terutama ketika diterapkan pada konteks negara berkembang seperti Indonesia.
-
Erosentris dan Ahistoris
Model ini mengasumsikan semua negara akan melalui tahapan yang sama dengan Barat, tanpa mempertimbangkan kolonialisme, ketimpangan global, atau keragaman budaya dan sosial. -
Mengabaikan Ketimpangan
Rostow fokus pada pertumbuhan agregat, tanpa banyak perhatian pada distribusi manfaat. Indonesia sendiri mengalami ketimpangan signifikan antara Jawa dan luar Jawa, kota dan desa. -
Membenarkan Otoritarianisme
Model ini memberi legitimasi pada pendekatan pembangunan top-down seperti yang dilakukan Orde Baru—efisien tapi seringkali menekan demokrasi dan hak sipil. -
Tidak Mengantisipasi Krisis
Teori Rostow mengasumsikan pertumbuhan terus berlanjut tanpa hambatan besar, padahal sejarah Indonesia menunjukkan bahwa krisis bisa mengulang siklus stagnasi atau bahkan kemunduran.
Antara Panduan dan Batasan
Teori Walt W. Rostow menawarkan titik awal penting dalam memahami strategi pembangunan, terutama pada masa transisi dari masyarakat agraris ke industrial.
Dalam sejarah Indonesia, model ini memiliki relevansi kuat pada masa Orde Baru yang menekankan industrialisasi dan stabilitas.
Namun, dalam realitas saat ini, tantangan pembangunan Indonesia memerlukan pendekatan yang lebih inklusif, partisipatif, dan kontekstual. Ketimpangan, krisis iklim, serta kompleksitas sosial-politik tidak dapat diurai hanya dengan kerangka lima tahap pembangunan.
Maka, sembari mengapresiasi kontribusi Rostow dalam membangun kerangka berpikir modernisasi, kita juga harus membuka ruang bagi kritik struktural dan pendekatan alternatif—agar pembangunan tak hanya bergerak maju secara ekonomi, tapi juga adil secara sosial dan berkelanjutan secara ekologis.
