DJPT KKP Siapkan e-Logbook Versi 3, Direktur SDI Paparkan Sejumlah Keunggulan

  • Whatsapp
Direktur Pengelolaan Sumber Daya Ikan DJPT KKP, Syahril Abdul Raup saat memaparkan keunggulan e-Logbook Versi 3 KKP di depan Menteri Kelautan dan Perikanan serta LSM mitra (dok: Pelakita.ID)

PELAKITA.ID – Kementerian Kelautan dan Perikanan Indonesia terus mendorong penggunaan teknologi dalam pengelolaan sumber daya ikan. Teknologi AI yang semakin luas penggunaannya kini juga diterapkan dalam pengelolaan perikanan.

E-logbook penangkapan ikan merupakan aplikasi digital untuk mencatat hasil tangkapan secara cepat, akurat, dan terintegrasi guna mendukung pengelolaan perikanan yang berkelanjutan.

Hal tersebut disampaikan oleh Direktur Pengelolaan Sumber Daya DJPT KKP, Syahril Abdul Raup di depan Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono, Dirjen Perikanan Tangkap Lotharia Latif dan Dirjen PSDKP Pung Purnomohadi pada acara pertemuan Menteri KKP dengan sejumlah LSM di Bali, Senin, 6 September 2025.

”Pada versi terbaru ini, banyak fitur dikembangkan untuk menjawab isu ketidakpatuhan nelayan dalam pelaporan data, seperti pelaporan jenis ikan yang ditangkap, lokasi penangkapan, serta isu lain seperti transhipment dan pendaratan di luar pelabuhan pangkalan,” jelas Syahril.

Menurutnya, aplikasi ini kini memiliki kemampuan identifikasi ikan. ”Saat ini kami bekerja sama dengan Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) sebagai mitra, dan sedang mengembangkan kemampuan mendeteksi 22 jenis ikan, dengan fokus pada spesies bernilai ekonomis tinggi seperti tuna, kakap, dan kerapu,” jelasnya.

Insyaallah, lanjut Syahril, dalam waktu dekat sistem ini sudah bisa mendeteksi jenis-jenis tersebut.

Selain itu, pada versi sebelumnya nelayan sering enggan menekan tombol input i-logbook sehingga data lokasi penangkapan tidak tercatat.

”Kini, sistem dilengkapi GPS otomatis yang aktif begitu kapal keluar dari pelabuhan. Setiap 20 menit data posisi kapal tersimpan di ponsel,” sebutnya.

”Jika di kapal ada starlink, maka posisinya bisa dipantau langsung. Contohnya di Bitung, sudah ada 100 kapal menggunakan starlink sehingga bisa kami awasi secara real-time. Dengan sistem ini, terutama pada kapal berizin daerah, seluruh aktivitas dapat dipantau,” terangnya.

Kemampuan lain dari aplikasi ini, ungkap Syahril adalah pencatatan hasil tangkapan secara otomatis.

”Ketika online, laporan ikan yang dimasukkan langsung terbaca dan terekam, termasuk jumlah ikan di palka, frekuensi setting, hingga hasil akhir di darat. Dengan i-logbook versi 3, nelayan tidak lagi bisa memanipulasi data tangkapan, misalnya menuliskan jenis ikan berbeda untuk menghindari PNBP,” kata dia.

Ditambahkan, lokasi penangkapan juga dapat diketahui secara akurat, sehingga kapal berizin daerah yang sebelumnya menyembunyikan lokasi kini bisa terpantau. Data awal ketidakpatuhan ini dapat digunakan sahbandar maupun pengawas sebagai bahan tindak lanjut.

Selain itu, ujar Syahril, aplikasi ini memungkinkan deteksi kecepatan kapal dan estimasi waktu kedatangannya di pelabuhan.

”Hal ini membantu pelabuhan menyiapkan tempat sandar sesuai jadwal kedatangan kapal. Tidak hanya itu, aplikasi juga mampu mendeteksi aktivitas di lokasi yang sama berulang kali sehingga diduga merupakan rumpon,” lanjutnya.

Disebutkan, data ini sangat berguna untuk mengetahui pola musim penangkapan.

Misalnya, pada bulan Juli–November terlihat aktivitas terkonsentrasi di Laut Arafura, dekat Saumlaki dan Dobo, sementara November–Maret di sekitar Merauke. Informasi ini dapat menjadi dasar pengaturan musim penutupan dan pembukaan sesuai arahan Ditjen.

”Khusus untuk kapal berizin daerah, solusi ini akan dikembangkan lebih lanjut. Kami akan berkoordinasi dengan sahbandar dan pengawas agar semua kapal berizin daerah dipasangi perangkat ini, sehingga seluruh pergerakan bisa dipantau,” lanjut pria yang akrab disapa Chalie itu.

”Dengan begitu, tata kelola perikanan tangkap di Indonesia dapat semakin transparan dan efektif,” kuncinya.

Redaksi