Oleh: Petta Yasidin
PELAKITA.ID – Bumi diciptakan untuk manusia. Matahari terbit setiap hari demi kehidupan manusia. Hewan dan tumbuhan hadir untuk menopang keberlangsungan hidup manusia.
Semua yang ada di semesta ini disediakan agar manusia dapat hidup, tumbuh, dan menikmati kehidupan. Namun, dari kesadaran itulah seharusnya lahir satu pemahaman penting: jika segala sesuatu ada untuk manusia, maka manusia pun pada dasarnya ada untuk orang lain.
Kehidupan bukan sekadar soal menikmati, tetapi juga tentang memberi. Bukan hanya menerima manfaat, tetapi juga menghadirkan manfaat.
Kita hidup bukan semata-mata untuk diri sendiri, melainkan untuk saling menguatkan, menolong, dan menjadi bagian dari keberlangsungan kehidupan bersama. Di situlah makna kemanusiaan menemukan bentuknya yang paling jujur.
Namun, ada satu hal yang perlu dipahami dengan jernih. Ibadah personal—shalat, puasa, dan haji—bukanlah untuk orang lain. Semua itu adalah urusan antara manusia dan Tuhannya.
Ibadah bukan alat untuk menghakimi, membandingkan, atau meninggikan diri di hadapan sesama. Ia adalah jalan sunyi untuk memperbaiki diri, membersihkan hati, dan menata batin.
Seseorang boleh terlihat saleh di mata manusia, tetapi yang paling menentukan adalah bagaimana ibadah itu membentuk sikapnya dalam kehidupan sosial.
Apakah ia menjadi lebih rendah hati? Lebih peduli? Lebih adil? Jika ibadah hanya berhenti pada ritual tanpa menjelma menjadi kebaikan sosial, maka maknanya belum sepenuhnya hidup.
Semangat pagi adalah tentang keberanian menghadapi kenyataan hidup. Keberhasilan dan kegagalan bukanlah dua hal yang saling meniadakan, melainkan dua sisi dari proses yang sama.
Keberhasilan sering lahir dari kegagalan, dan kegagalan pun kerap muncul dari keberhasilan yang membuat kita lengah. Keduanya adalah realitas yang sah, bagian dari perjalanan manusia menuju kedewasaan.
Karena itu, jangan terlalu sibuk menilai hidup dengan ukuran benar dan salah versi pikiran semata. Benar dan salah sering kali adalah produk persepsi, sudut pandang, dan pengalaman.
Yang lebih penting adalah kesadaran untuk terus belajar, memperbaiki diri, dan tidak terjebak pada ego.
Pada akhirnya, ada satu sikap yang menenangkan: berserah diri. Berserah bukan berarti menyerah, tetapi menerima bahwa tidak semua hal berada dalam kendali kita.
Berserah adalah puncak dari ikhtiar—ketika usaha telah dilakukan, doa telah dipanjatkan, dan hati memilih untuk tenang.
Hiduplah dengan kesadaran bahwa kita ada untuk memberi manfaat bagi orang lain, beribadah untuk memperbaiki diri sendiri, dan menjalani hidup dengan lapang dada. Di situlah keseimbangan antara spiritualitas dan kemanusiaan menemukan maknanya
___
Kopizone, 28 Januari 2026
Petta Yasidin
