Bisakah empat kali tanam padi dalam setahun? Jika itu ditanyakan kepada Rustan Rewa, dia menyebut bisa. Bisa panen tiga kali atau empat kali pada awal tahun pertama di tahun berikutnya. Mari simak pengalamannya di Tolitoli.
PELAKITA.ID – Asisten Ekonomi dan Pembangunan Pemda Tolitoli yang juga Plt Dinas Kependudukan dan Catatan Sipl H. Rustan Rewa, pamong senior di Tolitoli membagikan pengalamanya kepada Pelakita.ID dalam memaksimalkan pemanfaatan lahan pertanian sawah di Kabupaten Tolitoli dengan menyebut inovasi IP 400 sebagai tantangan sekaligus peluang tanam padi 4 kali dalam setahun.
Dia menyebut itu sembari mengenang bagaimana pengalaman dalam tahun 2022 saat panen perdana IP 400 di Tolitoli.
”Saat itu, untuk program penanaman padi berkelanjutan di Kabupaten Tolitoli Provinsi Sulawesi Tengah resmi dibuka oleh Wakil Bupati Tolitoli Moh. Besar Bantilan yang didampingi Sekretaris Daerah Moh. Asrul Bantilan, S. Sos,” kenangnya.
Lahan Intensifikasi Pertanian (IP) 400 milik Kelompok Tani (Poktan) Lappo Ase mendapat kunjungan penting dari Wakil Bupati Tolitoli Moh. Besar Bantilan bersama jajaran Komisi B DPRD Tolitoli. Turut hadir dalam rombongan, Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura, Rustan Rewa; Kepala Balai Penyuluhan Pertanian (BPP), I Wayan Sudiarta; serta Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL), Yusup, S.P.
Kunjungan ini bertujuan untuk melihat langsung perkembangan penerapan sekaligus panen IP 400 di wilayah tersebut. Program IP 400, yang menargetkan empat kali tanam dalam setahun atau panen tiga kali dalam , menjadi salah satu inovasi strategis untuk meningkatkan produksi pangan dan kesejahteraan petani.
Dikutip dari sumber di Pemda Tolitoli, Wakil Bupati Tolitoli menyampaikan apresiasinya terhadap semangat petani Poktan Lappo Ase.
“Kita patut berbangga, lahan ini menunjukkan bahwa intensifikasi pertanian bisa dijalankan dengan baik jika ada kolaborasi antara petani, penyuluh, dan pemerintah. IP 400 adalah masa depan ketahanan pangan daerah,” ujar beliau.
Ketua Komisi B DPRD Tolitoli menambahkan bahwa dukungan kebijakan dan anggaran akan terus diupayakan untuk memastikan keberlanjutan program. “Kami di legislatif akan mengawal agar petani mendapatkan sarana dan prasarana yang memadai, termasuk akses permodalan dan teknologi,” tegasnya.

Inovasi yang perlu didukung
Menurut Rustan Rewa, pengalaman tersebut tidak bisa dilihat sebagai semata kehendak Pemerintah Pusat tetapi menjadi komitmen Pemerintah Daerah Tolitoli untuk memaksimalkan produksi pertanian.
”Kalau bisa tiga kali tanam kenapa kita hanya bisa dua, kalau bisa empat kali, kenapa kita tiga kali saja. Kira-kira begitu alur berpikirnya,” ujar Rustan terkait inovasi IP 400 itu.
Dia menyebut, bahwa IP 400 di Lappo Ase telah berjalan dengan pola tanam padi-padi-padi-palawija.
“Pelajaran pentingnya adalah bahwa bengan manajemen air yang tepat, varietas unggul, dan pendampingan intensif, kita bisa memaksimalkan hasil tanpa mengorbankan kualitas lahan,” jelas Rustan.
Rustan optinisi sebab sesuai dengan pembicaraan pihak BPP, mereka menilai kesuksesan IP 400 tak lepas dari kedisiplinan petani dan koordinasi yang solid.
Kata Rustan, IP 400 menjadi contoh praktik baik yang bisa direplikasi di wilayah lain. Penyuluh Pertanian Lapangan, Yusuf yang mendampingi langsung Poktan Lappo Ase, mengungkapkan bahwa respon petani terhadap IP 400 sangat positif meski awalnya ada keraguan, tapi setelah melihat hasil panen pertama dan kedua, semangat mereka semakin tinggi.
Rustan ingat persis pada kegiatan itu, diakhiri dengan dialog terbuka antara rombongan dan petani.
Beberapa masukan langsung disampaikan, mulai dari kebutuhan pompanisasi, perbaikan saluran irigasi, hingga akses pasar. Pemerintah daerah berjanji akan menindaklanjuti aspirasi tersebut dalam program kerja tahun berikutnya.
”Saya optimis, pola ini bisa menjadi inspirasi bagi siapapun di Inodnesia untuk memacu prpoduksi empat kalai tanam dalam setahun dan panen tiga kali setahun tentu dengan syarat dukungan lintas sektor, IP 400 di Lappo Ase diharapkan menjadi model percontohan yang dapat mendorong peningkatan produksi pangan dan kesejahteraan petani di Tolitoli,” ucapnya.
Harus Kolaboratif
Menurut Rustan, kegiatan ini juga menjadi pelajaran penting tentang perlunya kolaborasi lintas sektor dan aktof. Pada momen itu, menjadi istimewa sebab dihadiri anggota Unsur Forum Komunikasi Pimpinan Daerah, Kepala Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura, Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kepala Badan Pusat Statistik, anggota DPRD Tolitoli, Kepala BMKG , Kepala Cabang BRI , Kepala Bulog Sub Divre, Camat Galang, Kepala Desa Lalos, anggota BPD Desa Lalos dan masyarakat Desa Lalos.

Menurut Rustan, kegiatan Panen Perdana Padi Sawah Program Peningkatan (IP) 400 ini dirintis oleh kelompok tani Lappo Ase pada lahan kurang lebih 3 hektar. Ada petani bernama Sarif sebagai pilarnya dan mendapat banyak dukungan dari pihak yang disebut di atas.
Panen perdana dilaksanakan sebagai bentuk kerjasama antara Asosiasi Pengusaha Combine, Kelompok Tani Kecamatan Galang, Tim Penyuluh BPP Kecamatan Galang, Babinsa dan Babinkantimnas.
Program padi, indeks pertanaman (IP) 400 atau pola tanam 4 kali dalam setahun merupakan upaya Pemerintah melalui APBN Direktorat Jenderal Tanaman Pangan tahun 2022.
“Ini sebagai sebuah terobosan untuk meningkatkan produksi beras nasional, sebagai salah satu sektor unggulan di Kabupaten Tolitoli,” puji Wakil Bupati Moh Besar Bantilan kala itu.
Moh Besar Bantilan menyebut Program IP 400 di Kabupaten Tolitoli ini diharapkan mampu menguatkan ketahanan pangan di daerah ini. Warga Tolitoli harus memiliki stok pangan yang cukup, stok padi sebagai makanan pokok yang cukup dan terjangkau harganya oleh masyarakat.
Redaksi









