Kenangan Dulu | MIWF 2011, Ketika Makassar Merayakan Kata, Dunia, dan Lokalitas

  • Whatsapp
Bersama Tim Hebat MIWF 2011

Hari-hari berikutnya menjadi ruang perjumpaan yang lebih intim. Para penulis—baik dari dalam maupun luar negeri—diajak menyusuri Galesong dan Pulau Barrang Lompo. Di sana, mereka tidak hanya membaca karya, tetapi berdialog dengan warga, mengamati kehidupan pesisir, dan berbagi pengalaman tentang “mengisahkan kebenaran”.

PELAKITA.ID – Ada momen-momen tertentu dalam hidup yang, ketika dikenang kembali, terasa hangat sekaligus penuh makna.

Salah satunya adalah tahun 2011, saat kami di ISLA Unhas berkesempatan menjadi mitra kerja Makassar International Writers Festival (MIWF)—sebuah perhelatan sastra yang lahir dari kegelisahan dan keberanian sekelompok seniman muda Makassar yang bernaung di bawah bendera Rumata’ ArtSpace.

Enam bulan sebelum festival digelar, mereka telah menggagas sesuatu yang pada masanya terbilang berani: sebuah festival sastra berkelas internasional, bertumbuh dari Makassar, dengan akar yang kuat pada nilai-nilai lokal.

MIWF 2011 menjadi edisi kedua dari festival ini, dan sejak awal sudah memperlihatkan ambisinya—bukan sekadar menghadirkan penulis dunia, tetapi merayakan perjumpaan antara kata, tempat, dan manusia.

Mengusung tema “Celebrating the World of Words with the Locals”, MIWF 2011 mencoba mengolah karya-karya sastra dunia tanpa tercerabut dari konteks budaya lokal.

Venue kegiatan tersebar di berbagai titik—Makassar, Galesong, hingga Pulau Barrang Lompo—meski sebagian besar acara berpusat di Museum Kota Makassar, Jalan Balaikota. Pilihan lokasi ini terasa simbolik: sastra ditempatkan di ruang publik, dekat dengan sejarah dan denyut kota.

Festival dibuka pada 13 Juni 2011 melalui program Sastra di Udara, sebuah kolaborasi dengan radio-radio lokal seperti Radio Suara Celebes, Prambors, Madama, dan Mercurius.

Pembacaan karya sastra dilakukan secara live on air, menghadirkan nama-nama seperti Shinta Febriany, Hamran Sunu, Hendra GST, dan Erni Aladjai. Sastra tidak lagi eksklusif; ia mengalir lewat gelombang radio, menjangkau pendengar di ruang-ruang paling personal.

Hari-hari berikutnya menjadi ruang perjumpaan yang lebih intim. Para penulis—baik dari dalam maupun luar negeri—diajak menyusuri Galesong dan Pulau Barrang Lompo.

Di sana, mereka tidak hanya membaca karya, tetapi berdialog dengan warga, mengamati kehidupan pesisir, dan berbagi pengalaman tentang “mengisahkan kebenaran”. Bersama Ikatan Sarjana Kelautan ISLA-Unhas, sastra bertemu dengan realitas sosial, laut, dan kehidupan sehari-hari masyarakat.

MIWF 2011 juga menghadirkan kuliah umum dan pemutaran film The Making of I La Galigo, sebuah pengingat bahwa sastra, film, dan tradisi lisan saling terhubung.

Malam pembukaan ditandai dengan pemutaran film pendek Tribute to Muhammad Salim, penerjemah naskah klasik I La Galigo, dipersembahkan oleh Harian Kompas, serta kehadiran Sapardi Djoko Damono—sebuah momen yang bagi banyak orang terasa sangat istimewa.

Ruang-ruang diskusi dan pembelajaran terus dibuka. Dari workshop adaptasi sastra ke sinema bersama Riri Riza, program komunitas “Menulis Membuka Jalan”, hingga debat terbuka “Penyair vs Politisi”.

Ada pula sesi khusus anak-anak, diskusi menulis di era media baru, hingga peluncuran buku The Naked Traveler #3 bersama Trinity. MIWF 2011 menunjukkan bahwa sastra tidak berdiri sendiri; ia hidup berdampingan dengan film, jurnalisme, media digital, dan aktivisme sosial.

Puncak festival ditutup dengan The United Nations of Fish, sebuah jamuan makan penggalangan dana yang memadukan kuliner, musik, dan sastra—dipersembahkan oleh Rumata’, Djuku, dan Writers Unlimited. Sebuah perayaan yang sederhana namun sarat makna: gotong royong budaya untuk keberlanjutan ruang seni.

Kini, bertahun-tahun setelahnya, mengenang MIWF 2011 terasa seperti membuka kembali arsip ingatan tentang keberanian kolektif. Tentang anak-anak muda yang percaya bahwa Makassar bisa menjadi simpul percakapan dunia.

Tentang sastra yang turun ke kampung, pulau, dan udara. Dan tentang sebuah festival yang sejak awal membuktikan bahwa kata-kata, ketika dirawat dengan jujur dan inklusif, mampu menjembatani lokalitas dan dunia.

Bagi saya, menjadi bagian—sekecil apa pun—dari MIWF 2011 adalah sebuah kehormatan. Ia bukan sekadar festival, tetapi penanda zaman, dan mungkin, fondasi bagi banyak percakapan kebudayaan yang kita nikmati hari ini.

Lily Yulianti Farid (kedua dari kanan) dkk
M. Aan Mansyur
Kenangan bersama di MIWF 2011
Anak-anak muda kala itu
Ida Riu, Lily dan Luna
Tim nan dahsyat
Denun, Mao, Kak Ami dan Lily
Mengenang
Membaca linimasa
Kala itu, halah!

___
Denun

Sorowako, 29 Januari 2026