Catatan Denun | Rakor IKA Unhas dan Seni Memfasilitasi Pengambilan Keputusan

  • Whatsapp
Suasana pelaksanaan Rakor IKA Unhas (dok: Pelakita.ID)

Rakor IKA Unhas dan Seni Memfasilitasi Pengambilan Keputusan

PELAKITA.ID – Rapat Koordinasi (Rakor) Ikatan Alumni Universitas Hasanuddin (IKA Unhas) yang digelar setengah hari pada Jumat, 2 Januari 2026 di Four Points, bukan sekadar ruang administratif untuk menyepakati agenda atau membagi peran struktural.

Hemat penulis, ia adalah arena pengambilan keputusan kolektif yang mempertemukan latar belakang disiplin, kepentingan, dan pengalaman alumni yang sangat beragam—dan hal itu dipertontonkan secara efektif.

Hal tersebut tampak dari bagaimana panitia menyiapkan kegiatan ini, peran orang per orang yang dijalankan dengan presisi, serta bagaimana proses yang disebut Rakor itu berlangsung tanpa mengabaikan aspek keterwakilan, kepatutan momentum, dan suasana psikologis peserta.

Forum yang penulis hadiri sebagai utusan IKA FIKP Unhas sepagi mungkin ini ternyata tidak semata dihadiri pengurus, melainkan terbuka bagi perwakilan alumni lintas struktur. Masuk ke ruangan, hampir semua kursi sudah terisi.

Menyalami satu persatu kolega yang tak asing lagi. Kak Anto, Johamran, Haedar Majid, Matte Monga, Suwardi Tahir, Mustamin Raga, Chalim, lalu berputar ke Sugianto Wahid, wakil IKA Maluku Saleh Ramelan, Rijal Idrus, Prof Arsunan, Prof Iqbal Djawad, Ketua IKA Unhas Bone, Andi Promal, dan banyak lagi.

Tentang Rakor ini, penulis ingin memberi garis tebal bahwa seni pengambilan keputusan merupakan keterampilan kunci yang telah tersaji dengan baik mesti kesan prakondisi sudah tercium.

Disebut demikian, bukan hanya bagi panitia persiapan rapat, tetapi juga bagi para fasilitator—atau dalam forum ini, pimpinan sidang—yang menjaga agar diskusi tetap produktif, inklusif, dan memang berorientasi tujuan.

Kita sadar bahwa keputusan yang baik tidak lahir dari dominasi suara atau kelengkapan data semata, melainkan dari kejelasan arah bersama: apa yang ingin dicapai IKA Unhas, nilai apa yang dijaga, serta dampak apa yang hendak dihasilkan bagi alumni, almamater, dan masyarakat luas. Tentu tujuan sebagaimana layaknya sebuah Rapat Koordinasi.

Fondasi utama dalam seni memfasilitasi pengambilan keputusan adalah kejelasan tujuan dan penerimaan atas ketidakpastian sebelum memasuki rapat.

Penulis menyoroti peran seorang Rahman Pina yang sangat jeli memainkan fungsi fasilitator—sejak membuka forum, mengantar alur diskusi, hingga menunjuk siapa yang berbicara dan kapan sebuah tanggapan perlu dihadirkan.

Dalam Rakor tersebut, peserta datang dengan asumsi, ekspektasi, bahkan agenda yang berbeda-beda. Namun dengan fungsi fasilitator yang diembannya, Rahman Pina mampu menata ulang percakapan dengan mengembalikannya pada tujuan utama kegiatan. Toh, tidak ada resitensi atau suara berbeda. Ini faktanya.

Memang, tidak semua informasi tersedia secara lengkap dan tidak semua pihak sepakat (di luar arena seperti WAG Alumni Unhas), misalnya pada pernyataan bahwa Rakor menyepakati membawa satu nama untuk maju ke Mubes IKA Unhas yang akan digelar Mei 2026.

Harus diakui bahwa setiap keputusan memiliki keterbatasan dan selalu membuka ruang koreksi serta pembelajaran. Di titik ini, muncul pertanyaan etis: sungguhkah tepat jika Rakor pengurus dan perwakilan IKA Unhas menetapkan satu nama atas nama forum tersebut?

“Jago memang pimpinan rapat,” kata seorang akademisi Unhas yang duduk di samping penulis.

Dia menyebut itu setelah penulis menyebut bagus sekali intronya pimpinan rapat, mulai dari pembukaan, pengatar, hingga penjelasan alur dan penentuan siapa bicara.

Pertanyaan lanjutan pun relevan untuk kita renungkan: siapa yang diuntungkan, siapa yang berpotensi tertinggal, dan bagaimana keputusan itu dipertanggungjawabkan secara moral maupun institusional.

Padahal, sebagaimana disampaikan Sekjen IKA Unhas Yusran Jusuf, substansi Rakor sejatinya adalah menyiapkan tanggal, menentukan lokasi Mubes, serta menetapkan ketua panitia.

Tiga hal ini sesungguhnya tidak membutuhkan proses pengoordinasian panjang, melainkan cukup disosialisasikan sebagai keputusan yang telah dibuat. Namun poin yang ingin penulis tekankan justru terletak pada betapa ciamiknya fungsi orang per orang dalam kegiatan bernama Rapat Koordinasi ini untuk sampai pada satu keputusan krusial, adanya satu nama menuju Mubes 2026.

