Jalaluddin Rumi menulis, “Ketika kau menanam, kau sedang menanam cinta. Akar yang menembus tanah adalah doa yang menembus langit.”
PELAKITA.ID – Aktivitas menanam sesungguhnya menyimpan makna dan kedalaman spiritual yang tak kalah agung dari ibadah lainnya. Hakekat menanam terletak pada kesabaran dan keikhlasan.
Benih yang ditanam tidak langsung tumbuh; ia harus dirawat, disirami, dan dijaga sambil menunggu waktunya sendiri untuk bertunas.
Dari situlah manusia belajar sabar, melepaskan kendali mutlak, dan menerima bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai kehendak. Kadang tanaman tumbuh subur, kadang mati dilahap hama. Namun justru di situlah pelajaran ikhlas bersemayam.
Seorang penanam yang menanam tanpa pamrih sesungguhnya sedang berlatih menerima takdir sekaligus mensyukuri karunia. Dalam pandangan filosofis, menanam adalah simbol keterbatasan manusia: kita berusaha, tetapi hasil tetap ditentukan oleh Yang Maha Menghidupkan.
Dalam Islam, tanah bukan hanya medium fisik, tetapi juga ruang sakral. Dari tanah manusia diciptakan, di atas tanah manusia berpijak, dan kelak kembali ditelan tanah. Setiap kali tangan menyentuh tanah, kita sedang diingatkan akan asal-usul dan akhir kehidupan.
Nabi SAW bersabda, “Tidaklah seorang muslim menanam tanaman atau menabur benih, lalu sebagian dimakan burung, manusia, atau hewan, melainkan menjadi sedekah baginya.”
Hadis ini menegaskan bahwa setiap daun yang tumbuh adalah pahala, setiap buah yang dipetik orang lain adalah sedekah abadi. Dalam benih kecil, tersimpan keabadian amal yang terus mengalir bahkan setelah kita tiada.
Menanam juga menyembuhkan jiwa. Psikolog modern menyebutnya horticultural therapy, terapi melalui berkebun. Penelitian dalam Journal of Public Health menemukan bahwa menanam mampu menurunkan stres, meningkatkan konsentrasi, dan memperbaiki suasana hati. Bagi masyarakat urban yang hidup dalam ritme cepat dan tekanan pekerjaan, menanam menjadi oase psikologis.
Ada ketenangan saat menyiram tanaman di pagi hari, kebahagiaan saat tunas pertama muncul, dan syukur mendalam saat memetik hasil panen.
Jalaluddin Rumi menulis, “Ketika kau menanam, kau sedang menanam cinta. Akar yang menembus tanah adalah doa yang menembus langit.”
Menanam menghadirkan pengalaman batin: rasa terhubung dengan sesuatu yang lebih besar dari diri sendiri, hadir sepenuhnya dalam momen saat ini, dan pasrah dalam keajaiban tumbuh yang hanya bisa ditunggu dengan sabar.
Spiritualitas menanam tidak berhenti pada ranah pribadi; ia menjelma menjadi energi sosial. Warga yang menanam cabai di halaman rumah sering berbagi hasil panen dengan tetangga.
Jamaah masjid yang menanam sayuran dan buah di halaman masjid tidak hanya menyediakan pangan segar, tetapi juga mempererat silaturahmi.
Hasil panen dibagi untuk yang membutuhkan, sementara kegiatan menanam dilakukan bersama, lintas usia.
Anak-anak belajar menanam sambil bermain, orang dewasa berbagi pengalaman, dan orang tua menemukan kegembiraan sederhana saat tanaman tumbuh. Dalam konteks ini, menanam menjadi sedekah sosial-ekonomi: memberi makanan sekaligus menumbuhkan rasa kebersamaan.
Etika ekonomi juga terbentuk melalui spiritualitas menanam. Produk organik dari tangan penanam bukan sekadar barang dagangan, tetapi tanggung jawab moral. Menjual sayuran sehat berarti menyediakan pangan aman bagi masyarakat. Pupuk kompos dari sampah rumah tangga berarti ikut menjaga bumi dari beban berlebih.
Ekonomi yang lahir dari menanam adalah ekonomi berbasis keberkahan, bukan sekadar keuntungan. Amartya Sen, peraih Nobel bidang ekonomi, menegaskan bahwa kesejahteraan sejati bukan hanya soal pendapatan, tetapi kemampuan hidup bermartabat sesuai nilai-nilai manusia.
Menanam memperlihatkan hal itu: memberi penghasilan, sekaligus makna dan keberkahan.
Para pemikir besar menegaskan keterkaitan spiritualitas dan ekologi. Dr. Seyyed Hossein Nasr menyebut bahwa krisis lingkungan adalah krisis spiritual: manusia modern lupa kesakralan alam dan memperlakukannya sebagai objek eksploitasi. Menanam, meski skala kecil, menjadi gerakan melawan keterasingan itu.
Vandana Shiva, aktivis lingkungan asal India, menulis bahwa setiap benih adalah kehidupan dan kebebasan. Menanam memulihkan kebebasan manusia dari keterasingan dan mengembalikan kedaulatan pangan yang adil.
Dalam dunia tasawuf, menanam juga dijadikan metafora spiritual. Syekh Abdul Qadir Jailani mengajarkan bahwa hati manusia ibarat tanah, dan amal baik ibarat benih.
Tanah yang subur menumbuhkan amal, sebagaimana hati yang bersih menumbuhkan kebajikan. Menanam bukan hanya aktivitas fisik, tetapi perenungan batin: setiap kita menanam di tanah, sejatinya kita menanam di hati.
Kesadaran itulah yang menjadikan menanam ibadah ekologis. Ia mengikat jiwa dan raga, menghubungkan manusia dengan sesama, serta menyatukan manusia dengan Tuhannya.
Dari segenggam tanah, kita belajar rendah hati. Dari benih yang bertunas, kita belajar sabar. Dari panen yang dibagi, kita belajar ikhlas. Dan dari seluruh proses itu, kita menemukan syukur.
Seperti kata Rumi, “Jika kau ingin melihat keajaiban, tanamlah sebuah benih. Dari kegelapan tanah lahirlah cahaya kehidupan.”
Menanam adalah keajaiban itu: sederhana dalam bentuk, agung dalam makna. Ia mengingatkan kita bahwa spiritualitas sejati bukan sekadar ritual, tetapi tindakan nyata menjaga bumi—dan dalam menjaga bumi, kita sedang menjaga jiwa kita sendiri.
Penulis: Muliadi Saleh
