‘Success Story’ Darwis Ismail, Nomor 1 dari Dapil 3 Sulawesi Selatan

  • Whatsapp
H. Darwis Ismail, S.T, M.M.A

DPRD Makassar

PELAKITA.ID – Sosodara, di media sosial, internet, grup WA, sudah banyak berita terkait sahabat saya Darwis Ismail. Kita bisa browsing dengan mengetik ‘Darwis Ismail’ atau kalau mau lebih dalam bisa ketik ‘Darwis Ismail PPP’.

Dia alumni Ilmu dan Teknologi Kelautan Unhas angkatan 1992 (sekarang FIKP) yang saat ini maju sebagai Calon Legislatif mewakil Daerah Pemilihan 3 Sulawesi Selatan bernomor urut 1 dari Partai Persatuan Pembangunan.

Sejumlah kabupaten seperti Sidrap. Pinrang, Enrekang, Luwu, Kota Palopo, Luwu Utara, Luwu Timur, Toraja dan Toraja masuk di dalamnya.

Read More

Sahabat sekalian, tahun 1992, saat saya sebagai wakil ketua panitia Ospek Kelautan Unhas – ketuanya Muslih Said, saya sempat menghardiknya sebab Darwis sering mengelak saat disuruh atau dimintai oleh senior buat sesuatu dengan alasan badan tidak enak atau tidak fit.

Saya juga sempat berpikir dia bukan sosok yang kuat untuk menyelam atau kerja di lautan. Kala itu. Belakangan saya tahu kalau dia sedang recovery setelah sakit.

Pendek cerita, saya jadi akrab sebab banyak seangkatannya adalah juga adik angkatan di SMA Negeri I Makassar.

Salah satunya almarhum Uttang yang sombere, jenaka dan kerap usil. Sama-sama anak 92, Muiz, Mulenk, dan beberapa lainnya.

Saat saya selesai kuliah tahun 1995, dan awal tahun 1996 hijrah ke Pulau Rajuni Taka Bonerate Selayar, tidak pernah lagi dengar kabarnya. Saat itu yang saya tahu dia sering kumpul teman angkatannya di Kompleks Perumahan Budi Daya.

Hingga ketika untuk pertama kalinya saya naik pesawat udara tahun 1998 dengan Mandala Air, saya dengar dia ada di Jakarta meski belum sempat menyambangi atau menyapanya.

Pertemuan pertama di pertengahan 2000-an. Saya lupa apakah saat saya kerja di Aceh Nias atau sedang mengurus proyek di COREMAP Tahap 2.

Pada pertemuan dengannya itu, pada satu rumah yang dijadikan kantor, tidak terlalu luas, seperti rumah tipe 36.

Saya tiba sore di tempatnya. Laporan numpuk di mana-mana, meja kecil, ruangan meeting minimalis. Dia rupanya sedang menapak pekerjaan konsultan dan kontraktor .

Saya masih ingat saat itu, dia cerita tentang proyek adopsi teknologi penyediaan pasokan air untuk usaha pertanian di daerah perbatasan.

Ada teknologi yang sedang dikembangkannya dan dipasarkannya ke Kementerian.

“Sudahma menikah kanda,” katanya berbisik kala itu. Saya dengar dia menikah anak pejabat di salah satu Kementerian. Luar biasa, prinsip tallucappa’na!

Kesimpulan saya, Darwis yang saya kenal saat mahasiswa itu sedang mengasah kemampuan bisnisnya, juga atensinya pada pembangunan daerah-daerah perbatasan sebagaimana sering diperjuangkan anak-anak Kelautan Unhas kala itu hingga di kekinian.

“Kita ada alat untuk memudahkan pengairan pada usaha kebun atau pertanian di daerah perbatasan yang langka air dan terhubung dengan solar panel,” kurang lebih seperti itu kata dia.

Kembali ke memori di Kampus Unhas, jika di kampus dia nampak lambat, doyong dan tak terlalu sering main di Senat, belakangan dia nampak necis, rapi, kharismatik, tinggi besar.

Sejumlah proyek-proyek strategis di Kementerian mulai dari saat KKP bernama Departemen Eksplorasi Laut hingga Kementerian Pertahanan pernah digelutinya.

Darwis yang dulu, kini betul-betul berhasil menjadi sosok yang memenuhi satu per satu mimpinya.

Saya kira, dia pelobi yang baik, dia pun – oleh sejumlah teman disebut tegas, dan gerak cepat.

Menjadi kontraktor, pengusaha dan juga aktif di organisasi alumni dan sosial kemasyarakatan di Jakarta tentu bukan hal mudah tapi dia sudah jalani dan sukses.

Suka duka telah menempanya untuk kuat, dan siap hadapi risiko.

Darwis kini, adalah Ketua Ikatan Sarjana Kelautan Unhas untuk periode kedua, atau pelanjut suksesi setelah saya dan Agus Ajar Bantung. Jadi, komunikasi dan interaksi tetap terjaga.

Dia juga ketua Kerukunan Keluarga Luwu Raya Jabodetabek. Kerap menggelar kegiatan sosial, keagamaan, dan menyantuni anak-anak yatim piatu di Jakarta.

