Khusnul Yaqin | ‎Belajar Meritokrasi dari Prof. Hansen

  • Whatsapp
Peter Diedrich Hansen . ‎Hansen adalah contoh ilmuwan yang bergerak cepat, tegas, dan presisi. Ketika saya mengajukan permohonan Letter of Acceptance melalui email untuk keperluan beasiswa DAAD, responsnya datang tanpa bertele-tele.

PELAKITA.ID – Pengalaman akademik sering kali mengajarkan hal-hal yang tidak tertulis dalam buku teks, tetapi justru menentukan arah hidup seorang ilmuwan.

Salah satu pelajaran paling penting yang saya peroleh selama studi doktoral di bidang ekotoksikologi perairan di Technische Uiversitaet Berlin, Jerman datang bukan dari ruang-ruang pembelanjaran, melainkan dari relasi intelektual dan etika kerja seorang ilmuwan bernama Peter Diedrich Hansen–atau cukup saya panggil Hansen, meskipun kelak saya memanggilnya Peter–pembimbing saya di bidang ekotoksikologi perairan.

‎Hansen adalah contoh ilmuwan yang bergerak cepat, tegas, dan presisi. Ketika saya mengajukan permohonan Letter of Acceptance melalui email untuk keperluan beasiswa DAAD, responsnya datang tanpa bertele-tele.

Tidak ada drama administratif, tidak ada basa-basi. Ia membaca, menilai kecocokan akademik, lalu mengambil keputusan. Dari situ saya memahami satu hal penting: dalam ekosistem akademik Jerman, kepercayaan bukan dibangun oleh gelar atau rekomendasi kosong, tetapi oleh relevansi dan kompetensi ilmiah.

‎Setelah saya tiba dan bergabung di laboratorium ekotoksikologi di Berlin, Hansen mulai bercerita tentang perjalanan akademiknya. Ia adalah lulusan University of Hamburg, satu angkatan dengan seorang tokoh Indonesia yang kelak dikenal luas di bidang industri sarang walet, Budi Mranata.

Dari Hamburg, perjalanan akademiknya membawanya ke Syd Island, sebelum akhirnya dipercaya menjadi kepala Laboratorium Ekotoksikologi di Technische Universitaet Berlin.

‎Di sinilah kisah menarik itu bermula. Laboratorium ekotoksikologi yang ia pimpin berada di bawah fakultas arsitektur.

Bagi sebagian orang, ini mungkin terdengar janggal. Apa hubungan ekotoksikologi dengan arsitektur? Namun justru di titik itulah kecerdasan ilmiah Hansen diuji. Ia tidak memaksakan pendekatan lama, melainkan mengembangkan perspektif baru yang kemudian dikenal sebagai landscape ecotoxicology.

‎Subbidang ini membuka cakrawala baru. Ekotoksikologi tidak lagi dipahami sebatas pengukuran kualitas air atau konsentrasi pencemar, tetapi sebagai ilmu yang membaca lanskap secara utuh: hubungan antara tata ruang, aktivitas manusia, aliran pencemar, dan respons biologis organisme hidup.

Konsep biomarker, misalnya, menjadi sangat relevan ketika disandingkan dengan ilmu lanskap, terutama dalam perencanaan kawasan industri yang berwawasan ekologis. Di sinilah ekotoksikologi menjelma menjadi ilmu prediktif dan preventif, bukan sekadar diagnostik.

‎Di sinilah letak kecerdasan Hansen: kemampuannya mensintesis ilmu lanskap dengan ekotoksikologi secara organik dan koheren. Ia tidak memaksakan keahlian lama ke dalam ruang yang asing, tetapi justru memperluas cakrawala ekotoksikologi agar relevan dengan konteks keilmuan tempat ia berada.

Sintesis inilah yang membuatnya layak dipilih sebagai kepala laboratorium, bukan karena kedekatan politik administratif atau pertimbangan-pertimbangan remeh yang tidak berkaitan dengan kapasitas akademik.

Kepemimpinan ilmiahnya lahir dari kecocokan antara kompetensi, visi riset, dan kebutuhan institusional, sebuah praktik meritokrasi akademik yang seharusnya menjadi teladan.

‎Dari Hansen, saya belajar bahwa menjadi kepala laboratorium bukan perkara administratif. Ia bukan jabatan yang bisa dicomot lalu ditempelkan kepada siapa saja yang kebetulan punya wewenang atau kedekatan struktural.

Kepala laboratorium harus mampu menunjukkan bahwa kompetensinya benar-benar berkelindan dengan ruh keilmuan laboratorium yang dipimpinnya. Tanpa itu, laboratorium akan kehilangan arah, dan ilmu akan direduksi menjadi rutinitas tanpa makna.

‎Prinsip ini mengingatkan saya pada sebuah hadis Nabi Muhammad saw.: ‎“Apabila suatu urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah kehancurannya.”

‎Hadis ini diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam Shahih-nya, sebuah peringatan keras tentang bahaya ketidakcocokan antara amanah dan keahlian.

