- Masalah yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari justru datang dari obat tradisional. Secara regulasi, obat tradisional tidak boleh mengandung bahan kimia obat.
- Pihak Pengawasan pernah menemukan bahwa dari lebih seribu sampel produk yang beredar, puluhan obat tradisional—terutama yang diklaim meningkatkan stamina dan kemampuan seksual—ternyata mengandung bahan kimia obat. Ini bukan kekeliruan kecil, melainkan praktik penipuan sistematis
Anshar Saud, S.Si, M.Farm., Apt. Dosen dan Apoteker Fakultas Farmasi Universitas Hasanuddin (Unhas)
PELAKITA.ID – Di tengah gempuran iklan obat kuat, jamu “perkasa”, kopi herbal, dan suplemen yang menjanjikan kejantanan instan, ada satu kenyataan pahit yang jarang disampaikan secara terbuka: banyak dari produk itu adalah tipu-tipu.
“Sebagai apoteker sekaligus dosen farmasi sosial dan administratif, saya merasa perlu menyampaikan pengakuan ini kepada publik—bukan untuk menghakimi, tetapi untuk mengingatkan,” ucap Anshar Saud.
Dia mengutarakan itu saat berbicara pada Ngopi Bareng Judy Rahardjo dan Sudirman Nasir, Problematika Kesehatan Warga Urban Makassar: dari Data, Kebijakan dan Catatan Warga yang digelar Pelakita.ID dan FKM Universitas Hasanuddin, 15 Februari 2026 di Cafe Red Corner, Makassar.
“Bidang yang saya tekuni bukan sekadar meracik obat di laboratorium. Fokus saya justru pada relasi antara manusia, masyarakat, dan obat: bagaimana obat diproduksi, diedarkan, dipersepsikan, dan akhirnya dikonsumsi,” tambahnya.
Menurut Anshar, dari sanalah dia melihat persoalan yang sesungguhnya.
“Masalahnya bukan hanya pada zat aktif, tetapi pada sistem yang memungkinkan kebohongan beredar luas dan dipercaya,” ujarnya.
Obat Palsu: Masalah Besar yang Masih Diremehkan
Dalam kajian farmasi global, berbagai studi menunjukkan bahwa sekitar 10–25 persen obat yang beredar di sejumlah negara adalah obat palsu.
“Artinya, dari empat obat yang dikonsumsi, satu di antaranya berpotensi tidak asli. Obat palsu bukan hanya obat tanpa izin edar. Ia mencakup obat yang mengklaim memiliki bahan aktif tertentu, padahal tidak ada,” tegas Anshar.
“Mengandung bahan aktif, tetapi kadarnya tidak sesuai standar, lalu menggunakan bahan lain yang sama sekali berbeda dan berbahaya serta bahkan diisi zat non-obat seperti serbuk, tanah, atau bahan kimia berisiko,” ungkapnya lagi.
Di Indonesia, kata Anshar, riset awal juga pernah menunjukkan angka yang mengkhawatirkan—sekitar seperempat obat diduga bermasalah.
“Sayangnya, di Makassar, kajian empiris tentang skala peredaran obat palsu masih sangat terbatas dan lebih banyak disentuh dari sisi hukum, belum dari perspektif kesehatan masyarakat dan perilaku konsumsi,” tambahnya.
Jamu, Herbal, dan Kebohongan yang Terlihat “Alami”
Dikatakan Anshar, masalah yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari justru datang dari obat tradisional. Secara regulasi, obat tradisional tidak boleh mengandung bahan kimia obat.
Namun, temuan di lapangan menunjukkan kenyataan yang bertolak belakang. Banyak jamu dan obat herbal dicampur secara diam-diam dengan Parasetamol, Allopurinol, Ibuprofen, Bahkan Sildenafil, zat aktif Viagra
Inilah sebabnya jamu-jamu bertongkat, kopi herbal, atau ramuan kuat pria terasa langsung manjur. Sekali minum, efeknya terasa. Di kampung-kampung, orang lalu berkata, “Ini jamu hebat, alami, sekali minum langsung jadi.”
Padahal yang bekerja bukan herbalnya, melainkan obat keras kimia yang disembunyikan.
