Lusia Palulungan Paparkan Tantangan Partisipasi Perempuan dalam Media dan Ruang Publik

  • Whatsapp
Bupati Bantaeng Fathul Fauzy Nurdin (kedua dari kanan) bersama Direktur Jaringan Gender Indonesia, Liliy Candinegara, Sekdin Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Gowa, Mustamin Raga dan Lusia Palulungan (INKLUSI BaKTI)

Kurangnya dukungan keluarga dan anggapan bahwa ranah publik adalah wilayah maskulin semakin menguatkan stereotip bahwa perempuan bersifat emosional dan tidak rasional, sehingga tidak layak tampil sebagai aktor utama di ruang publik maupun media.

Lusia Palulungan, Program Manager INKLUSI BaKTI

PELAKITA.ID – Partisipasi perempuan dalam media dan ruang publik hingga kini masih menghadapi berbagai tantangan yang kompleks.

Hal tersebut disampaikan oleh Lusia Palulungan dari PM INKLUSI BaKTI, yang menyoroti bagaimana hambatan personal, struktural, hingga kultural saling berkelindan dan membatasi keterlibatan perempuan secara setara dalam produksi maupun representasi media.

Lusia hadir sebagai narasumber pada Lokalatih yang menyorot Jurnalisme Warga dan Isu Keadilan Gender yang digelar oleh Jaringan Gender Indonesia (JGI), Program Studi Gender Univasitas Hasanuddin dan Pelakita.ID yang digelar di RumataArtspace, 29 Januari 2026.

Salah satu tantangan awal yang kerap dihadapi perempuan adalah hambatan dari dalam diri sendiri, terutama rendahnya rasa percaya diri.

Hal ini tidak terlepas dari konstruksi sosial yang selama ini membentuk anggapan bahwa dunia media—khususnya jurnalisme—bukan ruang yang ramah bagi perempuan.

Profesi jurnalis sering dipersepsikan tidak cocok bagi perempuan karena jam kerja yang tidak menentu, tuntutan liputan lapangan hingga larut malam, pekerjaan investigatif yang berisiko, serta minimnya jaminan sosial dan perlindungan kerja.

Selain itu, isu-isu perempuan kerap dianggap sensitif atau bahkan tidak penting, sehingga kurang mendapat ruang dalam pemberitaan.

Suasana Lokalatih Jurnalisme Warga yang Sensitif Isu Gender (dok: Pelakita.ID)

Hambatan Struktural dan Relasi Kuasa

Lebih jauh, Lusia menjelaskan adanya hambatan struktural yang bersumber dari relasi kuasa yang timpang.

Perempuan masih sering berada dalam posisi subordinasi, mengalami marginalisasi dan diskriminasi, serta menghadapi potensi risiko hukum ketika bersuara di ruang publik.

Budaya patriarki yang mengakar kuat turut mempersempit ruang gerak perempuan.

Kurangnya dukungan keluarga dan anggapan bahwa ranah publik adalah wilayah maskulin semakin menguatkan stereotip bahwa perempuan bersifat emosional dan tidak rasional, sehingga tidak layak tampil sebagai aktor utama di ruang publik maupun media.

Bias Gender dalam Media

Tantangan lainnya hadir dalam bentuk bias media yang masih marak terjadi. Bias gender dapat muncul dalam berbagai bentuk, antara lain:

  1. Bias pemberitaan, yaitu keberpihakan atau pendiskreditan terhadap satu gender tertentu.

  2. Bias diksi, penggunaan kata atau kalimat yang tidak pantas dan merendahkan perempuan.

  3. Bias pengabaian, dengan menghilangkan fakta atau sudut pandang tertentu dalam pemberitaan.

  4. Bias pemilihan isu, di mana isu perempuan dianggap tidak menarik atau tidak disukai pembaca.

  5. Bias manipulasi informasi, menafsirkan berita hanya dari satu sudut pandang.

  6. Bias penempatan, yaitu menempatkan isu penting di bagian yang tersembunyi atau kurang strategis.

Bias-bias ini menunjukkan bahwa media tidak selalu netral, melainkan dapat mereproduksi ketimpangan gender melalui cara memilih, mengemas, dan menyebarkan informasi.

Media, Kepentingan Politik, dan Jurnalisme Alternatif

Dalam perkembangannya, materi publikasi media juga kerap terkooptasi oleh kepentingan politik dan kekuasaan. Berita tidak sepenuhnya berdiri di atas kepentingan publik, melainkan dipengaruhi agenda tertentu yang berpotensi mengaburkan realitas dan fakta di lapangan.

Lusia menekankan pentingnya edukasi media dan penguatan jurnalisme alternatif.

Di tengah pesatnya perkembangan media publikasi dengan beragam platform, terbuka peluang besar untuk mendorong lahirnya penulis, jurnalis warga, dan kreator konten yang mampu menghadirkan realitas secara inklusif, adil, dan mencerdaskan.

Jurnalisme alternatif diharapkan dapat menjadi ruang tandingan yang menghadirkan perspektif perempuan, kelompok marjinal, serta suara-suara yang selama ini terpinggirkan oleh arus utama media.

Paparan ini menegaskan bahwa peningkatan partisipasi perempuan dalam media dan ruang publik bukan sekadar persoalan jumlah, melainkan soal keadilan, perspektif, dan keberanian untuk melawan bias struktural yang sudah lama mengakar.

Dengan mendorong literasi media, jurnalisme inklusif, serta dukungan sosial yang lebih luas, media dapat menjadi sarana pencerahan dan transformasi menuju ruang publik yang lebih setara.