Jurnalisme Warga vs Konten Kreatif: Siapa Kita di Antara Keduanya?

  • Whatsapp
Muliadi Saleh (dokL Istimewa)

Penulisan: Muliadi Saleh, Esais Reflektif dan Arsitek Kesadaran Sosial

PELAKITA.ID – Di era dimana gawai tak lagi pernah istirahat. Zaman kelimpahan informasi. Setiap orang adalah saksi. Setiap saksi punya potensi menjadi penyampai cerita. Di titik inilah jurnalisme warga dan konten kreatif lahir, tumbuh, lalu sering kali “saling bertabrakan atau justru saling menyaru.

Apa dan Siapa Mereka?

Jurnalisme warga (citizen journalism) adalah praktik penyampaian informasi oleh warga biasa tentang peristiwa nyata di sekitarnya. Ia lahir dari dorongan kepedulian warga yang melihat, merekam, lalu memberitakan demi kepentingan publik.

Pelakunya bukan wartawan profesional, tetapi warga yang merasa perlu bersuara ketika peristiwa terjadi. Teradang malah sebelum media arus utama tiba.

Sementara konten kreatif adalah hasil olahan ide, visual, suara, dan narasi yang dirancang untuk menarik perhatian. Tujuannya beragam berupa hiburan, edukasi, personal branding, bahkan komersialisasi. Kreatornya adalah para content creator. Mereka yang piawai membaca algoritma, emosi audiens, dan selera pasar.

Yang satu berangkat dari kepentingan publik, yang lain sering berangkat dari kepentingan atensi.

Makna dan Hakekat Keberadaan

Hakikat jurnalisme warga adalah kesaksian. Ia hadir sebagai koreksi, pelengkap, bahkan “pengganggu kenyamanan” kekuasaan. Nilai utamanya adalah kebenaran faktual, keberpihakan pada realitas, dan keberanian bersuara dari pinggiran.

Sedangkan konten kreatif berakar pada ekspresi. Ia memaknai dunia dengan kebebasan estetika, humor, dramatisasi, dan kadang hiperbola. Nilai utamanya adalah keterlibatan (engagement)—berapa banyak yang menonton, menyukai, membagikan.

Di sini perbedaannya jelas dimana jurnalisme warga bertanya, “Apa yang benar dan penting?”, sementara konten kreatif bertanya, “Apa yang menarik dan viral?”

Peran dan Fungsi

Dalam fungsi sosialnya, jurnalisme warga berperan sebagai alarm dini (early warning) atas bencana, ketidakadilan, dan penyimpangan. Ruang suara bagi yang tak terwakili media besar, serta penguat demokrasi partisipatif.

Sementara konten kreatif berfungsi sebagai media hiburan dan edukasi alternatif. Jembatan pesan yang lebih ringan dan mudah dicerna. Serta penggerak ekonomi kreatif dan budaya digital. Masalah muncul ketika fungsi-fungsi ini saling tertukar tanpa disadari.

Realitas Saat Ini: Kabur dan Campur

Hari ini, batasnya makin kabur. Banyak konten kreatif yang ‘mengaku dan dianggap” informatif, tetapi miskin verifikasi. Sebaliknya, sebagian jurnalisme warga tergelincir menjadi sensasional demi klik dan popularitas.

Algoritma media sosial tidak menilai kebenaran, tetapi keramaian.
Akibatnya, fakta sering kalah oleh framing, dan empati dikalahkan oleh eksotisasi penderitaan.

Kita hidup dalam zaman ketika tragedi bisa menjadi konten, dan kesaksian bisa berubah menjadi komoditas.

Lalu, Apa dan Bagaimana Sikap Kita?

Sikap kita tidak boleh hitam-putih. Sebagai warga,  kita perlu sadar posisi saat merekam peristiwa, tanyakan niat—untuk memberi tahu atau untuk memancing sensasi?

Sebagai pembuat konten, kreativitas tidak boleh mematikan etika. Estetika tidak boleh mengubur fakta.
Sebagai penonton, jangan hanya menjadi konsumen emosi. Latih literasi: cek sumber, baca konteks, tahan jempol sebelum membagikan.
Sebagai masyarakat, dorong kolaborasi berupa jurnalisme warga yang etis bisa bersanding dengan konten kreatif yang bertanggung jawab.

Pada akhirnya, pertanyaan paling jujur bukan lagi “ini jurnalisme atau konten?”
Melainkan: apakah ia memanusiakan, atau sekadar meramaikan?

Di sanalah pilihan moral kita bekerja—di antara kebenaran dan viralitas, di antara suara nurani dan suara algoritma.
____
Muliadi Saleh :
“Menulis Makna, Membangun Peradaban”