‎Pelajaran itu semakin konkret ketika saya terlibat langsung dalam kerja-kerja laboratorium. Dari Hansen, saya belajar banyak tentang enzim cholinesterase sebagai biomarker neurotoksisitas, serta aktivitas fagositosis pada kerang biru sebagai indikator respons imun terhadap bahan pencemar.

‎Menjelang kepulangan saya ke Indonesia, Hansen melibatkan saya dalam kegiatan interkalibrasi penggunaan enzim cholinesterase pada kerang biru Mytilus edulis. Jumlah sampel dari Norwegia tidak main-main: sekitar 4.000 individu.

‎Awalnya Hansen memperkirakan pekerjaan itu bisa selesai dalam waktu kurang dari satu minggu. Saya tahu itu mustahil. Saya lalu mengajaknya ke ruang penyimpanan sampel di basement laboratorium.

Setelah melihat sendiri jumlah kerang yang harus dianalisis, barulah ia menyadari skala pekerjaan tersebut. Ach so, itulah kata yang terucap dari Hansen setelah melihat jumlah sampel.

‎Akhirnya, saya mengerjakannya selama satu bulan penuh, dalam suasana laboratorium yang nyaris kosong karena musim liburan musim panas dan bertepatan dengan perhelatan Piala Dunia sepak bola.

‎Dalam keheningan laboratorium, di antara bunyi alat-alat penelitian yang sebagian dirancang untuk misi luar angkasa, saya bekerja dengan ritme ruang dan waktu yang nyaris meditatif.

Saya mendengar mesin-mesin Lab itu berdzikir di sela-sela saya mengerjakan sampel untuk analisis Cholinesterase. Jika memakai bahasa psikologi klasik, mungkin ini bisa disebut halusinasi. Tetapi dalam tradisi filsafat Islam, pengalaman semacam itu justru dipahami sebagai keterhubungan antara akal aktif di alam barzakhi (interworld) dan akal universal di wilayah ruhani.

Bagi saya, itu adalah momen ketika sains dan spiritualitas tidak saling meniadakan, tetapi saling meneguhkan.

‎Setelah itu, saya juga terlibat dalam interkalibrasi uji MARA assay, sebuah metode berbasis bakteri untuk mendeteksi bahan pencemar. Setelah semua pekerjaan selesai, Hansen mentraktir saya makan. Dalam suasana santai itu, ia bertanya, “Khusnul, kapan kamu menjadi orang Jerman?”

Maksudnya jelas: ia berharap saya tinggal lebih lama dan melanjutkan riset bersama di Lab Ekotoksikologi TU Berlin. Saya menjawab jujur bahwa saya punya tanggung jawab akademik dan moral untuk kembali ke Indonesia.

‎Menjelang kepulangan, saya menyerahkan daftar sekitar 14 tema penelitian lanjutan yang menurut saya belum dijawab oleh penelitian saya selama dua tahun. Hansen membacanya dengan saksama, lalu mencoret 12 di antaranya. Ia menyisakan hanya dua tema. “Dua ini saja yang kamu lanjutkan di Indonesia,” katanya.

Saat itulah saya benar-benar memahami mengapa di awal ia bercerita panjang tentang pengalamannya menjadi kepala laboratorium di TU Berlin.

‎Pesannya jelas, meski tidak diucapkan secara eksplisit: fokuslah pada kompetensi inti. Jangan tergoda menjadi serba bisa tetapi dangkal. Jika kelak memimpin laboratorium, pastikan laboratorium itu benar-benar mencerminkan keahlianmu.

Ekotoksikologi perairan bukan sekadar soal angka kualitas perairan, tetapi tentang membaca hubungan kompleks antara kualitas elosistem perairan dan efek biologis pada organisme sentinel.

‎Pengalaman tersebut menguatkan keyakinan saya bahwa persoalan pendidikan di Indonesia kerap bukan terletak pada kekurangan sumber daya manusia yang kompeten, melainkan pada cara penempatan peran yang sering dilakukan secara serampangan.

Ketika tanggung jawab akademik diberikan melalui mekanisme asal comot—tanpa pertimbangan kecocokan keahlian dan visi keilmuan—maka institusi pendidikan berjalan seadanya. Dalam kondisi seperti ini, kualitas pembelajaran dan riset tidak tumbuh secara alami dan ilmiah, karena fondasi meritokrasi yang seharusnya menopang dunia akademik justru diabaikan.

‎Laboratorium adalah jantung ilmu. Jika jantung itu dipimpin oleh orang yang tidak memahami denyut keilmuannya, maka perlahan ilmu akan mati, meski gedungnya berdiri megah.

Karena itu, sudah saatnya kita mengembalikan satu prinsip sederhana tetapi fundamental: kepemimpinan ilmiah harus lahir dari kompetensi, bukan dari kedekatan, kuasa administratif atau bim salabim egosentris yang dibalut kuasa politik kotor. Tanpa itu, kita hanya menunggu waktu hingga kehancuran yang telah diperingatkan Nabi Muhammad saw menjadi kenyataan.

‎إِذَا وُسِّدَ الأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ

‎Idzā wussida al-amru ilā ghayri ahlihi fantazhir as-sā‘ah.

‎“Apabila suatu urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah kehancurannya.”

__

Prof Husnul Yaqin