Ia bahkan menyebut strategi personalnya: menulis potongan-potongan pengalaman dalam bentuk artikel terpisah, lalu suatu hari merangkumnya menjadi buku.
PELAKITA.ID – Bagi Rusdin Tompo, menulis bukan sekadar aktivitas intelektual atau keterampilan teknis. Menulis adalah jalan hidup, strategi advokasi, sekaligus cara menjaga ingatan sosial agar tidak hilang ditelan waktu.
Itulah pesan utama yang ia sampaikan dalam paparannya sebagai Koordinator Satu Pena Sulawesi Selatan, di hadapan para peserta lokakarya jurnalisme warga yang digelar Pelakita.ID, Selasa, 20 Januari 2026 di Aula Perpustakaan Daerah Gowa.
Rusdin membuka kisahnya dengan sederhana. Ia menyebut dirinya bukan sosok yang lahir dari ruang kelas, melainkan “orang lapangan” yang ditempa oleh pengalaman panjang di dunia LSM, media, dan advokasi.
Karena itu, ia memilih metode berbagi yang cair—tanpa presentasi kaku, tanpa teori yang berlapis-lapis—melainkan bertumpu pada cerita, contoh konkret, dan pengalaman nyata.
Penulis dan Ceritanya Sendiri
Menurut Rusdin, setiap penulis memiliki cerita, dan setiap tulisan—termasuk buku—akan menemukan jalannya sendiri.
Ia mencontohkan buku Broken Strings karya Aurelie Moeremans, yang sempat lama tak dilirik penerbit, sebelum akhirnya viral dan mendapat perhatian luas. Dari situ ia menarik benang merah: penulis tidak boleh berhenti hanya karena naskahnya ditolak atau tak segera terbit.
Pengalaman itu sangat dekat dengan perjalanan pribadinya. Sejak awal 2000-an, Rusdin telah menulis naskah-naskah advokasi yang beredar luas dalam bentuk kliping, bundelan, dan artikel media.
Naskah-naskah itu bahkan digunakan oleh mahasiswa S1 hingga doktoral sebagai rujukan skripsi, tesis, dan disertasi—jauh sebelum resmi diterbitkan menjadi buku pada 2016. Baginya, itu bukti bahwa tulisan punya daya hidup sendiri.
Menulis yang Mengubah Kebijakan
Rusdin menegaskan bahwa tulisan bukan sekadar wacana. Ia memberi contoh nyata bagaimana kumpulan tulisannya tentang anak jalanan, pengemis, dan pengamen di Makassar kemudian berkontribusi langsung pada lahirnya Peraturan Daerah Kota Makassar tentang isu tersebut.
Begitu pula advokasi akta kelahiran gratis, yang jejak historisnya ia dokumentasikan secara konsisten dalam tulisan.
“Kalau hari ini kita menikmati layanan akta kelahiran gratis, itu bukan datang tiba-tiba,” ujarnya. Itu hasil dari advokasi panjang, riset, tulisan, dan tekanan publik yang terorganisir—dan semua itu direkam lewat kerja kepenulisan.
Dalam konteks jurnalisme warga, Rusdin mengingatkan bahwa pers memang memiliki mandat konstitusional untuk memenuhi hak publik atas informasi. Namun, media tetap bekerja dengan sudut pandang, kepentingan redaksi, dan logika pemberitaan sendiri. Tidak semua suara akan mendapat ruang yang sama.
Karena itu, menulis sendiri menjadi penting. Dengan menjadi pewarta warga, masyarakat dapat membingkai realitas dari sudut pandangnya sendiri, bukan sekadar menjadi “objek liputan”.
Ia menyebut ini sebagai upaya merebut narasi, agar realitas tidak selalu menjadi “tangan kedua” atau second-hand reality.
Rusdin menekankan pentingnya mengikat pengalaman dengan tulisan. Baginya, apa pun yang dialami—mulai dari kerja lapangan, advokasi kebijakan, hingga peristiwa besar seperti jatuhnya pesawat Aviastar—harus segera ditulis agar tidak hilang.
Ia bahkan menyebut strategi personalnya: menulis potongan-potongan pengalaman dalam bentuk artikel terpisah, lalu suatu hari merangkumnya menjadi buku.
Pendekatan ini membuat menulis terasa lebih ringan dan berkelanjutan. Tidak harus menunggu “sempurna” untuk menjadi buku, karena buku justru lahir dari disiplin mencatat hal-hal kecil yang bermakna.
Sebagai penulis dan editor, Rusdin juga merasakan apa yang ia sebut sebagai “privilege kepenulisan”.
Ia bisa masuk ke ruang-ruang yang tak mudah diakses orang lain—mulai dari ruang rapat kepolisian, rumah tokoh publik, hingga momen-momen personal narasumber. Semua itu hadir karena kepercayaan, dan kepercayaan itu lahir dari integritas seorang penulis.
Namun, ia menegaskan bahwa tidak semua yang dilihat harus ditulis mentah-mentah. Penulis bekerja dengan seluruh inderanya, tetapi memilih dengan bijak apa yang layak dipublikasikan dan bagaimana cara mengungkapkannya.
Jurnalisme Advokasi dan Kesadaran Kritis
Dalam refleksinya, Rusdin menyadari bahwa sebagian besar tulisannya bergerak di jalur jurnalisme advokasi.
Bukan karena ia ingin menggurui, tetapi karena ia ingin pembaca memahami persoalan secara utuh. Ia menyebut pendekatan ini sebagai diversifikasi isu—bahwa satu persoalan sosial, seperti isu anak, sesungguhnya terhubung dengan politik, ekonomi, budaya, dan kebijakan publik.
Ia mengajak peserta untuk membangun kesadaran kritis: tidak sekadar menerima keadaan, tetapi bertanya “mengapa”. Jalan berlubang dan gelap bukan sekadar kecelakaan tunggal; bisa jadi ada persoalan anggaran, kebijakan, atau pengawasan yang lalai. Di situlah pintu masuk kerja jurnalistik dan advokasi dibuka.
Sebagai penutup, Rusdin menekankan pentingnya memilih narasumber yang kompeten.
Dengan mengutip pernyataan pihak yang tepat, penulis warga tidak hanya melindungi dirinya secara etis, tetapi juga menggeser tanggung jawab informasi kepada sumber yang berwenang. Ini adalah prinsip dasar agar tulisan tetap kuat, berimbang, dan berdampak.
“Menulis itu tidak pernah sia-sia,” tegasnya. “Ia mungkin tidak langsung mengubah keadaan, tetapi ia menyiapkan ingatan kolektif dan membuka jalan perubahan.”
Bagi Rusdin Pena, menulis adalah kerja sunyi yang hasilnya kadang baru terasa bertahun-tahun kemudian. Namun justru di situlah nilainya: menjadi jejak, menjadi saksi, dan menjadi penggerak perubahan sosial.
Redaksi









