Kolom Judy Rahardjo: BASSANG!

  • Whatsapp
Ilustrasi bassang dan buku Pram (dok: Judy Rahardjo)

DPRD Makassar

PELAKITA.ID – Bassang. Makanan khas Makassar, sejenis bubur jagung. Terkadang saya teringat petikan Arus Balik, novel sejarah karya Pramoedya.

Ada petikan dialog yang saya ingat. Ketika benih jagung itu masuk dan diperkenalkan pertama kali di negeri bandar Tuban, wilayah kerajaan Majapahit di pesisir laut Jawa waktu itu.

Berikut petikannya:

“Bila disantap sewaktu muda, hanya ditunu di atas bara, gemeretak bunyinya tapi rasanya takkan kalah dengan emping ketan bercampur kelapa dan gula. ¬†Menanamnya tak memerlukan air, malah harus ditanam pada penghabisan musim hujan. Dia tidak memilih tanah, asal tidak digenangi air.”

Nah, kawan saya Marwan Hussein dalam percakapan Whatapps semalam menyebut, jagung ada dimana-mana mengganti kakao.

Saya rasa itu yang disebut sebagai komodifikasi.

Antropolog Arjun Apparudai bilang: segala sesuatu yang ditujukan untuk pertukaran.

Dia juga bilang, pergeseran dan perubahan suatu barang menjadi komoditas akan mengungkap ekonomi moral.

Saya rasa, apa yang disebut kawan saya ini. Perlu ditelisik lebih jauh. Tidak sekoyong-koyong mengganti kakao dengan jagung.

Ekonomi moral akan membicarakan cara mengambil keputusan dan situasi seperti apa.

Seperti kata antropolog James Scott, ekonomi moral petani didasarkan pada norma subsisten dan resiprositas, ketika mereka dihadapkan keadaan yang merugikan kelangsungan hidup.

Dalam angka statistik. Sulawesi Selatan menjadi wilayah penting produksi jagung. Tapi juga tumbuh dan mengikutinya, industri pakan ternak selain industri benih jagung, dan tentu saja, bibit ayam.


Penulis
Judy Rahardjo,
penggiat sosial dan lingkungan

 

Related posts