Pernah sekali dia ajak saya buka puasa di rumah Bamsut, juga bertemu salah satu politisi PAN sekitar 6 tahun lalu.

Saat bertemu dengannya tiga tahun lalu, pada momen Idul Adha di daerah Pejaten, saat kami satu per satu koleganya telah mengantongi satu kilo daging kurban, di kantornya yang berlantai empat, dia bercerita kalau ada hal yang belum lengkap jika tidak menjadi pengusaha kelautan dan perikanan.

Bukan sebagai petambak atau nelayan langsung tetapi menjadi pengusaha yang mendedikasikan sumber daya modal dan pikiran untuk budidaya ikan atau udang.

“Siapa tahu bisaki juga buat perusahaan pakan udang,” kata alumni Manajemen Agribisnis IPB ini kala itu.

Dia selalu punya obsesi.

Dua tahun lalu, saya dengar dia sudah punya usaha tambak udang di Takalar, lalu tidak lama berselang, dia disebut sedang merintis usaha pakan udang atau ikan juga di Takalar. Belum lagi usaha apotik dan lain sebagainya.

Darwis Ismail, S.T, M.M.A

Obsesi lainnya adalah punya café di Makassar. Saya dengar inipun sedang dirintisnya.

Apa yang dilakukannya itu melengkapi sejumlah usahanya seperti café atau tempat ngopi di Jantung Kota Jakarta Selatan.

Boska, adalah café miliknya, yang ada di kawasan Pejaten. Juga kedai Burger di sampingnya. Kalau saya ke saya, gratislah, kan saya yang ngospek dulu. Ha-ha.

Peduli Unhas

Di Makassar, dia aktif mengajak adik-adiknya alumni Kelautan dan Unhas secara umum untuk berinteraksi mutualistik dalam membangun Unhas.

Darwis mengajak adik-adik mahasiswa dan alumni Kelautan Unhas untuk berbagi ke kaum nirdaya, menggiatkan kegiatan sosial keagamaan untuk kelompok rentan.

Donasinya 100 juta untuk Unhas tahun lalu ke Dana Abadi Unhas adalah contoh betapa dia punya dedikasi untuk terus membesarkan Unhas, menggiatkan kerjasama Unhas dan alumni untuk membangun kapasitas pendidikan kampus.

“Kan Unhas yang besarkan kita, masa’ kita tidak bisa berterima kasih atau membantunya?” jawabnya saat ditanya mengapa mau bela-belain donasi sejumlah itu

Membaca Darwis Ismail pada tapak pengabdian sosial seperti itu, rasanya tidak keliru jika banyak pihak mengharapkan dia bisa melangkah lebih jauh.

Maka wajarlah jika banyak pihak yang memintanya jadi atau maju sebagai calon Wali Kota Palopo, ada juga yang berharap dia maju untuk Pilkada Luwu.

Tapi bagi saya, yang perlu segera diwujudkan adalah menghantarnya menjadi anggota DPR RI mewakil kampung halamannya di Dapil 3 Sulawesi Selatan saat Pileg bulan Februari 2024 tahun depan.

Darwis yang saya kenal saat masih unyu kala mendaftar Ospek di tahun 1992 di koridor Peternakan -Kedokteran itu, kini sudah menjadi tokoh nasional.

Dia Ketua Bapilu Partai Persatuan Pembangunan untuk Sulawes, Maluku dan Papua.

Kelak, jika terpilih, kedekatannya dengan sejumlah tokoh seperti Sandi Uno, Muhammad Mardiono, Amir Uskara, hingga sejumlah tokoh lintas partai menjadi modal kuat untuk dia bisa berimrpovisasi di Senayan.

Untuk memperjuangkan pembangunan Sulawesi Selatan, pada bidang pertanian, infrastruktur, perkebunan,kelautan, perikanan hingga pengembangan UMKM atau maritim secara luas.

Dengan posisi seperti itu, saya bisa membaca kapasitasnya dan tentu kesungguhannya untuk merealisasikan sejumlah mimpi yang sudah nampak di depan mata. Punya pengalaman berkontestasi Pileg di 2019 adalah pengalaman manis untuk dibenahi di 2024.

Harapannya untuk ke Senayan, tentu akan bisa terealisasi jika anda, sahabat-sahabat yang ingin ada perubahan dan corak berbeda untuk Sulawesi Selatan bisa bersatu padu untuk mendukung beliau.

Untuk sahabat-sahabatku sekalian di Sidrap, Pinrang, Enrekang, Tana Toraja, Toraja, Luwu, Palopo, Luwu Utara hingga Luwu Timur, izinkan saya sharing goresan memori dan kesan saya ke kita semua, untuk bisa memetik hikmah perjuangan Darwis Ismail yang luar biasa itu.

Mari terus mendukung, bersama dia, berari anda bersama saya juga.

Penulis

Kamaruddin ‘Denun’ Azis, founder Pelakita.ID

Ketua Ikatan Sarjana Kelautan Unhas 2010-2012

 

Related posts