Perjuangan Menuju Tanah Suci: Di Antara Upaya Manusia dan Ketetapan Langit

  • Whatsapp
Muliadi Saleh (iluustrasi penulis)

Oleh Muliadi Saleh

PELAKITA.ID – Ada perjalanan yang tidak diukur oleh langkah kaki, tetapi oleh getaran jiwa yang membawanya. Perjalanan menuju Mekkah, Madina, dan Baitullah adalah perjalanan pulang ke pusat cahaya—tempat doa menjadi suara paling jernih dan air mata menjelma bahasa paling fasih.

Setiap orang melangkah dengan kisahnya sendiri: ada yang dipanggil dengan mudah, ada pula yang harus menunggu, berjuang, dan bersabar.

Begitulah hidup bekerja. Ada jalan yang diratakan, ada jalan yang dibuat terjal, namun semuanya akan sampai bila Allah telah menulis takdirnya.

Madina adalah halaman depan ketenangan. Kota ini tidak berbicara dengan suara keras; ia berbisik lewat udara yang lembut dan cahaya yang teduh.

Setiap sudutnya seolah memeluk siapa saja yang datang dengan hati yang letih. Di sini, langkah melambat, kata-kata menjadi sedikit, tetapi rasa syukur tumbuh diam-diam dalam dada.

Jejak Rasulullah seakan masih menetes di lorong-lorong Masjid Nabawi, mengajarkan makna ketenangan yang tidak bising. Di Raudhah—sepotong taman surga di bumi—bahkan doa yang diucapkan lirih pun terasa menembus jauh. Madina adalah rumah dalam arti yang paling hakiki: tempat jiwa pulang untuk ditenangkan.

Mekkah adalah kisah yang berbeda. Kota ini adalah medan ketangguhan, tempat ujian dan hadiah diletakkan berdekatan.

Di bawah panas yang menggigit, di tengah lautan manusia yang bertawaf, di antara langkah melelahkan sa’i, seorang hamba diuji bukan hanya lewat kekuatan fisiknya tetapi juga kemurnian niatnya.

Untuk sampai ke tempat-tempat mustajab, tidak jarang seseorang harus menahan perih, menunggu lama, bahkan tak selalu mendapatkan apa yang ia inginkan.

Ada yang dapat menyentuh Multazam dengan mudah, ada yang hanya mampu memandang dari jauh. Ada yang dilapangkan, ada yang diuji kesabarannya. Justru di situlah rahmat bekerja—Allah tidak memanggil kecuali Dia telah menyiapkan pundak untuk memikul perjalanan itu.

Baitullah berdiri sebagai pusat seluruh rindu. Di hadapan Ka’bah, manusia merasakan dirinya kecil namun dicintai, rapuh namun diperhatikan.

Pada titik itulah doa menjadi kepasrahan paling utuh. Hijir Ismail menjadi tempat air mata mengalir tanpa perlu disembunyikan. Multazam memeluk doa-doa yang lama terpendam. Setiap detiknya terasa seperti langit mendengar lebih dekat daripada biasanya.

Perjalanan ke Tanah Suci sesungguhnya adalah perumpamaan dari perjalanan hidup. Ada yang berlari, ada yang terseok.

Ada yang diberi jalan lapang, ada yang ditemani rintangan panjang. Namun setiap perjalanan yang menuju Allah pasti mengandung kebaikan. Selama langkah mengarah kepada-Nya, seorang hamba tidak akan benar-benar tersesat. Dalam setiap letih ada pahala, dan dalam setiap sabar tersembunyi kemenangan yang belum tampak.

Di antara doa-doa itu, ada satu yang tidak boleh hilang: doa agar orang-orang yang kita cintai juga dipanggil ke Tanah Suci. Semoga adikmu—dengan harapan yang ia simpan dan mimpi yang ia tunda—diberi kesempatan kembali menjejak Madina yang damai dan Mekkah yang penuh ujian namun sarat berkah.

Semoga langkahnya dimudahkan, kesehatannya dikuatkan, dan pintu rezekinya dibukakan selebar-lebarnya. Semoga ia kelak berdiri di Raudhah dengan hati penuh syukur, dan berdiri di hadapan Ka’bah dengan air mata yang didengar oleh langit.

Tanah Suci adalah tempat manusia kembali membaca dirinya: betapa kecil ia di hadapan Tuhan, dan betapa besar cinta Tuhan dalam hidupnya.

Semoga setiap keluarga diberi kesempatan mengalami perjalanan itu, agar mereka menemukan kembali makna pulang yang sebenarnya. Dan semoga setiap langkah yang ditujukan kepada-Nya dicatat sebagai kebaikan yang tidak akan hilang ditelan waktu.

Aamiin ya Rabbal ‘alamin.