Akademisi dan pengamat politik Dr Andi Luhur Prianto, memberikan penilaiannya atas kinerja Pemerintah Andi Ina Kartika Sari – Abustan. Penilaian yang disebutnya ‘kini lebih menyala’. Mari simak, sebagaimana dipaparkan saat menjadi pembicara pada Bincang 1 Tahun Pemerintahan Andi Ina Kartika Sari yang digelar Tribun Timur, 17 Februari 2026.
PELAKITA.ID – Andi Luhur memulai penilaiannya dengan menyebut ada sebuah guyonan klasik yang kerap terdengar di kalangan pelintas jalur Trans-Sulawesi: “Barru A, Barru B, Barru C.” Ungkapan ini merujuk pada bentang geografis Kabupaten Barru yang memanjang di pesisir barat Sulawesi Selatan.
Saking panjangnya, kaya Luhur, seorang penumpang bus dari Makassar menuju Parepare bisa tertidur, terbangun, dan merasa masih berada di tempat yang sama.
“Barru lama dipersepsikan sebagai wilayah transisi—bergerak, tetapi tak benar-benar tiba,” ujar Luhur disambut gelak peserta diskusi.
Dalam amatan sosiopolitik Luhur Prianto, akademisi yang baru menuntaskan risetnya di Bremen University, Jerman, Barru selama bertahun-tahun cenderung berjalan dalam pola business as usual.
“Stagnasi terasa bukan karena ketiadaan sumber daya, melainkan akibat kepemimpinan yang terjebak dalam rutinitas,” ujar Luhur.
“Namun beberapa tahun terakhir, narasi itu mulai retak. Barru yang dulunya redup kini memperlihatkan tanda-tanda “menyala”,” kata dia.
Disebutkan, bukan sekadar karena pergantian nakhoda, melainkan akibat pergeseran paradigma kepemimpinan yang mencoba memecah keheningan panjang di wilayah yang kerap disebut Tanah Hibrida ini.
Setidaknya, ada lima catatan penting dari momentum perubahan tersebut.
1. Rekonsiliasi Elit: Pecahnya Kebuntuan Politik Tradisional
Secara historis, Barru adalah arena kontestasi klan-klan politik tradisional dengan akar pengaruh yang dalam. Fragmentasi elit kerap menjadi rem laten bagi akselerasi kebijakan publik.
Menyatukan faksi-faksi besar dalam satu visi pembangunan hampir selalu tampak mustahil.
Kondisi itu berubah di bawah kepemimpinan Andi Ina Kartika Sari. Dengan legitimasi sosial-politik yang kuat—termasuk sebagai putri dari tokoh politik disegani Andi Tja—kebuntuan elit yang lama mengeras mulai mencair.
“Konsolidasi politik yang terjadi bukan sekadar simbolik, tetapi nyata dalam harmonisasi relasi antara eksekutif dan DPRD sejak tahun pertama pemerintahan. Sebuah capaian yang di banyak daerah lain baru tercapai setelah dua hingga tiga tahun,” ucap Luhur.
Modal politik semahal ini jarang dimiliki kepala daerah. Stabilitas yang lahir darinya membuka ruang kebijakan yang jauh lebih luas.
2. Simbiosis Politisi Populis dan Teknokrat
Menurut Luhur, salah satu kekuatan kepemimpinan Barru hari ini terletak pada komposisi duet Andi Ina Kartika Sari dan Andi Bustan. Ini bukan pasangan simbolik, melainkan pembagian peran yang fungsional.
Andi Ina tampil sebagai politisi populis berpengalaman, piawai dalam komunikasi publik dan lobi politik lintas level.
“Ia membuka pintu, membangun kepercayaan, dan mengonsolidasikan dukungan. Sementara Andi Bustan hadir sebagai teknokrat murni—penjaga dapur kebijakan—yang memastikan visi politik diterjemahkan ke dalam angka anggaran, prosedur administrasi, dan eksekusi lapangan yang presisi,” sebut Luhur.
