Keistimewaan Warung BUKU JUKU di Cilallang Banta-Bantaeng

  • Whatsapp
Menjajal Warung Ikan Bakar Buku Juku (dok: Istimewa)

DPRD Makassar

PELAKITA.ID – Sederhana, murah dan bersih. Itu kesan yang disampaikan Suwarno Sudirman tidak lama setelah menuntaskan makan siangnya di Warung Ikan Bakar Buku Juku, Sabtu, 30/9.

Warung itu berlokasi di Jalan Cilallang Banta-Bantaeng, Kota Makassar. Spot kuliner unik ini dapat dijangkau dari Jalan RS Faisal dan Jl Rappocini Raya. Lokasinya bersebelahan Kampus Politeknik Kesehatan Banta-Bantaeng.

“Ikannya tawwa segar, ikan bagus-bagus,” tambah Anwar Wahab, kolega Suwarno.

Ikan bakar khas Buku Juku (dok: Istimewa)

Warung Ikan Bakar Buku Juku dikelola oleh Irfan Taufiq Daeng Jiwa dan istrinya Ariskia Alfin Tandi.

Kapasitas warung tak terlalu luas, bisa menampung 10 orang sekali sesi santap ini.

Di dalam ada meja panjang dan sekira 10 bangku plastik. Agak ke dalam ada dapur terbuka.

Daeng Jiwa mengaku warungnya memang tidak seperti warung kebanyakan yang buka sampai malam.

“Kami bukanya jelang siang dan biasanya sudah tutup jelang sore,” kata dia saat ditemui Pelakita.ID.

“Umumnya pengunjung datang karena telah mengorder, kalau pun ada yang singgah, itu biasanya karena memang stok ikan lagi banyak-banyaknya,” jelas Jiwa.

“Bisaki hubungi Whatsapp 085823360649 kalau mau order,” sebutnya.

Pria yang memulai usahanya sekitar lima tahun lalu ini awalnya bekerja di Lelong Rajawali.

Saat ditanya, mengapa menggunakan nama Buku Juku, atau Tulang Ikan untuk warung ikannya, Jiwa menyebut sebagai tanda bahwa sajian akan selalu tandas atau habis.

“Dan yang tersisa hanya tulangnya,” kata dia.

“Penamaan ini oleh Daeng Ical, yang pernah wakil wali kota Makassar. Dia dulu sering ke sini bersama kawan-kawan jurnalis Makassar,” tambah pria asal Kampung Mallaga, Kassi, Galesong Selatan itu.

“Beberapa waktu lalu pernah datang sama Pak Aco,” tambahnya.

Selamat menikmati Warung Ikan Bakar Buku Juku (dok: Istimewa)

Siang itu, Suwarno, Anwar dan Pelakita.ID menikmati tiga potong ikan bakar yang terdiri dari kakap putih dan ‘Kaneke’ plus tiga porsi sayur sop.

Lammoroki (murah) tawwa, 140 ribu untuk kita semua plus air mineralnya,” puji pria yang akrab disapa Romo itu.

“Sambel dan raca’ mangganya juga enak,” imbuhnya.

“Yang sederhana, dan apa adanya ini yang bikin selalu dirindukan,” tambah Anwar yang akrab disapa Om Joni ini.

Selain sayur sup, biasanya tersedia pula sayur kangkung dan sayur santan.

“Sayur sederhana, tapi banyak yang cari,” tutup Daeng Jiwa.

 

Penulis Denun

 

 

Related posts