Julia Kristeva dan Makna Intertekstual

  • Whatsapp
Julia Kristeva : "Il faut favoriser l'expérience intérieure des jeunes" - Reforme.net

PELAKITA.ID – Dalam dunia kesusastraan, sebuah karya tidak pernah lahir di ruang hampa. Setiap teks, entah itu puisi, novel, atau esai, selalu terhubung dengan teks-teks lain yang sudah ada sebelumnya.

Hubungan inilah yang dikenal dengan istilah intertekstualitas.

Konsep ini pertama kali diperkenalkan oleh seorang filsuf, kritikus sastra, dan psikoanalis asal Bulgaria yang kemudian menetap di Prancis, Julia Kristeva, pada akhir 1960-an.

Bagi Kristeva, sebuah teks tidak berdiri sendiri. Ia adalah “mosaik kutipan”, yang menyerap, mengolah, bahkan mentransformasi teks-teks lain.

Artinya, saat kita membaca sebuah karya, kita sebenarnya sedang membaca pantulan, gaung, atau bahkan perdebatan dengan karya-karya yang mendahuluinya.

Di sinilah muncul gagasan bahwa makna dalam sastra selalu bersifat terbuka, cair, dan tidak pernah tunggal.

Kristeva sendiri banyak terinspirasi dari Mikhail Bakhtin, seorang pemikir Rusia yang memperkenalkan konsep dialogisme.

Menurut Bakhtin, setiap bahasa dan setiap teks selalu berdialog dengan yang lain—sebuah proses interaktif yang membentuk makna. Kristeva kemudian mengembangkan gagasan ini lebih jauh, dan menegaskannya dalam istilah intertekstualitas.

Dalam praktik sastra, intertekstualitas bisa muncul dalam berbagai bentuk. Misalnya, lewat kutipan langsung, parodi, alusi, atau parafrasa.

Sebuah novel modern bisa mengutip secara eksplisit karya klasik, atau justru membalik maknanya sebagai bentuk kritik. Puisi bisa menyinggung karya terdahulu hanya lewat satu simbol atau metafora. Semua ini memperlihatkan bagaimana teks yang kita baca hari ini sesungguhnya “hidup” dalam jejaring makna yang lebih luas.

Contoh intertekstualitas bisa kita temukan dalam karya-karya sastra Indonesia. Puisi Chairil Anwar, misalnya, sering dibaca dalam hubungannya dengan eksistensialisme Barat.

Novel Saman karya Ayu Utami tidak bisa dilepaskan dari intertekstualitas dengan sejarah politik Indonesia, wacana feminisme, hingga teks-teks keagamaan.

Bahkan karya klasik Nusantara seperti hikayat dan serat, kerap menjadi bahan rujukan, diolah ulang dalam konteks sosial budaya yang baru.

Dengan demikian, membaca karya sastra bukan sekadar membaca teks itu sendiri, melainkan juga membaca teks lain yang hadir di dalamnya.

Intertekstualitas membuka mata kita bahwa setiap karya adalah percakapan panjang antar-generasi penulis dan pembaca.

Konsep Julia Kristeva ini mengubah cara kita memahami makna. Ia mengajak kita untuk melihat bahwa makna tidak pernah final.

Teks selalu hidup, selalu bisa ditafsir ulang, dan selalu berdialog dengan masa lalu sekaligus masa kini. Itulah mengapa intertekstualitas begitu penting: ia menjaga sastra tetap dinamis, berlapis, dan penuh kejutan.

Referensi

  1. Kristeva, Julia. (1980). Desire in Language: A Semiotic Approach to Literature and Art. New York: Columbia University Press.
    → Kumpulan esai Kristeva yang menjelaskan gagasan intertekstualitas.

  2. Kristeva, Julia. (1986). The Kristeva Reader. Ed. Toril Moi. Oxford: Blackwell.
    → Buku pengantar yang memuat teks penting Kristeva, termasuk tentang intertekstualitas.

  3. Bakhtin, Mikhail. (1981). The Dialogic Imagination: Four Essays. Austin: University of Texas Press.
    → Dasar pemikiran dialogisme yang memengaruhi Kristeva.

  4. Allen, Graham. (2011). Intertextuality. 2nd Edition. London: Routledge.
    → Buku pengantar komprehensif tentang teori intertekstualitas, membahas Kristeva hingga perkembangan mutakhir.

  5. Culler, Jonathan. (2000). Literary Theory: A Very Short Introduction. Oxford: Oxford University Press.
    → Penjelasan ringkas namun padat mengenai intertekstualitas dan kaitannya dengan teori sastra.

  6. Faruk. (2012). Pengantar Sosiologi Sastra: dari Strukturalisme Genetik sampai Postmodernisme. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
    → Referensi Indonesia yang membahas intertekstualitas dalam konteks kajian sastra lokal.

  7. Teeuw, A. (1984). Sastra dan Ilmu Sastra: Pengantar Teori Sastra. Jakarta: Pustaka Jaya.
    → Salah satu buku klasik teori sastra di Indonesia yang menyinggung hubungan antar-teks.