dr Agiq Malawat mengenang Bapak Dokter Dasril

  • Whatsapp
Prof dr Dasril Daud, SpA (K)

DPRD Makassar

PELAKITA.ID – dr Dasril Daud, SpA adalah Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia Cabang Sulsel. Dia disebut dokter legendaris dari Makassar dan merupakan Guru Besar di Fakultas Kedokteran Unhas.

dr Dasril aktif memberi layanan konsultasi kesehatan anak dan dapat ditemui di RSIA Paramount dan RS Ibnu Sina Makassar.

Dia membuka praktek di Jalan Tupai Makassar dan dikabarkan tutup usia pada Kamis, 4 Februari 2021 karena sakit.

Tulisan berikut adalah kenangan dr. Tenriagi Malawat, SpB-KBD atau akrab disapa dr Agiq tentang sang dokter legendaris tersebut. dr Agiq menyebutnya ‘Bapak Dokter Dasril’.

Meski sempat ragu saat pelakita.ID meminta untuk menayangkan pada laman ini tetapi akhirnya mengiyakan juga.

Menurutnya,  catatan berikut ditulis pada pukul 4 sore 4 Februari 2021, ditulis dalam waktu sekitar satu jam.

Berkut kenangannya.

Di suatu sore di penghujung Desember 1998, saya dan seorang kawan dari Dinas Kesehatan bermotor menuju Hotel Sulawesi di dekat gerbang batas Kota Majene.

Ada tamu penting yang akan datang dan harus kami sambut. Kami mendahului tiba di hotel tersebut. Kami mengecek kamar yang telah dibooking sebelumnya termasuk kebersihan toilet dan sepreinya. Jangan sampai ada kelalaian yang akan membuat kami malu.

Sebenarnya saya yang grasa grusu mendengar rencana kedatangan tamu istimewa ini. Saya berkata pada staf Dinkes bahwa tamu ini orangnya resik, tegas dan detail.

“Jangan sampai kita malu kalau ada yang kotor atau tidak sesuai dengan bagaimana semestinya hotel utama di daerah – harus bersih dan tidak malu-maluin!.

Maklum di masa itu hotel yang representatif di Kota Majene hanya Hotel Sulawesi dan Hotel Bogor. Selayaknya semua sempurna bagi tamu istimewa ini.

Setelah memastikan semuanya oke, maka kami menunggu tibanya sang tamu. Pada waktu itu belum ada jaringan telepon seluler di Majene. Berita terakhir mobil yang membawa rombongan tamu sudah berangkat pagi ini.

Mestinya sebentar lagi tiba. Namun sampai jam 7 malam tamu yang kami tunggu belum juga tampak.

Saya pun harus segera meninggalkan Hotel Sulawesi karena ada tugas mengganti praktek seorang dokter senior yang berhalangan tugas seminggu ini.

Setelah praktek jam 11 malam saya langsung pulang ke rumah Puskesmas saya. Alhamdulillah, rombongan tamu sudah tiba dan sudah selesai makan malam serta saat itu bersiap istirahat.

Pagi hari berikutnya, belum lagi pukul 7, saya sudah berada di sebuah sekolah dasar negeri yang termasuk di dalam wilayah kerja Puskesmas Banggae II, tempat saya bertugas.

Saya memakai baju dinas dokter bersama beberapa orang staf Dinkes lainnya. Melihat hal ini, anakanak SD itu berteriakteriak histeris. Mereka sudah memperkirakan bahwa mereka akan disuntik. Aaaah…. ngerinyaa!

***

Suara jeritan namun bercampur gelak tawa mereka berkumandang ke segenap penjuru. Hari itu kelas 4 dan 5 diliburkan belajar. Kalau tidak salah sejumlah 2 kelas 4 dan 2 kelas 5. Sekitar 80 orang murid.

Mereka digiring masuk ke 2 ruang kelas. Saya masuk ke salah satunya dan mulai berbicara dalam bahasa Indonesia dicampur bahasa Mandar yang terpatahpatah. Maklum, baru 6 bulan bertugas PTT di Majene.

Kawan saya dari Dinkes berbicara di kelas yang lain. Kami berusaha menenangkan mereka dari rasa takut disuntik. Iya benar mereka akan bertemu dengan tamu dari Makassar, dr. Dasril Daud namanya, beliau spesialis anak, yang akan mengambil sampel darah mereka masingmasing 4 cc.

Sekitar jam 9, Bapak dr. Dasril dan timnya dari Makassar tiba di SD tersebut.

Mereka tadi disambut secara resmi di rumah jabatan Kepala Dinas Kesehatan Majene dan sarapan di sana.

Wajah dr. Dasril yang cerah dan penuh senyum menerima jabatan tangan saya. Saya memperkenalkan diri pada beliau.

Dok, saya Agiq Malawat, anaknya Hamdja.

Senyumnya makin lebar, “Agiiiiq…. orang Dinkes tadi bilang kamu seksi sibuk di sini yaaa! Tadi malam tidak sempat bertemu, katanya kamu pergi praktek.”

