Puisi | Kisah Cinta Segitiga Paling Suci — Petani, Tuhan, dan Rahim Bumi

  • Whatsapp

PELAKITA.ID – Penulis, motivator perubahan dan penggerak literasi Muliadi Saleh menorehkan bait-bait inspiratif saat berkunjung ke Tanah Mandar, Sulbar. Mari simak.

***

Ia berdiri di ladang yang tak pernah ingkar janji,
dengan kaki menancap pada rahim bumi,
seperti doa yang tak pernah goyah diterpa angin.

Tanah baginya bukan sekadar pijakan,
melainkan kitab yang dibaca dengan jemari berlumur lumpur;
ayat-ayatnya tersimpan di retakan cangkul
dan bisikan akar yang berpelukan di dalam gelap.

Hujan datang bagai salam dari langit,
tetes demi tetes menumbuhkan janji
yang kelak ia panen sebagai rezeki.

Tak ada sedih pada langit kelabu,
karena ia tahu — dari gerimis hingga badai —
setiap titik air adalah tangan Tuhan
yang menyentuh dahinya dengan restu.

Kesulitan baginya bukan tembok,
melainkan pintu yang terkunci;
namun di sisi lain, selalu ada kunci yang Tuhan sisipkan.Tangis pun hanyalah tawa yang berganti pakaian,
kekurangan hanyalah kelebihan
yang sedang berjalan menjauh
untuk kembali dengan rupa yang lebih indah.

Kehilangan?
Ah, itu hanyalah undangan halus
menuju pertemuan yang lebih berarti.
Seperti biji yang “hilang” di perut tanah,
hanya untuk lahir kembali sebagai padi
yang menguning di bawah matahari subuh.

Maka ia terus menanam,
menabur keyakinan ke dalam tanah yang hangat,
menyiram dengan sabar,
menunggu dengan doa yang memanjang seperti fajar.
Sebab ia tahu —
setiap bulir, setiap embun, setiap hela napas
adalah puisi Tuhan yang ditulis di ladang,
dan ia, petani itu,
adalah pembacanya yang paling setia.

Pasangkayu, di Hujan Rintik — Dua Belas Agustus Dua Ribu Dua Lima

Ilustrasi