Bersama tapi Sendiri: HP dan Jarak Tak Kasat Mata

  • Whatsapp
Ilustrasi Pelakita.ID

Imam Syafi’i pernah berkata, “Waktu adalah ibarat pedang, jika engkau tidak memotongnya, maka ia akan memotongmu.” Di zaman ini, yang dipertaruhkan bukan hanya waktu, tapi juga perhatian. Jika perhatian kita terpecah oleh notifikasi, kita kehilangan kuasa untuk hadir sepenuhnya. 

Oleh: Muliadi Saleh
Penulis | Pemikir | Penggerak Literasi dan Kebudayaan

PELAKITA.ID – Di sebuah ruang pertemuan, suara pembicara mengalun di antara deretan kursi. Beberapa peserta menyimak dengan saksama, mengangguk tanda setuju, mencatat setiap butir kata. Namun, di sudut-sudut ruangan, terlihat pemandangan berbeda: jemari menari di layar ponsel, pandangan tertambat pada dunia digital.

Bukan satu atau dua, tapi banyak. Seolah di tengah keramaian nyata, mereka memilih hadir di keramaian maya.

Fenomena ini bukan lagi hal asing. Dalam rapat, seminar, ibadah, bahkan saat makan bersama keluarga, gawai kerap menjadi “pelarian” yang diam-diam menggeser fokus. Sebuah anomali komunikasi—secara fisik kita ada, namun batin kita berkelana.

Marshall McLuhan pernah berkata, “The medium is the message”—medium komunikasi tak hanya menyampaikan pesan, tapi membentuk cara kita berpikir dan berinteraksi. Tak heran, ponsel pintar yang awalnya menjadi jembatan kini juga bisa menjadi tembok tak kasat mata.

Mengapa Memilih Layar?

Ada beberapa alasan yang mungkin terjadi. Pertama, pengalihan suasana—cara mengusir bosan, canggung, atau ketidakminatan pada situasi.

Kedua, pelarian dari tekanan sosial; di dunia digital, kita bisa mengendalikan percakapan, memilih interaksi, bahkan keluar tanpa permisi. Ketiga, bentuk egoisme halus—mengutamakan kenyamanan pribadi di atas kebutuhan kolektif untuk saling terhubung.

Dalam teori komunikasi, ini dikenal sebagai absent presence—hadir secara fisik, namun absen secara mental dan emosional.

Sosiolog Sherry Turkle menyebutnya “Alone together”—bersama-sama, tapi sendiri. Sebuah paradoks: teknologi yang dirancang untuk mendekatkan manusia justru menciptakan jarak baru.

Dari Perspektif Adab

Dalam Islam, perilaku ini berkaitan erat dengan adab. Rasulullah SAW mencontohkan perhatian penuh saat berinteraksi. Dalam hadis riwayat Tirmidzi, beliau menganjurkan untuk mengabarkan cinta kepada saudara seiman—makna tersiratnya adalah adanya kesungguhan hati dalam berinteraksi.

Dikisahkan pula, beliau tidak pernah memalingkan wajah dari orang yang diajak berbicara—teladan fokus dan penghargaan.

Namun kini, ponsel sering menjadi “tangan ketiga” yang memutus rantai tatapan mata. Padahal, kontak mata adalah tanda respek, keterlibatan, dan empati. Saat layar mengambil alih, bahasa tubuh yang menyampaikan pesan emosional ikut hilang.

Kenyamanan yang Mahal Harganya

Bagi sebagian orang, ponsel adalah benteng aman—tidak ada risiko salah bicara, tidak ada tekanan untuk bereaksi spontan. Tapi kenyamanan ini dibayar mahal: hilangnya kesempatan membangun koneksi tulus, kehilangan momen belajar dari suasana, serta pudar rasa kebersamaan.

Imam Syafi’i pernah berkata, “Waktu adalah ibarat pedang, jika engkau tidak memotongnya, maka ia akan memotongmu.” Di zaman ini, yang dipertaruhkan bukan hanya waktu, tapi juga perhatian. Jika perhatian kita terpecah oleh notifikasi, kita kehilangan kuasa untuk hadir sepenuhnya.

Hadir Sepenuhnya: Bentuk Perlawanan

Saat berada dalam pertemuan, tataplah wajah, bukan layar. Dengarkan dengan telinga dan hati, bukan hanya menunggu jeda untuk kembali menunduk. Yang bersama kita di ruangan adalah manusia yang, sama seperti kita, ingin diakui keberadaannya.

Di tengah derasnya arus informasi, hadir penuh adalah bentuk perlawanan—terhadap budaya tergesa, perhatian terpecah, dan rasa asing di tengah keramaian. Karena manusia bukan hanya makhluk yang ingin bicara, tapi juga ingin didengar.

Seperti kata seorang bijak: “Teknologi membuat kita bisa berbicara dengan siapa saja di dunia, namun juga membuat kita lupa berbicara dengan orang di sebelah kita.”

Jadi, pada akhirnya, semuanya kembali pada pilihan kita—mau dekat secara nyata atau hanya dekat di layar.

Motto:
“Menulis untuk Menginspirasi, Mencerahkan, dan Menggerakkan Peradaban.”