“Ganti praktek, dok, saya ini pemain pengganti, kalau ada senior yang berhalangan saya disuruh mengisi praktek sorenya.”

Kami ngobrol beberapa saat kemudian, beliau menjelaskan bahwa sampel darah yang diambil nanti akan diteliti gennya, beliau akan memeriksa pola gen untuk penyakit Thalasemia (salah satu jenis kelainan darah yang bersifat genetik) pada 4 suku di Sulawesi Selatan (Bugis, Makassar, Mandar dan Toraja).

Majene adalah salah 1 kabupaten yang berpenduduk asli suku Mandar. Tidak lama kemudian salah seorang anggota timnya memberitahu bahwa semua sudah siap.

Kami pun mulai bekerja. Anggota tim dan staf dinkes bekerja sama sepanjang pagi hingga siang hari itu.

***

Ada yang di bagian mencocokkan data anak, ada yang menimbang badan, ada yang mengambil darah dan ada yang bertugas membagikan hadiah kecil yang dibawa dr. Dasril.

Beliau membawa bungkusan plastik berisi biskuit dan minuman kotak untuk masing-masing anak dari Makassar.

Saya melihat dr. Dasril berjalan dari 1 bagian ke bagian lain mengecek kesempurnaan pekerjaan anggota timnya.

Beliau tidak menghiraukan lengking jeritan anakanak tersebut. Senyumnya tetap cerah namun fokusnya tetap tinggi melihat pengambilan data dan sampel darah.

Saya? Saya di mana waktu itu? Saya ngapain?

Tugas saya mengejarngejar anakanak yang berlarian takut disuntik. Saya membantu membagikan goodybag dari Bapak Dokter.

Dan semuanya saya laksanakan dengan senang hati walaupun telinga budeg diserbu jeritan anakanak tersebut.

Sekitar jam 2, pekerjaan selesai. Tidak semua anak dapat diambil sampel darahnya karena alasan yang berbeda-beda.

Ada yang berat badannya kurang, ada yang sementara batuk atau agak demam, serta penyebabpenyebab lainnya.

Namun pun demikian dr. Dasril tampak senang saja. Tugas hari ini terbilang lancar. Sore itu juga dr. Dasril berangkat kembali ke Makassar.

Anggota tim yang lain tetap tinggal untuk menuntaskan tugas kedua pada keesokannya harinya di sekolah lain.

***

Saat melepas dr. Dasril naik ke mobilnya, beliau berkata pada saya.  “Agiq, kamu masuk pendidikan Pediatri nanti ya! Saya tunggu di Bagian Anak.”

Kalimat Prof. Dasril ini sangat melekat dalam sanubari hingga kini. Bila saja saya mengambil jalur Pendidikan Pediatri saat itu, tentu saya akan lebih sering bertemu dengan beliau.

Saya heran saja mendengar penawaran beliau.

Mungkin beliau lihat cara saya mengarahkan muridmurid SD tersebut cukup mumpuni untuk menghadapi pasien anak kelak. Entahlah.

Waktu itu saya sangat tersanjung dengan ajakan beliau. Saya cium tangannya saat beliau akan berangkat.

Saya tidak masuk Bagian Anak, Prof, maafkan saya. Saya tidak pernah tega melihat anak kecil yang sakit.

Sedih selalu mendominasi hati saya melihat mereka itu (Bahkan Kepala Bagian Bedah yang juga menawarkan saya untuk mengambil subspesialisasi Bedah Anak pun saya tolak!)

Biarkanlah saya menjejaki bidang kedokteran yang lain, ya Prof.

Oh ya, hasil penelitian di Majene itu menjadi salah satu bagian disertasi beliau mencapai gelar Doktor dan Profesornya.

Beliau adalah guru kami semua. Beliau sangat serius, tegas, dan disiplin dalam menjalankan tugasnya sebagai seorang dosen dan dokter. Senyum tak pernah lepas dari wajahnya.

Semua terbayang jelas sekarang bagi saya. Sungguh sedih hati saya mendengar kabar beliau sakit dan akhirnya pergi meninggalkan kami semua siang ini. Bapak, husnul khatimah.

Bapaaaaak. Syahid Bapaaaak….

***

Saat beliau dirawat saya sempat mengintip lewat dinding kaca pembatas ruangan. Inginnya saya menghampiri beliau namun saya tidak ingin saya membawakan beliau penyakit yang mungkin menempel di baju saya.

Saya ingin beliau kembali sehat dan bugar seperti sediakala

Bila waktu itu saya mendoakan Puang Ibu, maka selalu pula saya mendoakan Bapak Dasril dan Ibu Trully di kamar sebelah.

Saya sebut nama mereka dalam keheningan ruanganruangan beku di gedung RS itu.

Ya Allah, ya Rabbi, terimalah Bapak Dasril dalam Kelapangan-Ta’, kesejukan-Ta’, keindahan Tamantaman Surgawi-Ta’.

Bapak, banyak anakanak Bapak yang mendoakan sejak Bapak sakit tempo hari.

Insya Allah doa-doa itu akan menemani Bapak selamanya.

Makassar, 4 Februari 2021

 

Related posts