Kombinasi ini memangkas waktu konsolidasi birokrasi. Mesin pemerintahan tidak lagi tersandera resistensi internal, tetapi relatif cepat masuk ke fase implementasi.
3. Mencari “Dentuman” di Tengah Defisit Fiskal
Memimpin Barru hari ini jauh lebih menantang dibanding satu dekade lalu. Ruang fiskal semakin sempit, sementara sinkronisasi dengan program nasional menjadi keniscayaan.
Program seperti Sekolah Rakyat, Koperasi Merah Putih, hingga persiapan Makan Bergizi Gratis mencerminkan upaya harmonisasi dengan agenda pusat.
“Namun publik menunggu lebih dari sekadar kepatuhan administratif. Dengan modal politik yang besar, Barru membutuhkan sebuah “dentuman”—kebijakan ikonik yang meninggalkan jejak struktural dan diingat lintas generasi. Pertanyaannya bukan apakah pemerintah bekerja, tetapi apakah kepemimpinan ini mampu melampaui rutinitas dan melahirkan legacy yang nyata,” tambah Luhur.
4. Realitas Viral dan Disparitas Wilayah
Di era digital, kinerja pemerintah daerah tak lagi hanya dinilai lewat laporan resmi. Jembatan putus, akses kesehatan terhambat, atau jalan rusak di wilayah terpencil bisa viral dalam hitungan jam.
Kata Luhur, mahasiswa, aktivis, dan grup WhatsApp warga menjadi pengawas informal yang menuntut quick response, meski prosedur anggaran kerap tidak secepat tuntutan publik.
Disparitas wilayah memperberat tantangan ini. Wilayah pegunungan di timur Barru—seperti Desa Yataren—masih tertinggal dibanding kawasan pesisir.
Aksesibilitas barang dan orang menjadi pekerjaan rumah besar. Instrumen seperti Inpres Jalan Desa mulai membuka isolasi, tetapi agenda pemerataan antara “Barru Pesisir” dan “Barru Pegunungan” harus menjadi prioritas agar kemajuan tidak terpusat di sepanjang jalan poros provinsi.
5. Pariwisata Komunitas sebagai Katrol Ekonomi
Untuk menekan kemiskinan secara berkelanjutan, menurut Luhur, Barru tidak bisa terus mengandalkan bantuan sosial yang karitatif. Diperlukan mesin pertumbuhan ekonomi lokal yang bekerja secara agregat. Pariwisata berbasis komunitas menawarkan peluang itu.
Wilayah pegunungan Barru menyimpan kekayaan lanskap dan budaya yang besar. Jika dikelola serius, transformasi dari pertanian subsisten menuju pariwisata komunitas dapat menciptakan efek domino bagi UMKM dan penyerapan tenaga kerja lokal.
“Ketika pariwisata menyala, penurunan kemiskinan terjadi secara organik—melalui penguatan struktur ekonomi desa, bukan sekadar transfer bantuan,” ujar pria yang mengaku berasal dari Pujananting, Barru ini.
Penutup: Momentum Emas yang Tak Boleh Menguap
Bagi Andi Luhur, Barru kini berdiri di ambang momentum sejarah.
Peluang untuk benar-benar bersinar terbuka lebar, terlebih dengan potensi posisi strategis di level Partai Golkar Sulawesi Selatan.
Jabatan politik di level tersebut bukan soal prestise semata, melainkan tiket strategis untuk memobilisasi sumber daya pusat ke daerah.
Pesannya jelas: momentum ini tidak boleh menguap. Dengan stabilitas elit, sinkronisasi pusat-daerah, dan potensi alam yang besar, Barru memiliki hampir semua prasyarat transformasi.
Apakah semua ini akan melahirkan “dentuman” perubahan yang terasa hingga meja makan warga Desa Yataren, ataukah Barru akan kembali terlelap dalam ritme lama “Barru A, B, C”?
Jawabannya bergantung pada satu hal: keberanian kepemimpinan hari ini mengubah janji politik menjadi kenyataan sosial yang dirasakan oleh setiap warga.
Editor Denun
