Edukasi Kesehatan sebagai Upaya Membangun Kesehatan Masyarakat Pesisir di Bonto Manai, Pangkep

  • Whatsapp
Berbagai kegiatan edukasi kesehatan di Bonto Manai telah dilakukan, salah satunya oleh mahasiswa magang dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin (FKM UH), Dian Tri Hapsari. Edukasi yang diberikan mencakup pangan dan gizi sebagai upaya mendukung kesehatan dan mencegah penyakit.

PELAKITA.ID – Di wilayah pesisir, kesehatan sering menjadi isu yang tidak terlihat namun sangat dirasakan. Hal ini juga berlaku bagi masyarakat di Bonto Manai, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), yang hidup berdampingan dengan laut sebagai sumber penghidupan utama.

Aktivitas melaut, bertambak, dan berkebun, ditambah paparan cuaca ekstrem serta keterbatasan akses layanan kesehatan, membuat edukasi kesehatan menjadi kebutuhan mendesak—meskipun belum selalu disadari oleh masyarakat. Pertanyaannya: apakah masyarakat pesisir sudah memiliki pengetahuan cukup untuk menjaga kesehatannya?

Setiap hari, para nelayan, petambak, dan petani di Bonto Manai menghabiskan waktu berjam-jam di laut. Terkadang mereka melewatkan jam makan, kurang minum, atau kembali dalam kondisi tubuh yang kelelahan.

Situasi ini diperparah dengan kebiasaan sebagian masyarakat yang masih mengabaikan penggunaan alat pelindung diri saat bekerja.

Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya edukasi kesehatan untuk meningkatkan kesadaran tentang pola hidup sehat, pengelolaan stres, dan pencegahan penyakit. Tanpa pemahaman yang memadai, risiko gangguan kesehatan fisik dan mental dapat meningkat.

Dalam konteks wilayah pesisir, edukasi kesehatan tidak hanya memberikan informasi, tetapi juga membangun kesadaran masyarakat. Banyak masalah kesehatan muncul bukan semata akibat beratnya pekerjaan, tetapi karena kurangnya pengetahuan tentang cara menjaga diri sendiri.

Menurut Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, kesadaran dan pengetahuan terkait kesehatan dapat ditingkatkan melalui kegiatan promosi kesehatan. Edukasi yang tepat dapat meningkatkan pengetahuan, sikap, dan keterampilan masyarakat dalam menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat.

Berbagai kegiatan edukasi kesehatan di Bonto Manai telah dilakukan, salah satunya oleh mahasiswa magang dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin (FKM UH), Dian Tri Hapsari. Edukasi yang diberikan mencakup pangan dan gizi sebagai upaya mendukung kesehatan dan mencegah penyakit.

Pada 19 Oktober 2025, dilakukan penyuluhan tentang pemanfaatan pekarangan rumah sebagai sumber pangan sehat serta edukasi gizi seimbang melalui pendekatan “Isi Piringku”.

Selanjutnya, pada 26 Oktober 2026, dilaksanakan edukasi kesehatan yang berfokus pada Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), termasuk Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) serta Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS).

‘Kedua kegiatan ini menyasar ibu-ibu Sekolah Lapang Permakultur Bonto Manai, kelompok yang memiliki peran besar dalam menjaga kesehatan keluarga. Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan pemahaman, tetapi juga membantu keluarga pesisir memenuhi kebutuhan gizi secara mandiri dan berkelanjutan.

Berbagai lembaga sosial dan kelompok peduli pesisir kini semakin aktif menyelenggarakan penyuluhan kesehatan, salah satunya Yayasan Hutan Biru (YHB) Provinsi Sulawesi Selatan.

YHB berkolaborasi dengan mahasiswa magang FKM UH untuk memberikan edukasi terkait kesehatan.

Salah satu peserta Sekolah Lapang Permakultur, Sartika (31), mengungkapkan, “Saya menjadi lebih paham tentang porsi makanan yang harus kita makan dan kegiatan sehari-hari yang perlu diperhatikan agar kesehatan tetap terjaga. Saya juga baru mengetahui tata cara mencuci tangan yang baik dan benar.”

Masyarakat pesisir Bonto Manai memiliki ketahanan yang baik, tetapi tanpa kesadaran menjaga kesehatan, produktivitas mereka bisa menurun.

Oleh karena itu, edukasi kesehatan mengenai pangan, gizi, dan PHBS menjadi pilar penting yang harus terus diperkuat. Dengan pengetahuan yang tepat, masyarakat dapat lebih mandiri dalam menjaga kesehatan, mencegah penyakit, dan mengelola stres.

Pada akhirnya, membangun masyarakat pesisir yang sehat membutuhkan kolaborasi berkelanjutan antara pemerintah, organisasi sosial, tenaga kesehatan, dan masyarakat itu sendiri.

Edukasi kesehatan bukan sekadar penyuluhan, melainkan investasi jangka panjang yang akan membentuk generasi pesisir yang lebih kuat, sadar kesehatan, dan mampu menghadapi tantangan lingkungan dengan lebih baik.

Penulis: Dian Tri Hapsari