Ungkapan Rustan dalam bahasa Makassar, “Baji ki silaturahmi na, sombereki, tinggi sombere’na” mencerminkan penilaian moral yang dalam: bahwa menjaga hubungan baik adalah tanda keluhuran budi, tutur sapa tingkat tinggi.
Catatan Testimoni Rustan Rewa tentang Selle K.S. Dalle
PELAKITA.ID – Ada perjumpaan-perjumpaan yang tak direncanakan, namun justru meninggalkan kesan mendalam. Salah satunya dialami oleh Rustan Rewa, Asisten Ekonomi Pembangunan Kabupaten Tolitoli, ketika bertemu dan berbincang dengan Wakil Bupati Soppeng, Selle K.S. Dalle, di dalam penerbangan Garuda Indonesia.
Bukan di ruang rapat resmi, bukan pula di forum seremonial, melainkan di lorong sempit pesawat—ruang yang sering kali justru memperlihatkan wajah paling jujur dari seseorang.
Dalam obrolan singkat namun berkesan itu, Rustan Rewa menangkap sesuatu yang kerap hilang dalam praktik kekuasaan: kerendahan hati yang konsisten.
Ia menyebutnya dengan kalimat sederhana namun penuh makna, “Bagus tawwa. Selalu menyapa sampai sekarang.” Sebuah pengakuan yang barangkali terdengar biasa, tetapi di dunia birokrasi dan politik, menyapa dengan tulus adalah bahasa kekuasaan yang langka.
Keramahan Selle K.S. Dalle, menurut Rustan, bukan sikap sesaat atau basa-basi politik. Ia adalah sikap hidup. Bahkan setelah perjumpaan itu berlalu, komunikasi tetap terjaga.
“Tidak ada jarak yang dibuat-buat, tidak ada sekat jabatan yang ditinggikan. Yang ada justru kesan bahwa silaturahmi dipelihara sebagai nilai, bukan sekadar strategi,” kata Rustan.
Lebih dari itu, Rustan Rewa menuturkan bahwa Selle dikenal sebagai pribadi yang peduli dan hadir secara nyata, terutama bagi keluarga dan masyarakat yang memiliki keterkaitan dengan Soppeng.
“Termasuk dia bantu selalu keluarga yang ada di Soppeng,” ungkapnya.
Kalimat ini penting, karena menunjukkan bahwa kepemimpinan tidak berhenti pada kebijakan dan program, tetapi menjelma dalam perhatian konkret terhadap manusia-manusia yang hidup di dalamnya.
Dalam budaya Bugis-Makassar, nilai silaturahmi bukan sekadar hubungan sosial, melainkan fondasi etika hidup bersama.
Ungkapan Rustan dalam bahasa Makassar, “Baji ki silaturahmi na, sombereki, tinggi sombere’na” mencerminkan penilaian moral yang dalam: bahwa menjaga hubungan baik adalah tanda keluhuran budi, tutur sapa tingkat tinggi.
Dalam konteks ini, Selle K.S. Dalle tidak hanya dipandang sebagai pejabat publik, tetapi sebagai figur yang mempraktikkan nilai kultural dalam keseharian kepemimpinan.
Di tengah iklim politik yang sering keras dan transaksional, testimoni ini menjadi pengingat bahwa kepemimpinan yang berkesan justru lahir dari sikap-sikap kecil: menyapa, mendengar, membantu tanpa diminta, dan menjaga hubungan tanpa pamrih.
Kata Rustan yang juga alumni Pertanian Unhas 87 ini, tidak semua pemimpin mampu membawa nilai-nilai ini ketika berada di posisi strategis. Sebagian justru kehilangan sentuhan manusiawinya saat kekuasaan datang.
Pertemuan di dalam pesawat itu seakan menegaskan satu hal: jabatan boleh naik, tetapi adab tidak boleh turun.
Keramahtamahan Selle K.S. Dalle tidak terhenti di satu momen, melainkan berlanjut dalam relasi yang berkesinambungan. Inilah yang membuat kesan Rustan Rewa terasa tulus—bukan pujian kosong, melainkan pengakuan personal atas karakter.
Redaksi