Saat sambutan Ketua Umum IKA Unhas Andi Amran Sulaiman berlangsung, meski mengaku tak tertarik lagi jadi ketua, siap sebagai pembina, dan jika ada ketua terpilih sebaiknya dari proses aklamasi – terlihat jelas siapa yang wara-wiri menyiapkan paparan, berdiri di dekat operator, mengatur ritme slide—mana yang dipercepat, ditahan, atau ditampilkan ulang—hingga siapa di balik foto-foto paparan Ketum yang tampil memikat.

Sosok-sosok seperti Muhammad Ramli Rahim – meskipun penulis tidak melihatnya tadi, Salahuddin Alam, hingga visual-visual indah Tumbak Kayu Bangkoa di paparan Ketum meninggalkan kesan tersendiri.

Sementara dari sisi keterampilan memandu proses Rakor, fasilitasi pengambilan keputusan diperankan dengan sangat baik oleh Rahman Pina.  Ini menuntut kemampuan berpikir kritis, sistemik, serta kepekaan membaca gelagat audiens.

Ia “merestui” dengan tepat ketika pembicara pertama Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin yang menyuratkan harapan agar Andi Amran mestinya oppo.

Lalu IAS Ilham Arief Sirajuddin, Ketua IKA Pertanian yang akan mengakhiri masa tugasnya bulan ini. Aco menyatakan, meski Ketum mungkin tak lagi ingin maju, yang terpenting para alumni masih menghendaki figur yang sama untuk kembali memimpin, secara tunggal.

Nama-nama lain pun menyusul: Isradi Zainal (IKA Wilayah Kaltim) yang lugas meminta Andi Amran tetap maju; Muhammad Sapri Pamulu (Ikatek UH) yang lebih moderat dengan menyebut perlunya konsultasi internal; Ketua IKA FISIP Unhas Andi Fahsar Padjalangi yang secara gamblang menyatakan dukungan; hingga perwakilan IKA Wilayah Sulawesi Utara yang dengan diksi tegas meminta Andi Amran kembali maju.

“Sulawesi Utara menandai empat penjuru mata angin ingin Ketua kita maju lagi,” kurang lebih demikian pernyataannya. Azri Rasul, dari IKA FKM juga ikut bicara hanya saja kurang tertangkap poin utama sebab peserta pun terdengar riuh.

Di luar ruangan, usai berfoto bersama Kadis Iccang Takalar, Ilham Arief Sirajuddin, Aslan Demokrat, dan Andi Irwan Patawari, penulis sempat menyampaikan kepada IAS kesan bahwa Rakor tersebut seolah hanya membuka ruang bagi satu nama untuk direkomendasikan sebagai calon Ketua Umum IKA Unhas.

“Luar biasa fasilitasi Rahman Pina. Saat kita bicara, rasanya seperti membuka tiga penjuru mata angin di Sulawesi untuk kembali mendukung Andi Amran,” ujar penulis di Café Four Points.

 Hasil Rakor memang sudah diketahui: lokasi, tanggal, dan ketua panitia Mubes IKA Unhas Mei 2026. Jika ada minusnya, itu adalah terbatasnya menuver mikrofon berpindah dari satu meja ke meja lainnya.

Bagi penulis, keputusan yang tampak sederhana itu sesungguhnya memiliki efek berantai terhadap reputasi organisasi, partisipasi alumni, serta relasi dengan universitas dan mitra eksternal—termasuk keputusan untuk mengusung satu nama sebagai calon Ketua Umum.

Pada akhirnya, seni pengambilan keputusan dalam Rakor IKA Unhas ditentukan oleh kemampuan mengelola emosi dan menutup satu siklus organisasi yang telah berjalan selama empat tahun—apa pun hasil dan dampaknya.

Di forum ini, terlihat jelas siapa melakukan apa, dan bagaimana hasil Rakor itu diproduksi.

___

Hasil Rapat Koordinasi IKA Unhas
Jumat, 2 Januari 2026
Hotel Four Points Makassar

  1. Musyawarah Besar (Mubes) IKA Unhas disepakati akan dilaksanakan pada Senin, 27 April 2026 di Makassar.

  2. Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) IKA Unhas, Andi Amran Sulaiman (AAS), pada awalnya menyampaikan keengganan untuk kembali maju. Namun seluruh peserta Rakor—yang juga merupakan peserta Mubes—secara bulat meminta agar AAS diajukan kembali sebagai calon tunggal Ketua Umum IKA Unhas Periode 2026–2030. Dengan demikian, pemilihan Ketua Umum pada Mubes mendatang direncanakan berlangsung secara aklamasi, menunggu pengesahan resmi dalam forum Mubes.

  3. Panitia Mubes IKA Unhas ditetapkan sebagai berikut:

    • Ketua: Muh. Ramli Rahim (Fakultas MIPA)

    • Sekretaris: Irwan Ade (Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik)

  4. Rakor juga menyepakati penyelenggaraan kegiatan Bakti Sosial (Baksos) yang direncanakan berlangsung di Makassar sekitar bulan Ramadan, dengan melibatkan perwakilan dari setiap fakultas. Untuk kegiatan ini ditunjuk:

    • Ketua Panitia: Andi Fahsar Padjalangi

    • Bendahara: A. Idris Manggabarani
      Pada kesempatan Rakor tersebut, Ketua Umum PP IKA Unhas, Andi Amran Sulaiman, menyerahkan dana kegiatan sebesar Rp1 miliar untuk mendukung pelaksanaan Baksos.

  5. Pada malam hari, peserta Rapat Koordinasi diundang untuk makan malam bersama di kediaman Andi Amran Sulaiman, dan keesokan harinya, Sabtu pagi, dijadwalkan kegiatan ramah tamah lanjutan di kebun milik beliau.

___
Denun, Kopizone, 2 Januari 2026