Testimoni Dekan FIB Unhas Andi Akhmar: Buku Mustamin Raga Informatif, Intertekstual dan Estetis

  • Whatsapp
Dekan FIB Unhas, Andi M. Akhmar bersama penulis, Prof Muhaemin Latif dan Rusdin Tompo (dok: Istimewa)

PELAKITA.ID – Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya Unhas, Prof Andi Muhammad Akhmar menjadi salah satu pembedah buku Suara dari Pelukan Kabut’ karya Mustamin Raga, Sekdin Perpustakaan dan Arsip Kabupate Gowa.


Mari simak testimoninya yang disusun sesuai video rekaman Pelakita.ID.

___
Saya biasa memanggilnya Tamin, meski tadi sudah disebut sebagai Mas Tomi. Kami sebenarnya teman lama, sama-sama aktif di kampus, khususnya di organisasi kemahasiswaan.

Beliau pernah menjabat Ketua PERISAI (Perhimpunan Sastra Inggris), sementara saya waktu itu Ketua IMAN (Ikatan Mahasiswa Asal Daerah).

Karena itu, kami sering berdiskusi, terutama soal tradisi menulis yang memang sudah tumbuh di masa kuliah. Setiap kegiatan biasanya disertai kewajiban membuat makalah lalu dipresentasikan, sehingga latihan menulis menjadi bagian keseharian.

Maka, saya tidak heran bila Mustamin kini produktif menulis esai, meskipun dulu tulisannya cenderung romantis. Mungkin ada pengaruh pernikahan yang mengubah gaya tulisannya, tetapi sentuhan romantis itu tetap hadir.

Saat saya diminta membuat pengantar sekaligus ikut membedah karya Mustamin, ada satu kata yang membuat saya berpikir cukup lama: “suara.”

Bagi saya, pemilihan kata “suara” bukan hal sederhana. Suara biasanya kita pahami sebagai bunyi yang keluar dari mulut, tetapi Mustamin memaknainya lebih dalam.

Suara bisa abstrak, bisa berupa aspirasi dalam pemilihan umum, bahkan bisa hadir dalam tulisan yang sejatinya sudah tercetak, namun tetap dianggap “suara.

” Suara, setelah terucap, memang lenyap, tetapi Mustamin berhasil mengubahnya menjadi metafora yang berlapis. Dari situlah pembaca diajak untuk memaknai “suara” bukan sekadar bunyi, melainkan refleksi dan pesan kehidupan.

Dari segi gaya, tulisan Mustamin cenderung kontemplatif dan naratif, mirip renungan personal yang dikisahkan dalam bentuk esai.

Tulisannya singkat-singkat, seolah tidak ingin membuat pembaca menghabiskan waktu lama, tetapi tetap menyimpan gagasan mendalam.

Suasana bedah buku di Perpustakaan Daerah Gowa, 25 September 2025 (dok: Rusdin Tompo)

Kadang ada yang menyebut tulisan singkat itu karena “napasnya pendek,” tapi justru di situlah kekuatannya. Ia sering berangkat dari pengalaman kecil atau pengamatan sederhana, lalu berkembang ke refleksi yang luas.

Ciri khas lain adalah nuansa liris dan puitis. Kalimat-kalimatnya tidak hanya informatif, tetapi juga estetis. Sebagai anak sastra,

Mustamin lihai memakai metafora—misalnya “kabut,” “pelukan kabut,” atau “tangis perjalanan”—yang tidak bisa dimaknai secara literal. Bahasa estetiknya memperkaya pengalaman membaca, sekaligus menunjukkan akar kesusastraannya.

Selain itu, Mustamin tidak menulis dengan gaya menggurui. Ia lebih memilih modalitas sedang dan rendah: kata-kata seperti sebaiknya, mestinya, barangkali, mungkin.

Itu membuat tulisannya terdengar menuntun, bukan memaksa. Nada yang dipilih adalah nada empatik, penuh kerendahan hati, sehingga pembaca tidak merasa sedang didoktrinasi. Sekali-kali muncul modalitas tinggi, misalnya saat membahas kewajiban haji, tetapi tetap disampaikan dengan lembut.

Dari sisi tema, saya menemukan ada lima pokok besar:

  1. Tema religi – menekankan makna batin, misalnya tentang haji yang harus disertai pengertian mendalam, atau kesalehan yang tidak berhenti di formalitas.

  2. Tema sosial – seperti tulisan tentang jendela kelas, bangku kayu, atau suara murid yang tenggelam, yang menjadi metafora ketidakadilan pendidikan. Ada juga “jalan menjadi kubangan,” kritik satir terhadap buruknya infrastruktur.

  3. Tema budaya – sorotan pada pesta adat yang bergeser menjadi ajang gengsi, refleksi tentang tradisi yang mengalami perubahan makna.

  4. Tema psikologi – menggambarkan kegelisahan dan perenungan personal tentang kehidupan.

  5. Tema digital dan AI – di sini Mustamin menunjukkan kepeduliannya terhadap dunia modern. Ia mengakui manfaat teknologi, tetapi menolak jika AI menjadi pengganti manusia. Kritiknya diarahkan pada risiko dehumanisasi, hilangnya empati, dan homogenisasi budaya.

Dari semua tema itu, benang merahnya jelas: keberpihakan pada martabat manusia. Mustamin konsisten mengingatkan agar kita tetap menjaga nilai kemanusiaan di tengah modernitas.

Secara keseluruhan, gaya Mustamin bisa disebut sebagai politik reflektif bahasa: perpaduan renungan personal, kritik sosial, dan keindahan sastra.

Metafora yang ia gunakan—seperti kabut, jalan, rumah, tangis, rapuh—selalu mengandung pencarian makna hidup. Tulisannya pendek, tetapi sarat refleksi. Lembut, tetapi tegas di dalam. Estetik, tetapi tetap komunikatif.

Itulah yang membuat karya Mustamin Raga istimewa: ia bukan hanya menulis, melainkan menyuarakan kehidupan melalui bahasa yang penuh makna.

https://www.youtube.com/watch?v=3z6Fw7oQhnQ