Belajar Aspek Viralitas dalam Ekosistem Wisata Bahari

  • Whatsapp
Ilustrasi

PELAKITA.ID – Pagi itu laut tenang. Namun, riuh langkah wisatawan di dermaga kecil menghadirkan musik tersendiri bagi yang mendengarnya. Matahari baru saja muncul dari balik cakrawala, memantulkan cahaya ke permukaan air yang berkilau seperti hamparan perak cair.

Di kejauhan, perahu-perahu nelayan kembali dari laut, membawa hasil tangkapan segar sekaligus cerita-cerita kehidupan yang bersandar pada gelombang. Di sisi lain, sekelompok pemuda sibuk menyiapkan papan selancar, mengatur kamera aksi, dan menerbangkan drone untuk menangkap momen dari udara.

Beginilah denyut ekosistem wisata bahari. Ia bukan sekadar hamparan pantai atau laut biru yang memukau mata, melainkan sebuah jaringan hidup yang merangkai ekonomi, budaya, dan teknologi dalam satu irama. Ketika sebuah destinasi bahari menjadi viral, gelombang yang tercipta bukan hanya gelombang digital, tetapi juga gelombang ekonomi yang menghidupi banyak keluarga.

Viralitas bukanlah sekadar tren sesaat, melainkan fenomena sosial yang lahir dari kekuatan visual, kedalaman cerita, dan keterhubungan jejaring. Dalam konteks wisata bahari, viralitas bisa bermula dari satu video pendek—seorang anak kecil melompat dari karang ke laut biru jernih, senyum nelayan tua yang mengajarkan cara menenun jaring, atau tarian tradisional yang digelar di tepi pantai saat matahari terbenam. Potongan momen yang menyentuh hati, diunggah ke dunia maya, lalu menyebar cepat, menembus batas bahasa dan benua.

Di berbagai sudut Nusantara, kita telah menyaksikan bagaimana keindahan yang tersembunyi menemukan panggungnya. Pantai-pantai di Maluku yang dahulu sepi, kini ramai didatangi wisatawan mancanegara setelah video tentang terumbu karangnya viral di TikTok.

Desa-desa nelayan di Nusa Tenggara yang sebelumnya hanya bergantung pada laut kini membuka homestay, warung kopi, dan paket tur memancing tradisional, setelah pengalaman wisatawan asing dibagikan di media sosial. Bahkan dermaga kayu sederhana bisa berubah menjadi ikon pariwisata setelah terekam kamera sebagai tempat menikmati matahari tenggelam yang menakjubkan.

Kisah-kisah itu mengajarkan kita bahwa sebuah destinasi tak cukup hanya menawan secara visual, ia harus memiliki cerita yang bisa dirasakan dan dibagikan. Wisata bahari yang menggugah adalah yang mampu memperlihatkan lebih dari pasir putih dan ombak. Ia mengajak pengunjung menyelami ritme hidup nelayan, merasakan kearifan pesisir, ikut menanam mangrove, dan menjadi bagian dari pelestarian.

Ketika pengalaman menyentuh hati dan berkesan, setiap wisatawan akan menjadi duta cerita yang membawa pulang dan menyebarkan pesona itu ke berbagai penjuru dunia.

Namun, viralitas tak boleh berhenti pada euforia keindahan. Ia harus dibingkai dalam pengelolaan yang bijak agar manfaatnya benar-benar kembali kepada masyarakat lokal. Infrastruktur harus dipersiapkan dengan tetap menjaga harmoni ekosistem laut. Pemandu lokal perlu dilatih agar mampu menyampaikan narasi budaya dengan baik. Dan kearifan tradisi harus tetap dijaga, agar tidak larut dalam arus komersialisasi yang membutakan.

Viralitas bisa menjadi pintu masuk. Tetapi keberlanjutan adalah rumah yang harus kita bangun bersama.

Menjelang senja, ketika angin laut mulai membawa aroma garam, sekelompok anak terlihat bermain bola di pasir basah. Tawa mereka menyatu dengan debur ombak. Sesekali, mereka berhenti hanya untuk memandang perahu-perahu wisata yang kembali merapat. Mungkin mereka belum mengenal apa itu viralitas, tapi masa depan mereka sedang perlahan dibentuk oleh gelombang cerita yang tersebar di dunia maya. Setiap unggahan tentang laut mereka adalah undangan bagi dunia, dan setiap kunjungan adalah harapan baru bagi keluarga mereka.

Sebagai bangsa maritim dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia, kita menyimpan ribuan titik keindahan yang belum sepenuhnya dikenal. Tugas kita adalah meramu pesona alam dengan kisah manusia, mengelolanya dengan cinta dan visi, lalu membiarkan dunia ikut merayakannya. Viralitas bukan sekadar sensasi, melainkan bahasa zaman untuk memperkenalkan khazanah bahari sekaligus membangkitkan ekonomi lokal.

Maka mari belajar dari gelombang: dari riuh Pacu Jalur di sungai, dari tarian bocah di perahu, dari tawa anak-anak pesisir di pasir senja. Mari kelola ekosistem wisata bahari dengan kasih, keberanian, dan kreativitas. Biarkan laut kita menulis ceritanya sendiri—mengalir seperti air, menembus waktu dan ruang—hingga setiap orang, di mana pun mereka berada, berkata: inilah laut yang ingin kucumbu dengan mata, hati, dan jejak langkahku.

—Muliadi Saleh
“Menulis untuk Menginspirasi, Mencerahkan, dan Menggerakkan Peradaban”