Pesan dari Pasirlangu untuk Malino

  • Whatsapp
Longsor Pasirlangu di Cisarua, Bandung Barat. Foto: ANTARA FOTO/ABDAN SYAKURA

Muliadi Saleh
Esais Reflektif dan Arsitek Kesadaran Sosial

PELAKITA.ID – Pasirlangu tidak runtuh dalam satu malam. Ia retak perlahan—lelah setahap demi setahap—hingga akhirnya menyerah ketika hujan turun tanpa jeda. Di lereng itulah, tanah seakan mengirim pesan yang selama ini kita abaikan.

Bukan teriakan, melainkan bisikan panjang tentang perubahan cara manusia memandang gunung, tanah, dan pangan.

Pasirlangu terletak di Kabupaten Bandung Barat. Tanah longsor terjadi pada Sabtu dini hari (24/01), sekitar pukul 02.30 WIB, saat sebagian besar warga masih terlelap.

Sebelum longsor, kawasan ini diguyur hujan deras disertai angin kencang selama dua hari berturut-turut. Dalam senyap malam itu, tanah bergerak tanpa aba-aba—menimbun rumah-rumah dan memutus rasa aman yang selama ini terasa mapan.

Beberapa tahun terakhir, wajah Pasirlangu berubah. Lereng yang dahulu dipeluk tanaman keras—pepohonan berakar dalam yang setia memijat tanah—perlahan berganti hamparan sayuran sub-tropis. Kentang, kol, kubis, dan paprika tumbuh rapi, seragam, cepat panen. Indah dipandang, menggiurkan pasar kota.

Urbanisasi dan perubahan pola konsumsi mendorong permintaan besar pada sayuran dataran tinggi. Kota yang lapar mulai memandang gunung sebagai ruang produksi baru.

Namun gunung memiliki hukumnya sendiri. Ia bekerja dengan kesabaran, bukan kecepatan. Tanaman keras membutuhkan waktu, tetapi akarnya membangun ikatan panjang dengan tanah.

Sayuran berumur pendek bekerja sebaliknya: cepat memberi hasil, namun tak cukup kuat menahan air dan gravitasi. Ketika hujan ekstrem datang—yang kini kian sering akibat perubahan iklim—tanah yang kehilangan penopang menjadi rapuh.

Musibah longsor di Pasirlangu menjadi alarm keras. Puluhan rumah tertimbun, korban jiwa berjatuhan, dan proses pencarian berlangsung dalam kecemasan akan longsor susulan.

Data kebencanaan menunjukkan bahwa dalam beberapa tahun terakhir, bencana hidrometeorologi—banjir dan longsor—menjadi jenis bencana paling dominan di Indonesia. Curah hujan ekstrem meningkat, sementara daya dukung lingkungan justru menurun.

Para pakar geomorfologi dan lingkungan mengingatkan bahwa longsor bukan peristiwa tunggal. Ia merupakan hasil pertemuan tiga faktor: hujan ekstrem, kemiringan lereng, dan perubahan tutupan lahan.

Ketika vegetasi penahan hilang, air hujan tidak lagi meresap perlahan, melainkan meluncur deras di permukaan, menyeret tanah ke bawah. Lereng yang tampak tenang sejatinya sedang menanggung beban yang kian tak seimbang.

Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq, menegaskan bahwa urbanisasi dan alih fungsi lahan di kawasan hulu dan lereng menjadi faktor penting di balik meningkatnya risiko longsor.

Pemerintah pun menurunkan tim ahli untuk mengkaji kondisi tanah, vegetasi, dan tata ruang, agar penanganan bencana tidak berhenti pada evakuasi semata, tetapi menyentuh akar persoalan. Pernyataan ini penting, karena bencana tidak boleh lagi diperlakukan sebagai takdir belaka, melainkan sebagai cermin dari pilihan-pilihan pembangunan.

Pasirlangu, dengan segala lukanya, sedang mengajarkan pelajaran mahal. Bahwa pertanian di lereng gunung dan perbukitan bukan musuh, tetapi harus dipandu kebijaksanaan ekologis. Agroforestri—kombinasi tanaman keras dan tanaman pangan—konservasi tanah, serta zonasi tata ruang yang tegas adalah keniscayaan.

Produktivitas tidak boleh dibangun dengan mengorbankan keselamatan.

Pesan itu kini seolah bergerak ke timur, menuju Malino di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Kawasan sejuk yang juga dikenal sebagai lumbung sayuran dataran tinggi. Di sana, lereng-lereng hijau ditanami komoditas yang sama, mengikuti logika pasar yang sama. Pertanyaannya sederhana, namun mendalam: apakah Malino sedang membaca pesan dari Pasirlangu?

Masih ada waktu. Waktu untuk menata ulang fungsi lahan, mengembalikan tanaman keras sebagai penjaga lereng, dan menempatkan ilmu pengetahuan sebagai kompas kebijakan.

Masih ada kesempatan untuk memastikan bahwa gunung tetap menjadi penyangga kehidupan, bukan ladang risiko yang dipanen bersama hasil bumi.

Pasirlangu tidak meminta banyak. Ia hanya mengingatkan bahwa tanah memiliki ingatan. Ia mencatat setiap keputusan manusia. Dan suatu hari, jika beban terlalu berat, ia akan menjawab dengan caranya sendiri.


Muliadi Saleh
Menulis Makna, Membangun Peradaban