Catatan Denun: Mengapa IKAFE Unhas begitu kreatif?

  • Whatsapp
Mohammad Suaib Mappasila (dok: istimewa)

DPRD Makassar

PELAKITA.ID – Bandung menjadi kota ke-7 dari 8 kota perhelatan Ramadan IKAFE Unhas Tour 8 Kota. Kota yang selalu memberikan kejutan dan hal-hal diluar prediksi. Host-nya kali ini Teteh Doktor Azmi Geulis.

“Setelah bukber dengan menu khas Pasundan, lanjut ngopi-ngopi di Kopi Jenderal Buwas. Terima kasih Bandung. Sampai jumpa di bukber dan tarawih pamungkas di Surabaya akhir pekan ini.”

Dua paragraf di atas comotan dari status FB Mohammad Suaib Mappasila. Gilak! Pekan lalu di Makassar, sekarang sekretaris IKAFE Unhas itu sudah di Bandung aja silaturahmi alumni? Hebat bukan?

Read More

Jika sosodara penggiat organisasi kealumnian, aktif di Ikatan Alumni Universitas Hasanuddin belakangan ini maka Putra Jeneponto ini pasti pernah hinggap di ruang memori.

Dia pernah digadang sebagai salah satu ketua IKA Unhas jelang pemilihan ketua umum IKA Unhas tahun lalu.

Meski relatif muda, dia tak sungkan mengambil ininsiatif maju sebagai salah satu alumni calon nakhoda saat itu.

Sejumlah kegiatan digelar organisasi alumni Ekonomi (dan Bisnis) saat itu dan ada nama Suaib di situ.

Ngopi bareng alumni, menggelar seminar Ekonomi (pelakita mencatat banyak postingan terkait materi dan pembicara mereka), reuni alumni, dan sejumlah anjangsana tokoh FE Unhas digelar.

Hasil Musyawarah Besar IKA Unhas memang mendudukkan tokoh Andi Amran Sulaiman, tetapi bagi penulis setidaknya ada fakta terang benderang tentang bagaimana seorang Suaib dan organisasi IKAAFE mengambil peran, menggelar silaturahmi riang gembira demi perhelatan Mubes IKA Unhas itu.

Tak bisa disangkali, manuver IKAFE saat itu sungguh indah.

Ada soliditas yang kuat, kontributif di persidangan serta berani tampil beda. Beda dalam arti tetap semangat memberi masukan pada proses persidangan, kritis dan punya bargaining yang kuat hingga proses voting ketua umum.

Sosok alumni FE Unhas seperti Hendra Noor Saleh nampak cekatan memimpin sidang Mubes, tanda bahwa dia bukan kaleng-kaleng.

Tanda bahwa IKAFE punya talenta alumni yang partisipatif, tidak semata-mata sebagai elite yang duduk manis tanpa expertise praktik keorganisasian.

Pasca Mubes IKA Unhas

Seperti sosodara tahu, Mubes IKA Unhas riang gembira, semua senang, semua menang.

Meski penulis juga sempat mengklaim istilah riang gembira itu pertama kali dirilis dari artikel Pelakita.ID namun upaya IKAFE menuliskan di jaket rompi mereka dengan diksi ‘riang gembira’ penanda bahwa mereka berhak atas tagline hebat itu.

Sosodara, meski demikian, pasca Mubes itu, jika penulis memberi pertanyaan ke anda semua, organisasi alumni dari Unhas, siapa atau organisasi IKA mana gerangan, yang bisa sekreatif IKAFE sejak saat itu hingga teranyar dalam suasana bulan Ramadan yang bisa menggelar tur 8 kota se-Indonesia?

Pekan lalu, penulis bertemu Suaib Mappasila di Hometown Kopizone Makassar.

Dia membaur di antara Moh Hasymi Ibrahim, Ni’matullah RB dan beberapa pentolan IKAFE Unhas termasuk ketuanya yang nampak selalu muda, energik, humble, Hendra Noor Saleh.

Suaib dan ketuanya itu tak lupa untuk silaturahmi dengan anak-anak Warkop yang juga alumni Unhas. Ada dari Pertanian, Sastra, Kelautan-Perikanan, Fisip hingga Teknik.

Mereka menyatu di pelataran warkop fenomenal itu membanting kartu, melepas busur canda, seperti me-refresh memori pengalaman semasa menjadi mahasisswa atau aktivis kampus.

Wakil Ketua DPRD Sulsel Ni’matullah RB bersama para koleganya di Home Town Kopizone (dok: Ilham Hanafie)

Inilah yang penulis sebut sebagai kreativitas membaur buah dari kedalaman pemahaman pada leadership anggota, alumni dan pengurus IKA. Atau kalau mau ditetik benang merah manajerialnya sebagai ‘kesediaan mendengarkan semangat dan harapan alumni’.

Penilaian penulis itu, sebangun dengan pengalaman berinteraksi berdiskusi dengan Suaib sepekan sebelum di Hometown Kopizone itu.

Apa yang membuat IKAFE sebegitu kreatif?

Itu pertanyaan penulis saat memberi kesempatan kepada Sekum IKAFE M. Suaib Mappasila pada bincang daring Arah Pergerakan Mahassiswa, Jejaring Alumni dan Tantangan Unhas bersama Prof JJ pada 29 Maret 2023.

Dia yang semestinya fokus di rapat dengar pendapat dengan Mahfud MD dan DPR RI ini menyiapkan waktunya untuk berbagi dengan para koleganya, dengan alumni Unhas.

Ada beberapa poin yang disampaikan di antaranya, pada ruang dan waktu, sebagai alumni, sebagai bagian dari organisasi alumni kita perlu memahami konteks dan tantangan pada dunia kemahasiswaan.

