Keindahan dan Kesan Manis dari Lokasi Permandian Alamiah Asuli, Towuti, Luwu Timur

  • Whatsapp
Menyesap makna keindahan Asuli di subuh hari (dok: Pelakita.ID)

PELAKITA.ID – Perjalanan ke Luwu Timur selalu menyimpan ruang-ruang tenang yang kerap luput dari sorotan. Di antara danau purba, perbukitan hijau, dan aktivitas manusia yang terus bergerak, terdapat satu tempat yang menawarkan jeda: Permandian Alamiah Asuli.

Spot ini adalah sebuah destinasi wisata alam memukau di kawasan Towuti, Kecamatan Nuha, Kabupaten Luwu Timur.

View pagi di lokasi wisata (dok: Pelakita.ID)

Lokasi Permandian Alamiah Asuli terbilang strategis namun tetap terasa tersembunyi. Dari Kota Wawondula, jaraknya sekira 5 kilometer, sementara dari Sorowako sekitar 10 kilometer. Arah menuju lokasi cukup mudah diikuti.

Dari poros utama Sorowako–Wawondula, pengunjung berbelok ke kanan memasuki jalan kecil. Jalan ini seolah menjadi lorong transisi—perlahan membawa siapa pun dari keramaian menuju suasana alam yang lebih hening dan menenangkan.

Suasana pagi di lokasi wisata (dok: Pelakita.ID)

Begitu memasuki kawasan permandian, kesan pertama yang terasa adalah rasa lapang. Area wisata ini berdiri di atas lahan sekitar 3 hektar, tertata sederhana namun memikat.

Pengunjung langsung disambut suara kecipak air dari kali kecil yang mengalir jernih. Sebuah gate sederhana menjadi penanda awal, seolah mengajak setiap tamu meninggalkan sejenak rutinitas di luar dan masuk ke ruang yang lebih akrab dengan alam.

Tak jauh dari pintu masuk, terbentang kolam permandian utama. Terdapat dua kolam dengan air yang sangat jernih, memperlihatkan dasar kolam secara alami. Airnya dingin dan segar, bersumber langsung dari mata air.

Pantulan cahaya matahari di permukaan air berpadu dengan bayangan pepohonan, menciptakan suasana yang menyejukkan mata sekaligus pikiran.

Di beberapa titik kawasan berdiri gazebo-gazebo yang menghadap lanskap terbuka. Dari sini, pengunjung dapat menikmati hamparan sawah hijau, deretan pohon sagu, serta bentang pergunungan yang menjadi latar alami kawasan Asuli.

Di dekat gazebo terdapat kolam ikan yang menambah kesan hidup. Fasilitas pendukung lain seperti musala dan ruang pertemuan terbuka membuat tempat ini cocok untuk berbagai kegiatan komunal.

Menikmati makan malam di lokasi wisata (dok: Pelakita.ID)
View pagi di lokasi wisata (dok: Pelakita.ID)
Suasana di kolam renang

Bagi pengunjung yang ingin menginap, tersedia dua unit cottage dengan tarif sewa sekitar Rp200 ribu per malam. Area yang luas juga memungkinkan aktivitas luar ruang seperti outbound, diskusi, hingga perkemahan.

Pengelola bahkan menyiapkan tenda sewa lengkap dengan kompor gas bagi pengunjung yang ingin berkemah. Informasi yang penulis dengar, biaya sewa per tenda minimal Rp150 ribu, menjadikan pengalaman bermalam di alam terbuka tetap praktis dan terjangkau.

Kesempatan ini dimanfaatkan oleh sejumlah kolega dari The COMMIT Foundation yang datang untuk kegiatan gathering dan outbound. Matras digelar, tenda dipasang, dan ruang terbuka Asuli berubah menjadi arena kebersamaan.

Tak sekadar berkegiatan, para peserta memanfaatkan momen ini untuk menikmati sisi lain dari perjalanan: kuliner dan kebersamaan malam hari.

Menjelang malam, aroma ikan bakar mulai menyebar. Aksi bakar ikan berlangsung hangat di tengah tawa dan obrolan ringan. Menu khas Luwu pun hadir di atas tikar: pacco dan parede, ditemani sambel kacang dan dabu-dabu yang segar.

Makan bersama di alam terbuka, dengan suara air mengalir sebagai latar, menghadirkan rasa yang jauh melampaui soal cita rasa—ia menjadi pengalaman kolektif yang mengikat.

Ucapan terima kasih patut disampaikan kepada Kakak Suarni Jufri, Alma, Adolfina Sambo, Enda, Mbak Ning, Ny. Gani, serta seluruh peserta yang terlibat menyiapkan kuliner malam nan asik itu. Kebersamaan terbangun bukan karena kemewahan, melainkan karena gotong royong dan rasa saling berbagi.

Malam di Asuli semakin hidup ketika sesi karaoke Sambung Lirik dimulai. Suasana menjadi aduhai dan heboh, penuh tawa dan sorak. Kemeriahan bertambah dengan aksi sawer lagu dari gadis-gadis Tomoni yang kebetulan berkemah di area tetangga.

Suasana malam

Tidak ada sekat antarkelompok; semuanya menyatu dalam suasana akrab yang jarang ditemui di ruang-ruang formal.

Menjelang larut, suasana kembali melambat. Lampu temaram, udara sejuk, dan suara alam mendominasi. Duduk di depan tenda atau gazebo, malam terasa syahdu—tenang, hangat, dan mengasyikkan.

Asuli pada akhirnya bukan sekadar tempat wisata, melainkan ruang pengalaman yang utuh: alam, manusia, makanan, tawa, dan kenangan bertemu dalam satu lanskap.

Permandian Alamiah Asuli mengajarkan bahwa perjalanan tidak selalu tentang destinasi besar dan fasilitas mewah. Kadang, yang paling membekas justru hadir dari air yang jernih, malam yang sederhana, dan kebersamaan yang tulus.

Banyak pujian

Pujian untuk spot ini datang dari peserta hingga Founder Pelakita.ID.

“Ada pale tempat menarik dan indah seperti ini di dekat Wawondula,” ucap Jumardi Lanta, site manager The COMMIT Foundation untuk PPM PT Vale.

“Tempatnya asik memang, ada banyak sungai kecil, nyaman,” kata Denny Patandung yang mengaku punya sawah di sekitar lokasi wisata ini.

“Lain waktu kita ke sini lagi deh,” tambah Gani, content creator asal Sengkang Wajo.

“Kirimkankan koordinatrnya, kami akan ke situ,” respon Abdul Rasyid Jalil, Guru Besar FIKP Unhas yang sedang melancong ke Nusa Tenggara Timur setelah melihat destinasi ini dari Whatsapp.

“Mesti tidur beralas terpal plastik, beralas tanah dan tenda minimalis, bisa tidur dari jam 1 hingga 5 subuh di daerah terbuka sungguh luar biasa. Itu artinya tempatnya memang asik,” tutup Kamaruddin Azis/

__
Sorowako, 25 Januari 2026.