Baginya, problem kesehatan lingkungan di Tallo—dan Makassar secara umum—tidak bisa dipahami secara sektoral. Ia menegaskan bahwa isu limbah, sanitasi, narkoba, kriminalitas, hingga konflik sosial saling bertaut dalam satu ekosistem kerentanan.
PELAKITA.ID – Di tengah kompleksitas persoalan kesehatan lingkungan perkotaan, nama Basir, S.K.M, M.Sc dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddinmemilih jalur sunyi namun krusial: menyelami persoalan pencemaran lingkungan langsung dari ruang hidup masyarakat.
Sejak mulai aktif sebagai dosen pada tahun 2021, ia tidak hanya hadir di ruang kelas, tetapi juga menjadikan lapangan sebagai laboratorium pembelajaran dan refleksi kebijakan.
Pengalaman lapangannya berkelindan erat dengan perannya sebagai pengelola Praktik Belajar Lapangan (PBL) mahasiswa.
Setiap tahun, program ini menyisir berbagai wilayah dengan karakter lingkungan yang berbeda-beda—mulai dari Pangkep, Takalar, hingga beberapa kawasan pesisir dan pinggiran kota. Terbaru, kegiatan serupa tengah berproses di salah satu kabupaten di Sulawesi Selatan.
Namun, baginya, Makassar tetap menjadi episentrum pembelajaran yang paling kompleks dan menantang.
Ia menengok kembali ingatan masa mahasiswa, ketika PBL dilaksanakan selama bertahun-tahun di kawasan Tallo, sebuah wilayah yang sejak lama merepresentasikan paradoks pembangunan kota.
Kini, setelah menjadi dosen, ia kembali ke wilayah yang sama—bukan sekadar nostalgia akademik, tetapi sebagai bagian dari pengawalan jangka panjang terhadap problem kesehatan lingkungan yang belum tuntas.
Menurut pengamatannya, kondisi terberat masih terkonsentrasi di beberapa kantong permukiman, terutama di RW 5 kawasan Tallo, tepatnya di sekitar permukiman padat yang berada di belakang SMK 5 Makassar.
“Di wilayah ini, persoalan mendasar masih berkutat pada ketiadaan fasilitas pengelolaan sampah yang memadai. Tempat penampungan sementara (TPS) tidak tersedia secara merata, memaksa warga mencari lokasi pembuangan sendiri—sering kali ke ruang-ruang yang tidak semestinya,” sebut Basir
Dia mengungkapkan itu saat memberikan refleksi pengalaman pada Ngopi Bareng Judy Rahardjo dan Sudirman Nasir, Problematika Kesehatan Urban Makassar, dari Data, Kebijakan dan Catatan Warga yang digelar di Cafe Red Corner 15 Februari 2026.
Meski demikian, ia mencatat adanya keberlanjutan program berbasis masyarakat yang telah dirintis sejak masa dosen senior terdahulu.
“Beberapa RT dan RW masih menjalankan sistem pengelolaan sampah secara swadaya, walaupun tidak lepas dari konflik klasik: ketidakjelasan insentif bagi pengumpul sampah, keterbatasan dukungan operasional, serta lemahnya sistem pembayaran,” kata basir.
“Di sisi lain, terdapat pula wilayah yang relatif stabil karena kepemimpinan lokal yang aktif dan partisipatif,” tambahnya.
Baginya, problem kesehatan lingkungan di Tallo—dan Makassar secara umum—tidak bisa dipahami secara sektoral. Ia menegaskan bahwa isu limbah, sanitasi, narkoba, kriminalitas, hingga konflik sosial saling bertaut dalam satu ekosistem kerentanan.
Bahkan, dalam beberapa diskusi lintas disiplin yang ia ikuti bersama kalangan hukum dan kebijakan publik, persoalan utama kerap kembali pada hal yang sama: lemahnya infrastruktur dasar, terutama pengelolaan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dan distribusi fasilitas lingkungan hingga tingkat RT/RW.
Ia juga menyinggung program-program nasional baru yang tengah berjalan, termasuk yang berpotensi menimbulkan limbah tambahan.
Namun, ia memilih bersikap hati-hati—lebih banyak menelusuri data, berdiskusi dengan pakar lingkungan dan kelautan, serta mengamati dampaknya secara langsung sebelum menarik kesimpulan akademik maupun advokasi kebijakan.
Bagi akademisi muda ini, Tallo bukan sekadar lokasi penelitian, melainkan cermin kegagalan dan harapan pembangunan kota.
“Wilayahnya luas, masalahnya kompleks, dan perubahan yang terjadi masih bersifat sporadis. Namun justru di sanalah, intervensi kesehatan lingkungan paling bermakna bisa dimulai—dari akar persoalan, dari ruang hidup warga,” jelasnya.
Ia menutup refleksinya dengan sebuah kesadaran sederhana namun mendalam: membicarakan kesehatan kota berarti membicarakan seluruh dimensi kehidupan sosial.
Lingkungan yang tercemar bukan hanya soal sampah dan limbah, tetapi tentang keadilan, martabat, dan keberanian untuk mengakui bahwa pembangunan tidak selalu berjalan di jalur yang benar.
Dan bagi seorang akademisi, keberpihakan itu dimulai dengan hadir, mendengar, dan bertahan di lapangan—bahkan ketika medan yang dihadapi lebih mirip “tanah kuburan” ketimbang ruang akademik yang nyaman.
