PELAKITA.ID – Di tengah dunia yang terus bergerak menuju populasi hampir 9 miliar jiwa, satu pertanyaan besar mengemuka: bagaimana kita memberi makan semua orang secara berkelanjutan?
Dalam lanskap tantangan global ini, sistem pangan akuatik hadir sebagai salah satu jawaban yang menjanjikan.
Hari ini, sektor perikanan dan akuakultur mencapai titik tertinggi sepanjang sejarah.
Pada tahun 2022, dunia memproduksi sekitar 185 juta ton hewan akuatik dan 38 juta ton alga. Sebuah tonggak penting pun tercapai—akuakultur, untuk pertama kalinya, melampaui perikanan tangkap dengan menyumbang 51 persen dari total produksi hewan akuatik.
Meski demikian, perikanan tangkap tetap memegang peran vital, menghasilkan lebih dari 90 juta ton spesies akuatik yang menjadi sumber pangan dan kehidupan bagi jutaan orang.
Keberlanjutan masih menjadi pekerjaan rumah besar. Proporsi stok ikan laut yang ditangkap secara berkelanjutan menurun menjadi 62,3 persen pada 2021.
Meski begitu, jika ditimbang berdasarkan volume produksi, sekitar 77 persen hasil tangkapan tetap berasal dari stok yang dikelola secara berkelanjutan. Ini memberi harapan bahwa dengan tata kelola yang tepat, pemulihan sumber daya laut bukanlah hal yang mustahil.
Di sisi lain, produk pangan akuatik juga menjadi salah satu komoditas paling aktif diperdagangkan di dunia. Pada 2022, nilai perdagangan globalnya mencapai rekor 195 miliar dolar AS.
Lebih dari sekadar angka, sektor ini menopang kehidupan ratusan juta orang. Sekitar 62 juta orang bekerja langsung di sektor primer, dan jika dihitung seluruh rantai nilai, hingga 600 juta jiwa bergantung padanya. Perempuan memainkan peran signifikan—sekitar 24 persen sebagai nelayan dan pembudidaya, serta 62 persen dalam sektor pengolahan.
Konsumsi pangan akuatik pun terus meningkat. Rata-rata konsumsi global mencapai 20,7 kilogram per kapita pada 2022, mencerminkan meningkatnya kebutuhan akan sumber protein yang sehat dan berkelanjutan.
Untuk menjawab tantangan ini, konsep blue transformation menjadi kunci. Melalui pemanfaatan ilmu pengetahuan, riset, teknologi, dan inovasi, dunia didorong untuk mengembangkan akuakultur secara berkelanjutan, terutama di negara-negara dengan potensi besar.
Pendekatan berbasis ekosistem dalam pengelolaan perikanan juga semakin ditekankan, bersamaan dengan upaya meningkatkan efisiensi, keamanan, dan inklusivitas dalam rantai nilai pangan akuatik.
Pada akhirnya, setiap tantangan melahirkan peluang untuk berinovasi. Dari laut dan perairan, harapan itu tumbuh—menuju masa depan dengan gizi yang lebih baik, produksi yang lebih berkelanjutan, lingkungan yang lebih terjaga, dan kehidupan yang lebih layak bagi semua.









