Lasem dalam Arkeologi Diskursus, Membaca Ulang Maritim sebagai Pusat Kekuasaan

  • Whatsapp
Ilustrasi Pelakita.ID

Nelayan, pengrajin kapal, dan pedagang tidak hanya bekerja dalam ruang ekonomi, tetapi juga menjadi subjek diskursus pembangunan: diposisikan sebagai “penggerak ekonomi biru”, “penjaga kedaulatan pangan laut”, atau “pewaris tradisi bahari Nusantara”.

PELAKITA.ID – Michel Foucault melalui konsep arkeologi diskursus mengajarkan bahwa sejarah tidak hanya dilihat sebagai deretan peristiwa, tetapi sebagai proses pembentukan “pengetahuan” yang dilegitimasi dan mengatur cara pandang kita terhadap dunia.

Dalam konteks ini, Lasem tidak hanya sekadar kota pesisir yang memproduksi kapal, tetapi juga bagian dari diskursus maritim yang menempatkan laut sebagai arena kuasa, pengetahuan, dan identitas.

1. Kapal sebagai Medium Kuasa dan Pengetahuan

Dalam perspektif Foucault, kapal yang diproduksi di Lasem bukan sekadar alat transportasi atau penangkap ikan. Kapal adalah “teknologi kuasa” yang memungkinkan manusia menguasai laut, memperluas perdagangan, dan menciptakan relasi ekonomi-politik baru.

Dengan menjadi pemasok kapal perikanan skala besar, Lasem masuk dalam diskursus pembangunan maritim di Jawa: siapa yang boleh mengakses laut, bagaimana laut diproduksi sebagai ruang ekonomi, dan bagaimana negara maupun pasar mengatur relasi produksi.

2. Arkeologi Diskursus Pembangunan Maritim

Sejak era kolonial hingga pasca-kemerdekaan, pembangunan selalu menempatkan laut sebagai frontier ekonomi. Diskursus pembangunan maritim membentuk narasi bahwa kapal adalah simbol modernisasi, kemajuan, dan keterhubungan.

Dengan demikian, Lasem diposisikan bukan hanya sebagai produsen kapal, tetapi sebagai aktor yang mengisi ruang diskursif pembangunan.

Di sini, pengetahuan tentang pembuatan kapal tradisional Lasem (misalnya teknik kayu, desain layar, hingga adaptasi untuk perikanan skala besar) menjadi bagian dari rezim pengetahuan yang berinteraksi dengan kapitalisme dan kebijakan negara.

3. Lasem sebagai Situs Arkeologis Maritim

Jejak sejarah Lasem—dari pelabuhan dagang abad ke-15, komunitas Tionghoa yang membawa teknologi perahu, hingga kini sebagai pemasok kapal perikanan—dapat dibaca sebagai lapisan-lapisan diskursus.

Arkeologi Foucault menolak narasi linear “kemajuan”, melainkan menekankan diskontinuitas: Lasem pernah berjaya sebagai pelabuhan internasional, meredup pada masa tertentu, lalu bangkit kembali melalui produksi kapal untuk ekonomi modern.

Tiap fase ini tidak berdiri sendiri, melainkan bagian dari produksi pengetahuan tentang apa artinya menjadi kota maritim.

4. Diskursus Maritim, Pembangunan, dan Identitas

Pembangunan maritim yang mengangkat Lasem sebagai pemasok kapal juga menghasilkan identitas sosial-ekonomi baru.

Nelayan, pengrajin kapal, dan pedagang tidak hanya bekerja dalam ruang ekonomi, tetapi juga menjadi subjek diskursus pembangunan: diposisikan sebagai “penggerak ekonomi biru”, “penjaga kedaulatan pangan laut”, atau “pewaris tradisi bahari Nusantara”.

Identitas ini dibentuk oleh wacana negara, pasar, dan budaya, menunjukkan bagaimana kuasa bekerja melalui bahasa pembangunan.

Pembaca sekalian, melalui kacamata arkeologi diskursus Foucault, perkembangan Lasem sebagai pemasok kapal perikanan skala besar di Pulau Jawa bukan sekadar fenomena ekonomi.

Ia adalah hasil dari produksi pengetahuan maritim, pertarungan wacana pembangunan, dan praktik kuasa yang menjadikan laut sebagai ruang politik-ekonomi sekaligus identitas budaya.

Dengan demikian, Lasem dapat dibaca sebagai arsip hidup diskursus maritim Nusantara, di mana kapal bukan hanya barang, tetapi juga simbol kuasa, pengetahuan, dan keberlanjutan sejarah.

Denun | Sorowako, 6 September 2025