Thomas Kuhn dan Paradigma Revolusi Ilmiah

  • Whatsapp
Thomas Kuhn (illutrasi, the collector.com)

Sains, menurut Kuhn, bukan sekadar cermin realitas, tetapi dialog dinamis antara manusia dan dunia yang mereka coba pahami.

PELAKITA.ID – Dalam sejarah filsafat ilmu, sedikit karya yang meninggalkan dampak sebesar The Structure of Scientific Revolutions (1962) karya Thomas S. Kuhn.

Karya ini diterbitkan pada masa ketika pandangan dominan menekankan sains sebagai usaha rasional dan kumulatif, buku Kuhn menawarkan perspektif yang radikal.

Ia berargumen bahwa sejarah ilmu pengetahuan bukanlah akumulasi pengetahuan yang linear menuju kebenaran, melainkan proses dinamis yang ditandai oleh ruptur, diskontinuitas, dan transformasi.

Ide ini, yang dikenal dengan istilah paradigm shift atau pergeseran paradigma, telah mengubah cara ilmuwan, filsuf, dan publik memahami perkembangan sains.

Inti dari analisis Kuhn adalah konsep paradigma. Paradigma bukan sekadar teori, melainkan kerangka berpikir bersama—seperangkat asumsi, metode, dan standar yang membimbing komunitas ilmiah.

Dalam periode “sains normal,” peneliti bekerja di bawah paradigma yang diterima, menyelesaikan teka-teki dan menyempurnakan pengetahuan. Namun, tidak ada paradigma yang sempurna; anomali pasti muncul—fenomena atau hasil eksperimen yang tidak dapat dijelaskan oleh kerangka yang ada.

Pada awalnya, anomali ini sering diabaikan, tetapi ketika menumpuk dan menimbulkan krisis, legitimasi paradigma dominan terancam.

Saat inilah revolusi ilmiah terjadi: paradigma lama digantikan oleh paradigma baru yang mendefinisikan ulang aturan penelitian dan mengubah cara realitas dipahami.

Contoh klasik adalah Revolusi Kopernikan, yang menggantikan model geosentris Ptolemaik dengan sistem heliosentris, bukan sekadar menambahkan data, melainkan merestrukturisasi pemahaman tentang alam semesta secara menyeluruh.

Ilmu modern juga menawarkan contoh pergeseran paradigma yang menakjubkan. Revolusi Einstein di awal abad ke-20, misalnya, menggantikan paradigma

Newtonian yang lama. Dalam paradigma Newton, alam semesta dipandang sebagai mesin deterministik yang bergerak sesuai hukum tetap. Namun, anomali seperti orbit Merkurius yang tidak bisa dijelaskan dan konstansi kecepatan cahaya menantang paradigma ini.

Teori relativitas Einstein memperkenalkan konsep ruang dan waktu yang saling terkait dan melengkung oleh massa dan energi, serta menjelaskan gravitasi sebagai properti geometri dari ruang-waktu.

Pergeseran ini bukan sekadar tambahan pengetahuan; ia menuntut pembingkaian ulang konsep fundamental.

Contoh lain adalah revolusi kuantum. Fisika klasik gagal menjelaskan fenomena pada tingkat atom dan subatom, seperti efek fotolistrik dan radiasi benda hitam.

Mekanika kuantum muncul sebagai paradigma baru, memperkenalkan probabilitas, dualitas gelombang-partikel, dan ketidakpastian. Pergeseran ini menantang mekanika klasik dan gagasan determinisme, menunjukkan bahwa realitas pada tingkat paling dasar diatur oleh probabilitas, bukan kepastian.

Dalam konteks Kuhn, ini menggambarkan incommensurability, di mana paradigma lama dan baru sulit dibandingkan langsung karena perbedaan bahasa, metode, dan pandangan dunia.

Selain fisika, pergeseran paradigma terjadi di biologi dan kedokteran. Revolusi Darwinian menggantikan pandangan spesies sebagai bentuk tetap dengan proses evolusi melalui seleksi alam.

Sedangkan teori kuman penyakit menggeser teori miasma, menunjukkan mikroorganisme sebagai penyebab penyakit. Pergeseran ini tidak hanya mengubah praktik ilmiah, tetapi juga mempengaruhi pandangan budaya, agama, dan filsafat.

Kuhn menekankan bahwa kemajuan ilmiah bukan semata-mata objektif atau linear. Paradigma membentuk apa yang dilihat ilmuwan, pertanyaan yang diajukan, dan bahkan standar bukti yang diterima.

Pergeseran paradigma membuat ilmuwan melihat dunia secara berbeda, sehingga Kuhn menyebutnya incommensurable.

Kritik terhadap pandangannya menuduh bahwa ini bersifat relatif dan mengurangi kebenaran ilmiah menjadi opini. Namun, Kuhn menegaskan bahwa meski tidak absolut, sains tetap berkembang menuju kerangka pemecahan masalah yang lebih baik dalam konteks historis.

Pengaruh buku ini meluas jauh melampaui filsafat ilmu. Sosiolog, sejarawan, dan teori politik menggunakan gagasan Kuhn untuk mempertanyakan bagaimana pengetahuan dibangun dan disahkan.

Istilah “paradigm shift” kini juga digunakan dalam bisnis, teknologi, dan budaya untuk menggambarkan perubahan transformasional. Dengan demikian, karya Kuhn menjembatani praktik internal sains dengan pertanyaan sosial, bahasa, dan kekuasaan.

Kesimpulannya, The Structure of Scientific Revolutions tetap menjadi karya penting untuk memahami sains sebagai usaha manusia. Dengan menantang gagasan kemajuan linier, Kuhn memperlihatkan sifat dramatis dan diskontinu sains.

Melalui contoh Copernicus, Einstein, Darwin, dan mekanika kuantum, kerangka paradigma dan revolusinya membantu kita memahami kebenaran, pengetahuan, dan penemuan.

Sains, menurut Kuhn, bukan sekadar cermin realitas, tetapi dialog dinamis antara manusia dan dunia yang mereka coba pahami.