“Karena beda zaman, maka berbeda pula tindakan dan pilihan mahasiswa,” ucap Suaib.

“Mahasiswa saat ini bisa mendapatkan dengan leluasa dari luar lingkungan kampus. Mereka semua bisa mendapatkan di sana, karena ada aplikasi, mereka lari ke sana,” katanya.

“Yang penting itu ada dialog, jangan sampai kita alergi terhadap kritik, kita bisa kritik membangun,” ucapnya.

 Suaib juga menyatakan alumni adalah aset bagi Unhas sehingga kampus atau perguruan tinggi harus ikut membuka relasi. Organisasi alumni, seperti IKA Unhas sudah berperan sejak dulu.

 “IKA Unhas dulu dan sekarang berbeda masanya namun tetapi kreatif. IKA semasa JK berhasil berkegiatan, dengan sekarang kondisi bebeda tapi JK memasang alumni di beberapa posisi,” ujar dia.

 Suaib meyakini saat ini alumni Unhas sangat antusias mengambil peran.  “Mereka punya motivasi juga seperti apa alumni ke depan,” ujarnya.

 Bagi dia perjalanan IKAFE sejauh ini tidak lepas dari pandangan bahwa IKA harus bertransformasi dan itu harus sejalan atau sama dengan mahasiswa dan kampus.

“Harus bertransformasi, transformasi itu seperti apa, bisa mengambil contoh gunung es,” ucapnya.

 “Yang kita perlu benahi sekarang adalah yang tidak kelihatan pada gunung es itu,” ucapnya. Yang tidak kelihatan itu adalah mindset, cara pandang baik itu mahasiswa, alumni hingga Unhas sendiri.

 Distribution of roles

 “Kita memang di KAFE, memang kita diikat untuk berbagi tugas. Istilahnya kalau kita punya misi kita telah tentukan, kalau saya tidak bisa, jangan saya yang maju. Jadi efektif pergerakan, dari pada saya pergi ke Rektor misalnya, kalau ada kawan yang lebih dekat, silakan ke sana,” jelas Suaib.

 Pilihan itu, kata Suaib bisa juga bermakna sebagai regenereasi, untuk adik-adik bisa mengambil peran. “Jadi ini berkesinambungan.,” imbuhnya.

Bagi Suaib, distribution of roles di organsiasi seperti IKA sangat penting. Tak semata diterapkan diorganisasi bisnis atau non-charity. Alasannya, demi pembelajaran bersama, demi kesinambungan organisasi.

Buka puasa IKAFE Unhas di Jabodetabek (dok: istimewa)

 Di IKAFE, Suaib menyatakan, mesti dibuat moderen dengan menyiapkan data base alumni dan potensinya.

“Ada program kerja berkesinambungan, ada kegiatan, kalau tidak ada kegiatan ya susah, bangun komunikasi yuniro senior untuk membangun militanasi alumni untuk kebaikan, dengan kerja,” tambahnya.

 “Dengan demikian kita mudah untuk menggerakkan, membangun, jadi kampus bangga pada alumni, alumni bangga pada kampus. Ada rasa bangga, jangan sampai sebaliknya,” kunci Suaib.

 Sampai di sini, kita bisa paham, mengapa IKAFE se-kreatif itu. Setidaknya pada apa yang telah mereka tunjukkan dari sebelum Mubes IKA Unhas hingga di Ramadan Kareem ini.

Di pengujung Ramadan, IKAFE bersiap menggenapkan Tur Ramadan mereka setelah Jabodetabek, lalu Makassar, pada tanggal 6 hingga 10 April 2023, satu persatu menggeliat, ada Sorong, Mamuju, Balikpapan, Bandung, terakhir Surabaya. Dahsyat memang!

Sebelum mengakhiri postinganini, ada baiknya untuk mencermati pandangan Pengurus Dewan Pembina 2022-2026 Fankar Umran yang mengutarakan, soliditas alumni harus dijaga dengan mengintensifkan momen silaturahmi seperti yang dilakukan pihaknya dengan menggelar acara Tur Ramadhan 8 kota ini.

Menurutnya, rutinitas pertemuan tidak hanya akan mengakbrabkan alumni, namun juga membuka peluang besar untuk lahirnya sinergi antar alumni dalam rangka peningkatan kapasitas keilmuan, kepemimpinan dan kewirausahaan yang memberi nilai tambah bagi alumni.

Menurut CEO BRI Insurance itu, dalam pertemuan lintas angkatan almamater akan selalu terbangun proses pembelajaran dan pengkaderan yang membangun wawasan, kekuatan emosional.

“Dan membuka pola pikir alumni yang dikemas secara santai dan penuh nuansa riang gembira,” jelasnya.

Bagi Fankar, wadah komunitas seperti IKAFE ini adalah momentum untuk menemukan bibit pemimpin profesional untuk mengisi berbagai pos strategis di aneka industri bisnis.

Alasannya, karena setiap orang memiliki kecenderungan untuk menarik figur yang dikenal, diketahui jejak rekamnya dan mampu bekerja sama dengan  diri mereka atau relasinya.

“Di organisasi-organisasi berbasis komunitas lain sangat kental tarik-menariknya dalam mengisi posisi strategis. Mereka tidak segan menarik juniornya ketika berada di atas puncak dan memiliki kewenangan,” kunci alumni yang pernah Kanwil BRI Jakarta II Ini.

 Sosodara, jika demikian, adanya, sosodara, apa kabar IKA-IKA-ta? IKA Fakultas, Jurusan dan IKA-IKA yang lain?


Penulis:

Kamaruddin ‘Denun’ Azis, alumni Program Strategik Manajemen Magister Manajemen FE Unhas Baraya 2009-2010
Bisa dihubungi di email daeng.nuntung@gmail.com

Related posts