“Pengawasan pernah menemukan bahwa dari lebih seribu sampel produk yang beredar, puluhan obat tradisional—terutama yang diklaim meningkatkan stamina dan kemampuan seksual—ternyata mengandung bahan kimia obat. Ini bukan kekeliruan kecil, melainkan praktik penipuan sistematis,” terang Anshar.
Sehat Palsu yang Berbahaya
Anshar mengalaminya sendiri dalam lingkar keluarga. “Seorang paman rutin mengonsumsi jamu yang katanya “menyehatkan”. Tidurnya nyenyak, nafsu makannya bagus. Dua bulan kemudian, wajahnya tampak montok—pipinya membengkak. Bagi orang awam, itu tampak sebagai tanda kesehatan. Bagi apoteker, itu alarm bahaya,” ucapnya.
Jamu tersebut mengandung deksametason, obat keras golongan kortikosteroid.
Efeknya memang membuat tubuh terasa segar karena menahan cairan dalam tubuh. Namun dalam jangka panjang, deksametason dapat menyebabkan osteoporosis, gangguan metabolik, penurunan daya tahan tubuh, hingga meningkatkan risiko kematian.
Inilah yang saya sebut sehat palsu—tampak baik di luar, tetapi perlahan merusak dari dalam.
Tahun lalu, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI menyita ribuan obat-obatan terlarang yang mengandung bahan kimia berbahaya di kawasan Jakarta Barat, salah satunya obat kuat. Selain menyita ribuan obat itu, satu pelaku berinisial MU pun diamankan petugas.
Pelaksanaan kegiatan penindakan khusus di DKI Jakartayaitu pada tanggal 30 Oktober 2025 Penyidik PPNS BBPOM di Jakarta bersama penyidik Metro Jaya berhasil mengungkap gudang sediaan farmasi ilegal di Kelapa Dua, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, yang telah beroperasi selama 4 tahun.
Tipu-Tipu Obat Kuat: Mengapa Mudah Dipercaya?
Pertanyaannya, mengapa masyarakat begitu mudah tertipu?
“Ironisnya, ini bukan hanya soal tingkat pendidikan. Masyarakat perkotaan yang bisa membaca dan menulis pun sering terjebak. Label dibaca, tetapi tidak dipahami. Nomor izin edar dicantumkan, tetapi tidak diverifikasi. Terlebih produk yang dijual daring—cepat, murah, tanpa tatap muka,” sebut Anshar.
Informasi antara produsen dan konsumen sangat timpang. Konsumen tidak dibekali literasi untuk memeriksa keabsahan produk, sementara edukasi publik tentang cara mengecek obat masih minim. Padahal, kanal pengaduan dan pengecekan sebenarnya ada, hanya tidak disosialisasikan secara luas.
Permintaan tetap tinggi, pasar terus hidup, dan produk palsu pun terus beredar.
Pola ini tidak berhenti pada obat kuat dan jamu. Ia menjalar ke kosmetik dan skincare. Produk yang menjanjikan hasil instan—putih cepat, glowing seketika, awet muda—banyak di antaranya mengandung merkuri, hidrokuinon, atau steroid.
Logikanya sama: yang dicari bukan keamanan, tetapi efek cepat. Dan di situlah penipuan menemukan pasarnya.
Saatnya Jujur dan Sadar
Tulisan ini bukan untuk menakut-nakuti, melainkan untuk membangun kesadaran. Tidak ada obat yang benar-benar manjur, instan, dan aman tanpa risiko. Jika sebuah produk terasa terlalu hebat, besar kemungkinan ada kebohongan di baliknya.
“Sebagai apoteker, saya merasa perlu berkata jujur tipu-tipu obat kuat itu nyata, dekat, dan berbahaya,” kata dia.
Yang dibutuhkan bukan hanya penindakan, tetapi literasi obat bagi masyarakat Lalu edukasi cara membaca dan memverifikasi izin edar dan kesadaran bahwa “alami” tidak selalu berarti aman
“Kesehatan tidak boleh dibangun di atas ilusi. Karena harga dari sehat palsu sering kali jauh lebih mahal: sakit berkepanjangan, kerusakan organ, bahkan nyawa,” kunci Anshar, pria yang mengaku berasal dari Galesong ini.
Editor Denun
