PELAKITA.ID – Hari ini, penulis berselancar di beberapa laman Facebook dan menemukan tiga akun yang menarik perhatian. Pertama, Om Sanny Limbunan, diver senior asal Makassar yang membagikan foto saat menyelam di wreck Tulamben, Bali.

Kedua, Yaser Sakita, alumni Ilmu Kelautan Unhas yang saat ini mengabdi di Kementerian Kelautan dan Perikanan, tepatnya di Balai Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut di Manado.
Ketiga, Arhy Kafas atau lengkapnya Ari Fengkeari Karim, juga alumni Ilmu Kelautan Unhas, yang aktif menyuarakan kegiatan konservasi laut.
Ketiganya menghadirkan inspirasi yang sama: pengibaran bendera merah putih di bawah laut, sebuah tradisi yang setiap tahun semakin populer dalam memperingati Hari Ulang Tahun Republik Indonesia.
Sebagai alumni Kelautan, penulis selalu menantikan momen ini. Upacara bendera di kolom laut adalah sebuah ritual tahunan yang tidak hanya menegaskan cinta tanah air, tetapi juga menjadi medium edukasi publik.
Lewat aksi ini, para penyelam menunjukkan keindahan laut Nusantara, pentingnya menjaga kelestariannya, sekaligus mengingatkan agar kita bijak memanfaatkan sumber daya pesisir dan laut Indonesia.
Sanny Limbunan: Merah Putih di atas Wreck Tulamben
Dalam unggahannya, Sanny tampak gagah di atas reruntuhan kapal karam (wreck) dengan bendera merah putih berkibar sempurna. Sebagai penyelam senior yang disegani, ia telah menjajal banyak spot terbaik di tanah air—mulai dari perairan Makassar, Raja Ampat, hingga Nusa Tenggara dan Bali.
Foto tersebut seolah menjadi ajakan bagi para diver lain untuk merasakan sensasi menyelam di Tulamben. Ia menulis di laman Facebook-nya “DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA 80 – Bersatu, Berdaulat, Rakyat Sejahtera, Indonesia Maju.”
Kepala Pelakita.ID, Bang Sanny bilang kalau dia sedang ada di Bali tepatnya di Tulamben menyelam bersama anak-anak UMI Makassar.
“Menyelam sekaligus merayakan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI, ke-80 bersama Ariady dan Ciwing dari UMI” jelasnya.
Arhy Kafas: Merdeka Menjaga Karang
Dari Banggai Laut, 16 Agustus 2025, Arhy membagikan kegiatan konservasi laut di Desa Tolisetubono. Kegiatan ini digagas oleh Kadivo Organize dengan dukungan Aliansi Pemuda Peduli Laut (APPL) dan Basi, mengusung tema “Merdeka Menjaga Karang, Lestari untuk Generasi.”
Rangkaian acaranya meliputi transplantasi karang yang melibatkan delapan diver, serta try scuba bagi sepuluh peserta pemula. Hal unik adalah pemasangan wahana bertuliskan angka 80—simbol delapan dekade kemerdekaan Indonesia.
“Melalui program ini, peserta pemula berkesempatan merasakan pengalaman pertama menyelam sekaligus menikmati keindahan bawah laut,” tulisnya. Aktivitas seperti ini, menurut penulis, adalah bentuk nyata kepedulian yang patut diperbanyak dan digaungkan, agar generasi muda semakin peduli pada ekosistem laut.


Yasher Sakita: Mengabdi dengan Aksi Nyata
Nama berikutnya adalah Yaser Sakita. Dalam jejak pertemanan di media sosial, hampir setiap tahun Yaser selalu konsisten membagikan kegiatan konservasi laut yang dikaitkan dengan peringatan HUT RI.
Tahun ini, ia membagikan foto dirinya di atas rangka besi tempat transplantasi karang, dengan bendera merah putih di tangan.
Sebagai ASN di Kementerian Kelautan dan Perikanan, Yaser paham betul bahwa promosi konservasi tidak cukup dengan kata-kata, melainkan harus diwujudkan dalam aksi nyata. Foto dirinya melayang di atas karang-karang muda itu adalah gambaran indah bagaimana nasionalisme bisa berpadu dengan kepedulian ekologis.


Merah Putih, Laut Kita, Masa Depan Kita
Pembaca sekalian, semoga perayaan HUT RI ke-80 ini menjadi momentum untuk semakin mencintai pesisir dan laut kita. Laut adalah ruang sosial, sumber ekonomi, sekaligus benteng ekologi bangsa. Menjaga karang berarti menjaga pertahanan alami pemukiman pesisir dan menopang ekonomi nelayan.
Tidak membom ikan, tidak menggunakan racun bius, dan menjaga kawasan laut tetap sehat adalah perilaku terpuji yang akan diganjar dengan keberlanjutan sumber daya bagi masa depan kita.
Dirgahayu Republik Indonesia ke-80. Seperti kata Bang Sanny Limbunan: “Bersatu, berdaulat, rakyat sejahtera, Indonesia maju.”
Merdeka!


___
Denun
Tamarunang, 17 Agustus 2025
