Mahbub ul Haq dan Pembangunan yang Berpusat pada Manusia

  • Whatsapp
Ilustrasi Pelakita.ID
  • Ia meraih gelar sarjana dari Universitas Cambridge di Inggris dalam bidang ekonomi, di mana ia menjadi teman dan kolega intelektual Amartya Sen—tokoh lain yang kelak juga berperan besar dalam pemikiran pembangunan berbasis manusia.
  • Mahbub ul Haq meyakini bahwa pembangunan sejati adalah yang memperluas pilihan dan kapabilitas manusia, bukan sekadar meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Ia menekankan bahwa manusia harus menjadi tujuan akhir dari proses pembangunan.
  • Ia menyebut GDP sebagai “ukuran yang menipu”, karena negara bisa tumbuh secara ekonomi namun warganya tetap menderita, tidak sehat, dan tidak berpendidikan. Karena itu, ia memperkenalkan indikator alternatif melalui IPM.

PELAKITA.ID – Mahbub ul Haq (1934–1998) adalah seorang ekonom dan pemikir pembangunan asal Pakistan yang terkenal di dunia, terutama sebagai pencetus Indeks Pembangunan Manusia (IPM).

Mahbub ul Haq lahir pada 24 Februari 1934 di Jammu, yang saat itu bagian dari India Britania. Setelah kemerdekaan Pakistan, keluarganya pindah ke Lahore. Ia dikenal sebagai siswa yang cemerlang dan kemudian melanjutkan studi ke luar negeri.

Ia meraih gelar sarjana dari Universitas Cambridge di Inggris dalam bidang ekonomi, di mana ia menjadi teman dan kolega intelektual Amartya Sen—tokoh lain yang kelak juga berperan besar dalam pemikiran pembangunan berbasis manusia.

Tak berhenti di sana, Mahbub melanjutkan studi doktoralnya di Universitas Yale di Amerika Serikat, dan kemudian juga mengajar di Harvard.

Pengalaman akademik internasional inilah yang membentuk pandangan kritis dan universalnya mengenai kemiskinan, ketimpangan, dan arah pembangunan dunia.

Karier Internasional dan Peran Global

Mahbub ul Haq menjabat sebagai Kepala Perencanaan Ekonomi Pakistan pada masa pemerintahan Ayub Khan, dan menjadi salah satu arsitek strategi pertumbuhan ekonomi Pakistan di tahun 1960-an. Namun, meskipun Pakistan tumbuh pesat saat itu, ia mulai mengkritik bahwa pertumbuhan tersebut tidak menjangkau masyarakat miskin dan hanya menguntungkan segelintir elite.

Setelah itu, ia bergabung dengan Bank Dunia dan kemudian menjabat sebagai Penasehat Senior di berbagai lembaga internasional.

Puncak pengaruh globalnya terjadi saat ia menjabat sebagai Direktur Human Development Report Office di UNDP (Program Pembangunan PBB) pada akhir 1980-an hingga 1998.

Di sanalah, bersama Amartya Sen, ia merumuskan Indeks Pembangunan Manusia (IPM), yang pertama kali diperkenalkan dalam Laporan Pembangunan Manusia (HDR) tahun 1990.

Indeks ini secara radikal mengubah cara pandang pembangunan: dari sekadar “berapa banyak” (income, produksi, pertumbuhan) menjadi “seberapa manusiawi” (umur panjang, pendidikan, dan taraf hidup layak).

Teori Utama dan Fokus Pemikiran

Pembangunan Berbasis Manusia

Mahbub ul Haq meyakini bahwa pembangunan sejati adalah yang memperluas pilihan dan kapabilitas manusia, bukan sekadar meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Ia menekankan bahwa manusia harus menjadi tujuan akhir dari proses pembangunan.

Kritik terhadap GDP sebagai Ukuran Kemajuan

Ia menyebut GDP sebagai “ukuran yang menipu”, karena negara bisa tumbuh secara ekonomi namun warganya tetap menderita, tidak sehat, dan tidak berpendidikan. Karena itu, ia memperkenalkan indikator alternatif melalui IPM.

Keamanan Manusia (Human Security)

Dalam Laporan Pembangunan Manusia 1994, ia mengembangkan konsep human security—yang mencakup keamanan dari ancaman kemiskinan, kelaparan, penyakit, pengangguran, konflik, dan bencana lingkungan. Gagasan ini membuka jalan baru bagi pemikiran pembangunan yang lebih holistik dan kontekstual.

Penghargaan dan Warisan

Walau tidak banyak menerima penghargaan formal semasa hidupnya dibandingkan dengan rekannya Amartya Sen, Mahbub ul Haq mendapat pengakuan luas secara global sebagai pelopor pemikiran pembangunan yang berfokus pada kesejahteraan manusia.

Konsep-konsep yang ia kembangkan telah dijadikan acuan di PBB, Bank Dunia, hingga lembaga-lembaga pembangunan nasional di berbagai negara berkembang dan maju.

Setelah wafatnya pada tahun 1998, keluarga dan koleganya mendirikan Mahbub ul Haq Human Development Centre di Islamabad, Pakistan, untuk melanjutkan warisan intelektualnya di Asia Selatan dan sekitarnya.

Relevansi Pemikiran Mahbub ul Haq bagi Indonesia

Dalam konteks Indonesia, warisan Mahbub ul Haq sangat nyata dan relevan dalam beberapa hal berikut:

Indeks Pembangunan Manusia sebagai Alat Evaluasi
Indonesia secara konsisten menggunakan IPM sebagai indikator utama dalam mengukur kemajuan daerah dan nasional. IPM tidak hanya menjadi alat statistik, tetapi juga menjadi dasar dalam perencanaan pembangunan di RPJMN maupun RPJMD di seluruh provinsi dan kabupaten/kota.

Kesetaraan Wilayah dan Pembangunan Berbasis Daerah
Konsep Haq sejalan dengan prinsip desentralisasi dan otonomi daerah yang diterapkan sejak Reformasi. Ketimpangan antarwilayah seperti antara Jawa dan luar Jawa menjadi perhatian dalam kebijakan afirmatif, termasuk Dana Desa, DAK, dan program pembangunan daerah tertinggal.

Pendekatan Human Security dalam Kebijakan Sosial dan Iklim
Dalam menghadapi bencana alam, perubahan iklim, ketahanan pangan, dan kesehatan publik, Indonesia mulai mengadopsi pendekatan yang lebih humanistik—yang bukan hanya melihat pembangunan dari sisi infrastruktur, tetapi juga dari aspek perlindungan manusia secara menyeluruh.

Pembangunan Sosial Berbasis Data
Berbagai kebijakan berbasis data sosial—seperti bansos, PKH, KIP, KIS—dapat dipandang sebagai implementasi pemikiran Haq dalam membangun sistem perlindungan sosial berbasis kebutuhan dan kemampuan dasar.

Mahbub ul Haq bukan hanya seorang ekonom, tetapi juga seorang visioner kemanusiaan.

Ia mengingatkan dunia bahwa pembangunan yang hanya mengejar angka tanpa memperhatikan manusia akan gagal memenuhi tujuannya.

Di tengah tantangan global dan nasional saat ini, dari perubahan iklim hingga ketimpangan sosial, pemikirannya tetap menjadi kompas moral dan intelektual bagi masa depan pembangunan manusia.