ROJALI dan ROHANA, Kita’ yang Mana?

  • Whatsapp
Ilustrasi Pelakita.ID

ROJALI dan ROHANA: Apakah Kita Termasuk?
Oleh: Muliadi Saleh

PELAKITA.ID – Di antara keramaian pasar tradisional, gemerlap pusat perbelanjaan modern, hingga tenda-tenda kecil pelaku UMKM yang dipenuhi harapan—tumbuh sebuah fenomena sosial ekonomi yang diam-diam merayap seperti lumut di batu basah. Ia disebut ROJALI dan ROHANA.

Dua istilah ini bukan sekadar guyonan. Mereka mencerminkan pola perilaku kita sebagai konsumen, dan lebih dalam lagi, sebagai manusia.

Siapa ROJALI dan ROHANA?

ROJALI adalah singkatan dari Rombongan Jarang Beli. Mereka datang berkelompok, antusias melihat-lihat, memuji kualitas barang, bahkan mencoba-coba. Tapi ketika tiba waktunya membeli, mereka pergi begitu saja, tanpa satu pun transaksi terjadi.

ROHANA, sepadan dengannya, adalah Rombongan Hanya Nanya. Dengan sopan dan ramah, mereka bertanya banyak hal: harga, bahan, cara pemakaian. Mereka mencatat, memotret, lalu pergi dengan janji manis, “Nanti saya balik lagi ya,” yang sering kali tinggal janji.

Sekilas lucu, bahkan terasa biasa. Namun bagi pelaku usaha kecil, kehadiran ROJALI dan ROHANA bisa jadi pukulan berat.

Di balik senyum penjual yang melayani dengan sabar, ada beban listrik yang harus dibayar, sewa tempat, dan cicilan usaha yang tak kenal tunda. Ketika banyak yang datang tapi tak membeli, perlahan semangat pun ikut tergerus.

Lalu, apakah kita termasuk?

Pertanyaan ini penting untuk direnungkan. Pernahkah kita meminta informasi, konsultasi, bahkan nasihat dari seseorang—tanpa pernah memberi timbal balik?

Di era digital, bentuk ROJALI dan ROHANA pun ikut berevolusi: membaca konten tanpa memberi apresiasi, meminta desain atau ide tanpa membeli, menikmati karya tanpa mendukung penciptanya.

Padahal, dalam ajaran agama pun, kejujuran dan keadilan dalam bertransaksi sangat ditekankan. Rasulullah SAW bersabda:
“Barang siapa menipu (merugikan) kami, maka ia bukan bagian dari kami.” (HR. Muslim)

Dan Al-Qur’an mengingatkan:
“Tunaikanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak membebani seseorang melainkan menurut kesanggupannya.” (QS. Al-An‘am: 152)

Dalam budaya lokal, kita mengenal pepatah: “Jangan ganggu rezeki orang lain.” Setiap kali kita hanya datang untuk melihat-lihat tanpa niat mendukung, bisa jadi kita sedang mencuri sedikit waktu dan harapan mereka.

Namun, jangan buru-buru menghakimi.

ROJALI dan ROHANA juga lahir dari kenyataan: menurunnya daya beli, kemudahan membandingkan harga secara daring, dan masyarakat yang semakin selektif dalam mengatur pengeluaran. Tak semua yang bertanya tanpa membeli itu berniat buruk—bisa jadi memang belum mampu, atau masih menimbang.

Di sinilah pentingnya empati. Jika belum mampu membeli, tinggalkan apresiasi. Jika hanya ingin bertanya, ucapkan terima kasih yang tulus. Jangan biarkan semangat para pelaku usaha kecil luntur hanya karena kita terlalu pelit untuk memberi dukungan moral.

Akhirnya, ini bukan hanya soal jual-beli.

Ini tentang adab, kejujuran, dan cara kita hidup berdampingan. Setiap pelaku usaha kecil adalah pejuang ekonomi bangsa. Mari bantu mereka bertahan, berkembang, dan berdaya. Setiap senyum, dukungan, dan transaksi kecil bisa jadi sedekah yang membawa berkah.

Karena, seperti sabda Rasulullah:
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Ahmad)

Jadi, sebelum kita pergi lagi ke pasar, atau membuka aplikasi belanja di ponsel—mari bertanya pada hati sendiri:

Apakah aku termasuk ROJALI? Apakah aku ROHANA?
Ataukah aku ingin jadi pembeli yang jujur, mendukung, dan membawa keberkahan?

Editor Denun